​51 Who's Who Indonesian Seafarers: Para Pelaut yang Menginspirasi

Media Release - Jakarta, 15/08/2018, 15:14

*

Setelah Gita Arjakusuma menerbitkan memoar berjudul "Menyisir Badai", rasanya belum ada lagi buku-buku yang secara khusus mengupas tentang kehidupan pelaut. Buku "Menyisir Badai" menceritakan pengalaman Gita Arjakusuma menakhodai kapal layar Phinisi Nusantara dalam ekspedisi dari Jakarta ke Vancouver, Italia.


Buku ini menarik karena selain menceritakan tentang tantangan menghadapi badai dan angin topan selama di laut yang nyaris merenggut nyawanya, juga perjalanan hidup Gita yang tak ubahnya berada di tengah badai. Gita yang perwira di Angkatan Laut harus mundur dan memilih menjadi nakhoda karena sulitnya mengembangkan karir. Semua karena Gita dianggap "Tidak Bersih Lingkungan", sebuah stigma di era Orde Baru untuk anak keturunan para bekas eks tahanan politik. Tak peduli meskipun Gita  merupakan kerabat Muchtar Kusumaatmadja dan sahabat Laksamana Soedomo.


Pengalaman Gita selama mengarungi lautan, tentunya juga banyak dialami pelaut-pelaut yang lainnya. Salah satunya bisa kita baca dalam buku "51 Who's Who Indonesian Seafarers". Sebagaimana judulnya, buku yang sepintas menyajikan tokoh "Apa dan Siapa" ini, menampilkan banyak hal tentang pengalaman 51 orang pelaut yang hampir mewakili semua generasi: zaman old ke zaman now, yang sudah pensiun maupun yang masih berlayar.


Buku ini tidak hanya menyajikan succes story para pelaut, tapi juga inspirasi-inspirasi lainnya secara umum. Tak sedikit dari para pelaut itu pada mulanya dibesarkan dalam kehidupan yang sama sekali jauh dari kultur laut. Tapi hal itu tidak menjadi kendala hingga mereka menjadi pelaut yang berhasil menjalankan tugas dengan baik. 


Menarik pula membaca kisah para wanita pelaut yang berbagi cerita dan tips selama berlayar dan jauh dari keluarga. Profesi pelaut yang selama ini dikesankan tidak untuk kaum feminin, kenyataannya bisa juga dijalani kaum wanita. Bahkan dalam hal tertentu, kaum maskulin harus mengakui keunggulan para pelaut tersebut.


Atau dari sisi relijiusitas. Para pelaut itu justeru menjadi lebih relijius saat berada di tengah lautan. Merasakan diri teramat kecil dibandingkan ke-MahaKuasaan Tuhan yang sungguh luar biasa. Bahkan saat kapal nyaris tenggelam dan maut sudah di ambang mata, pertolongan Tuhan seperti datang tiba-tiba. 


Tak bisa juga dilepaskan kisah-kisah success story lainnya. Buku ini menghadirkan sejumlah nama yang tidak asing lagi dalam dunia transportasi dan logistik kita. Sebut saja, Anton Sihombing, Epyardi Asda, Nurdin Basirun, Widiardja Tanudjaya, Djoni Rahmat, Abdul Gani, dll. Atau kisah fenomenal Williang Sutjipto yang harus jatuh, terpuruk dan bangkit lagi membangun usaha pelayarannya hingga menjadi besar seperti sekarang ini. Begitu juga kisah-kisah wanita pelaut yang gigih dan tegar mengarungi lautan.


Yang juga tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan sosok-sosok dalam buku ini setelah berhenti menjadi pelaut. Mereka sukses membangun bisnis dan mempekerjakan banyak orang. Ada yang menjadi pengusaha transportasi, pengelola sekolah pelayaran, agen Harley Davidson, bahkan direksi BUMN. 


Semua keberhasilan dari sisi bisnis itu bermodalkan materi yang ditabung selama bertahun-tahun selama menjadi pelaut. Tidak mengherankan karena para pelaut itu --terutama mereka yang bekerja di kapal-kapal asing-- memiliki penghasilan puluhan juta rupiah setiap bulan. Kemampuan manajemen usaha ditambah modal yang sudah tersedia menjadikan bisnis mereka bisa terus berkembang.


Tentunya tak bisa diceritakan semua yang ada dalam buku ini. Sebagian ditulis dalam gaya reportase jurnalis, dan sebagian lagi ditulis dalam gaya tutur sang tokoh, menjadikan isi buku ini variatif. Tim penyusun buku juga tentunya memiliki pertimbangan tertentu menghadirkan 51 orang sosok pelaut dalam buku yang diterbitkan secara khusus DPP INSA.


Karena konten yang disajikannya, buku ini seharusnya tidak hanya berhenti di rak-rak toko buku. Tapi harus sudah menjangkau perpustakaan-perpustakaan sekolah SMA/SMK/Universitas di seluruh Indonesia.


Buku ini akan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi muda untuk mengalihkan pandangannya ke laut. Bahwa hidup dan penghidupan bukan semata di darat, lebih dari itu ada laut dengan peluang yang lebih menjanjikan. Terlebih lagi bagi Bangsa Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan.


Karena itu, upaya DPP INSA menghadirkan buku ini harus disambut secara estafet semua pihak yang peduli terhadap masa depan bangsa. Buku ini tidak boleh hanya selesai cetak dan distribusi atau jadi souvenir belaka, tapi harus jadi katalisator tumbuhnya  minat menjadi insan-insan pelaut dari gerbang-gerbang sekolah di Indonesia.


Kementerian Maritim, wabilkhusus Kementerian Perhubungan, berkoordinasi dgn kementerian terkait harus turun langsung meng-endorse pendistribusian buku-buku ini ke sekolah, mengagendakan meet and greet dengan tokoh-tokoh pelaut yang memiliki success story di sekolah-sekolah. Kementerian BUMN melalui perusahaan-perusahaan pengelola pelabuhan, logistik maupun pelayaran menyisihkan dana CSR untuk penerbitan buku ini. Pun, perusahaan-perusahaan pelayaran memiliki kewajiban yang sama untuk juga membantu penerbitan dan pendistribusiannya agar potensi-potensi pelaut yang bertebaran di seantero negeri bisa dioptimalkan. 


Buku ini menjadi langkah awal memotivasi generasi muda menjadi pelaut kebanggaan, menjaga kedaulatan dan juga membantu meningkatkan perekonomian bangsa. 


"Usahakanlah agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Ya, bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar menjadi jongos-jongos di kapal, bukan. Tetapi bangsa pelaut dalam arti kata cakrawala samudera.." (Pidato Bung Karno:1953)
 


Data Teknis Buku
Judul: 51 Who's Who Indonesian Seafarers
Penulis: Tularji Adji M
Editor: Widihardja Tanudjaja
Pengantar: Johnson W Sutjipto
Tebal: 358 + XXV
Edisi: Juli 2018
Penerbit: INSA

KF | OPINI | FORWAMI | CINTA JOURNALISM


This news does not have any tags yet.