Aturan Baru Label di Australia, Eksportir Punya Waktu 2 Tahun

- 31/08/2016, 17:45
Di tengah menurunnya nilai ekspor Indonesia, kini para eksportir dihadapkan pada perubahan aturan baru tentang pelabelan di Australia. Pemerintah negeri Kanguru itu telah mengeluarkan peraturan baru terkait pelabelan keterangan asal pada kemasan makanan dan minuman yang dijual di Australia. Meski diberlakukan pada 1 Juli 2016 lalu, para eksportir masih punya waktu 2 (dua) tahun untuk menyesuaikan diri.

Peraturan baru ini berada di bawah Australian Consumer Law dengan nama Country of Origin Food Labelling Information Standard 2016. Peraturan tersebut merupakan perubahan dari standar yang berlaku sebelumnya, yaitu Australia New Zealand Food Standard (ANZFS).

Perlu disimak, peraturan baru ini hanya berlaku untuk produk makanan dan minuman yang diedarkan melalui penjualan retail di Australia. Beleid ini tidak berlaku untuk makanan yang dijual di kafe, restoran, outlet takeaway, maupun sekolah.

Pelabelan Bervariasi

Persyaratan mengenai pelabelan bervariasi, bergantung cara produksinya. Apabila suatu produk ditanam, diproduksi, atau diolah di Australia, maka kemasan produk tersebut harus memuat logo kanguru dalam segitiga. Selain itu, harus dimuat pula grafik batang terisi penuh jika keseluruhan bahan berasal dari Australia. Jika bahan secara keseluruhan tidak berasal dari Australia, maka wajib memuat grafik batang tidak terisi penuh. Hal itu mengindikasikan proporsi bahan-bahan yang berasal dari Australia terhadap keseluruhan kandungan produk (contoh: made in Australia from X% Australian ingredients). Jika suatu bahan berasal dari negara lain, dapat ditambahkan teks yang menjelaskan asal bahan tersebut.

Sementara itu, makanan yang ditanam, diproduksi, atau diolah di negara lain tapi dikemas di Australia, harus memuat label yang menunjukkan grafik batang kosong, yang mengindikasikan tidak ada bahan yang berasal dari Australia. Selain itu, di bawah grafik batang harus dicantumkan teks “packed in Australia”. Jika suatu produk dikemas menggunakan bahan campuran yang berasal dari Australia dan negara lain, grafik batang tidak terisi penuh dapat digunakan untuk menunjukkan persentase bahan dari produk tersebut yang berasal dari Australia (contoh: packed in Australia from X% Australian ingredients). Keterangan negara asal suatu bahan tertentu dapat ditambahkan jika bahan tersebut tidak berasal dari Australia.

Sementara itu, untuk produk yang tidak ditanam, diproduksi, diolah, maupun dikemas di Australia, dan berasal dari satu negara, harus mencantumkan keterangan asal produk tersebut serta tempat produk tersebut dikemas. Jika produk tersebut berasal dari lebih dari satu negara, hal tersebut harus disebutkan di kemasan dan mencantumkan negara tempat produk tersebut dikemas.
Produk-produk yang dikenakan aturan baru ini adalah yang termasuk ke dalam produk makanan “priority”, antara lain ikan tuna dalam kemasan, mie instan, pasta, dan agar-agar.
Sementara itu, produk makanan “non-priority” seperti bumbu, teh dan kopi, minuman beralkohol, biskuit dan makanan ringan, air minum dalam kemasan, minuman ringan dan minuman olahraga, serta kembang gula tidak dikenakan peraturan ini. “Produk-produk non-priority hanya bersifat sukarela. Hal ini dikarenakan konsumen Australia cenderung tidak menaruh perhatian lebih tentang keterangan asal untuk produk-produk tersebut,” ujar Dody.
Jika produk-produk “non-priority” ingin menggunakan label seperti logo, grafik batang, ataupun keduanya, ketentuan penggunaannya mengikuti aturan baru pelabelan sesuai dengan kategori produk tersebut.

Lakukan Penyesuaian

Direktur Pengamanan Perdagangan, Kementrian Perdagangan Pradnyawati menjelaskan dalam waktu dekat Pemerintah Australia akan meregistrasi dan mengesahkan perubahan-perubahan pada legislasi Australian Consumer Law, termasuk standardisasi informasi baru dalam pelabelan. Selain itu, Pemerintah Australia akan memfinalisasi materi panduan agar pelaku bisnis dapat mengetahui label digunakan. Sejumlah hal mulai difinalisasi seperti online tool, style guide, dan materi lainnya termasuk mempersiapkan contoh label yang dapat diunduh. Agar konsumen dan pelaku bisnis teredukasi, dilakukan kampanye dan sosialisasi secara nasional.
Perusahaan/Eksportir produk makananan dan minuman di Indonesia yang melakukan ekspor ke Australia melalui penjualan retail perlu menyesuaikan kemasan dan pelabelan produknya guna memenuhi peraturan baru tersebut.