Presiden Jokowi: Atasi Tantangan Ekspor, Asosiasi Harus Sering Ketemu Pemerintah

- , 20/03/2017, 17:38

*

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui bahwa masih banyak tantangan-tantangan dan masalah-masalah yang perlu dicarikan solusi dan jalan keluar, terkait peningkatan ekspor produk industri Indonesia. Karena itu, Presiden mendukung pertemuan-pertemuan asosiasi dunia usaha dengan pemerintah.

“Semakin banyak kita bertemu, baik dari asosiasi dengan menteri-menteri maupun dengan saya, saya kira masalah itu akan bisa kita selesaikan dengan baik,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya saat membuka Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2017, di Ruang Semeru, Gedung Pusat Niaga, JI-Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (11/3).

Ditambahkan Presiden, tanpa adanya pertemuan terutama dengan pelaku-pelaku usaha, maka akan sulit mencari solusi-solusi untuk mengatasi tantangan-tantangan dalam meningkatkan ekspor produk industri Indonesia.

Perlu Dukungan Pemerintah
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto dalam laporannya mengatakan, industri atau produk mebel adalah kebutuhan primer yang universal dan dikonsumsi oleh semua pihak.

Menurut Soenoto, saat ini banyak pengusaha maupun pengrajin industri mebel, seperti di Bali, yang mendesain furnitur dari sampah-sampah laut, yang kemudian ditambah top table, yang kemudian diekspor dan menjadi devisa. Karena itu, Soenoto meminta dengan sangat, agar HIMKI bisa diberi akses untuk bisa berhubungan dengan seluruh kementerian.

“Di HIMKI mayoritas (anggotanya) adalah masyarakat UKM (Usaha Kecil dan Menengah). Oleh karena itu, di sana adalah sebuah sektor ekonomi yang sangat kuat dan liat yang merupakan bantalan ekonomi kita, yang tangguh, dan sudah selayaknya mendapatkan support yang sebesar-besarnya dari pemerintah,” kata Soenoto.
Ketua Umum HIMKI itu mengemukakan, bulan Mei mendatang pihaknya akan mendeklarasikan Mei sebagai bulan Mebel Indonesia. Untuk itu, ia mengimbau seluruh instansi pemerintah agar memberikan contoh untuk mengkonsumsi produk buatan Indonesia.

IFEX 2017 merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya dan akan digelar selama 4 (empat) hari hingga tanggal 14 Maret. Pameran ini diikuti oleh 429 peserta dan akan dihadiri 6 ribu pembeli atau buyers.

Turut mendampingi Presiden dalam acara ini Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf serta Ketua Umum HIMKI Soenoto.

Berbasis Lifestyle
Sedangkan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri furniture dan kerajinan merupakan sektor yang berbasis lifestyle (gaya hidup) masyarakat. Artinya, diperlukan inovasi desain produk yang mengikuti selera pasar terkini sehingga mampu bersaing dengan barang impor.

“Ada tiga faktor penting yang menentukan pengembangannya, yakni modal, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM). Untuk mengembangkan SDM, Kementerian Perindustrian memfasilitasi pengembangan pendidikan vokasi melalui pembangunan politeknik khusus furniture tahun ini di Semarang,” ujarnya.

Menperin menambahkan, supaya industri nasional ini kompetitif di pasar global, juga diarahkan untuk menghasilkan produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi, memanfaatkan sumber daya alam lokal, dan ramah lingkungan. “Indonesia punya banyak bahan bakunya dan kaya akan budaya. Ini menjadi potensi yang kuat bagi kita,” tegasnya.

Pemerintah mendukung penuh industri furnitur dan kerajinan yang merupakan salah satu sektor padat karya berorientasi ekspor dengan serapan lebih dari 500 ribu tenaga kerja di seluruh Indonesia. “Kami menargetkan nilai ekspor mebel tahun ini sebesar USD2 miliar dan pada tahun 2020 mencapai USD5 miliar. Tujuan ekspor utama Indonesia adalah AS, Jepang dan Eropa Barat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Airlangga, pihaknya mengusulkan sektor andalan ini mendapatkan pemotongan pajak penghasilan. Dalam waktu dekat, Kemenperin akan membahas dengan Kementerian Keuangan agar isentif ini terlaksana tahun 2017. “Investment allowance yang diwujudkan pada diskon PPh ini digunakan untuk ekspansi usaha, jadi lapangan kerja meningkat, bukan untuk deviden,” jelasnya.

This news does not have any tags yet.