GATEWAY CONTAINER LINE SEMARANG TARGET KENAIKAN PENDAPATAN 10% TAHUN 2018

Damas Jati - 03/12/2017, 15:58

Gateway Container Line (GCL) Cabang Semarang menargetkan kenaikan pendapatan sebesar 10% pada tahun 2018 seiring dengan gebrakannya pada tahun 2017 dengan memulai perluasan layanan consol impor rute Busan (Korea) Semarang dari sebelumnya yang lebih mengandalkan consol impor Singapura dan Hong Kong. 


Kepada sejumlah media baru-baru ini (Rabu 30 November) di Semarang, Arifin, Kepala Cabang Semarang Gateway Container Line mengungkapkan keyakinannya dalam merealisasikan terget tersebut, kendati sejumlah hal akan menjadi tantangan tersendiri. Dengan berpegang pada prinsip dan filosofi GCL serta strategi yang inovatif, Arifin sangat optimis mampu merealisasikan target tersebut. 


"Tahun 2018 akan menjadi tahun yang penuh tantangan. Kita akan menghadapi sejumlah event besar dan hari libur yang cukup banyak. Menjelang akhir tahun, misalnya, Hari Natal akan jatuh pada hari Senin.  Tahun Baru juga demikian, akan jatuh pada hari Senin yang disertai dengan cuti bersama dan liburan panjang sekolah," jelas Arifin. 


Event politik, seperti pemilihan kepala daerah (PILKADA) serentak serta event piala dunia juga akan menjadi tantangan juga yang menurut Arifin juga akan berpengaruh terhadap kegiatan bisnis. 


"Kegiatan trading dan forwarding melibatkan banyak pihak. Ada faktor eksternal yang kita tidak bisa kendalikan. Akan tetapi, dengan prinsip dan filosofi kerja keras, kerja cerdas, kerja iklas, dan kerja tuntas, serta strategi yang kreatif dan inovatif, kami yakin bisa mengatasi berbagai tantangan tersebut," jelasnya. 


Tantangan lain yang masih akan dihadapi adalah terkait dengan adanya trend bisnis online atau e-commerce. "Trend ini sudah merambah ke berbagai sektor terutama dalam aktivitas belanja yang online. Kami sebagai perusahaan yang terkait dengan jasa pengiriman tentu harus memiliki stategi yang tepat dan inovatif dalam mengantisipasi berbagai tantangan tersebut," jelasnya. 


Disamping sejumlah tantangan umum tersebut di atas, Arifin juga menggarisbawahi tantangan khusus yang dihadapi oleh para pelaku bisnis fowarding dan jasa pengiriman di Jawa Tengah. "Jawa tengah memiliki karakter tersendiri. Dia diapit oleh dua kawasan yang memiliki dua bandar udara besar dan dua pelabuhan besar. Di sebelah timur ada Bandar Udara Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak dan sebelah barat ada Soekarno Hatta dan Tanjung Priok. Kempatnya merupakan gerbang utama aktivitas perdagangan ekspor impor yang mana ada kecendrungan para pemilik barang lebih memilih keempatnya dalam bongkar muat barang. Sebagian barang dari Jawa Tengah lebih memilih keempatnya daripada di Pelabuhan Tanjung Emas atau Bandara Ahmad Yani," jelas Arifin. 


Apalagi, dibanding Jawa  Timur dan Jawa Barat yang memiliki industri yang variatif, industri Jawa Tengah lebih terbatas. "Di sini, komoditas dominannya adalah furniture serta produk UKM dan industri rumah tangga. Memang industri garmen dengan volume yang cukup besar juga ada. Akan tetapi, ekspor garmen bisanya menggunakan term of trade FOB (free on board) dimana buyer di luar negeri yang menentukan perusahaan pengirimannya."


Tantangan-tantangan ini, menurut Arifin, akan menjadi faktor kunci dalam memilih strategi .  "Tidak ada cara lain. Kita harus memiliki strategi yang kreatif dan inovatif," tegas Arifin dengan memberikan contoh bagaimana GCL semarang melakukan market development dengan melakukan market hingga ke pelosok-pelosok Jawa Tengah serta bagaimana mendorong indutri-industri menengah kecil untuk meningkatkan produksi sehingga bisa diekspor. 


"GCL siap memfasilitasi baik mencari buyer-nya di luar negeri ataupun mengurus izin dan dokumen ekspor bagi mereka yang menghadapi kesulitan dengan hal tersebut."


Subagyo, CEO Link Pasipik Group yang merupakan holding company GCL mengamini perlunya strategi yang inovatif dan kreatif sebagaimana yang dijelaskan Arifin. Namun, disamping kedua hal tersebut, Subagyo menggarisbawahi pentingnya peningkatan produktivitas (human productivity) dalam mencapai target tersebut. 


Subagyo yakin, target tersebut akan tercapai mengingat industri di Jawa Tengah sedang bertumbuh, menyusul berpindahnya sejumlah factory (pabrik) dari wilayah lain ke Jawa Tengah karena memiliki production cost yang lebih kompetitif. 


Apalagi, lanjut Subagyo, makro ekonomi 2018 cukup menjanjikan. 


Menurut data Kementrian Keuangan, target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 mencapai 5.4 persen dengan tingkat inflasi yang cukup stabil yakni 3.5%, serta nilai tukar rupiah yang juga cukup terjaga yakni Rp13.400/dollar. 


Product Development


Kendati kegiatan konsolidasi dengan menangani cargo-cargo LCL (less than container load) menjadi core bisnisnya sejalan dengan keberadaan GCL sebagai the leading consolidator di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah, Arifin menggaris bawahi, pada tahun 2018, GCL Semarang juga akan fokus mengurus kargo-kargo FCL (full container load). Hal tersebut dilakukan dengan bertumpu pada trend pertumbuhan kargo FCL pada selama 2 tahun terakhir. 


Menurut analisa trend laporan operasi GCL Semarang, pendapatan dari segment FCL tumbuh sangat pesat selama dua tahun terakhir. Pada tahun 2016, pendapatan operasi dari FCL tumbuh sebesar 588.73% dan pada tahun 2017 tumbuh lebih fantastis, mencapai 4257.83%


Tingkat pencapaian terhadap target tahunan hingga bulan Oktober, segment FCL sangat tinggi, mencapai 221% dari target, lebih tinggi dari tingkat pencapaian  segment consol, kendati secara nominal masih lebih rendah. 


"Memang secara nominal, masih lebih kecil dibanding profit dari cargo consol. Ya, karena core business kami memang di cargo consol. Akan tetapi, trend pertumbuhan FCL sangatlah menjanjikan. Ini tentu akan menjadi pertimbangan bagi kami dalam mengoptimalkan layanan FCL tahun depan (2018)," tegasnya.


Secara keseluruhan, hingga bulan Oktober, GCL Semarang sudah mencapai 91% dari target profit 2017. "Masih ada dua bulan lagi (November dan Desember). Kami sangat yakin target profit 2017 akan mencapai 100%. Mudah-mudahan lebih," kata Arifin, sambil menjelaskan  sejak dibuka pada tahun 2015, GCL Cabang Semarang selalu mencatat rapor biru (keuntungan). 


Sedangkan tingkat pencapaian tahunan, laba bersih tahun 2017 mencapai 134.45% dari laba tahun lalu (2016).