Ditjen Hubla Usulkan 6 Distrik Navigasi Jadi BLU

Wilam Chon - Jakarta, 16/11/2018, 15:53

*

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Kementerian Perhubungan mengusulkan 6 Distrik Navigasi (Disnav) menjadi Badan Layanan Umum (BLU).


Ke-enam distrik navigasi yang diusulkan dan siap menjadi BLU meliputi: Distrik Navigasi Kelas I Tanjung Priok, Disnav Kelas I Tanjung Pinang, Disnav Kelas I Palembang, Disnav Kelas I Surabaya, Disnav Kelas I Samarinda, dan Disnav Kelas II Banjarmasin.


Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo mengungkapkan hal itu dalam pengarahan pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kenavigasian di Surabaya Jum'at (16/11/ 2018).


Salah satu pertimbangan usulan BLU kenavigasian yaitu untuk lebih meningkatkan pelayanan di bidang keselamatan pelayaran dan kemandirian dalam pembiayaan.


BLU juga dapat mengurangi beban pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang saat ini telah sarat untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur.


Dengan status BLU, layanan kenavigasian dapat menghasilkan pendanaan secara mandiri yang berasal dari stakeholder yang menggunakan  layanan kenavigasian, ujarnya.


“Dengan BLU kita dapat membiayai diri sendiri tanpa harus tergantung kepada APBN,” kata Dirjen Agus.


Agus mengatakan usulan ke-enam Disnav menjadi BLU sudah disampaikan kepada Menteri Perhubungan untuk diproses oleh Kementerian Keuangan.


“Menhub sudah menyetujui rencana BLU kenavigasian dan memerintahkan untuk melanjutkan prosesnya,” ujar Dirjen Agus.


Sementara itu, Direktur Kenavigasian, Basar Antonius mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa kali pertemuan termasuk dengan Kementerian Keuangan terkait rencana pembentukan BLU kenavigasian tersebut.


“Potensi 25 Distrik Navigasi yang tersebar di seluruh Indonesia sangat besar. Banyak aset navigasi yang dapat dioptimalkan untuk peningkatan pelayanan,” kata Basar.


Menurut Basar, saat ini banyak stakeholder yang membutuhkan jasa kenavigasian mengingat bila para stakeholder mengadakan jasa kenavigasian sendiri tentunya biaya yang ditimbulkan jauh lebih mahal.


“Selain pengaturan lalu lintas kapal, kami juga dapat memberikan layanan survei alur pelayaran, pemasangan dan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), salvage, dan pemanfaatan aset tanah serta yang lainnya,” ujar Basar.


Dia menegaskan, dari aspek teknologi dan SDM kenavigasian, Ditjen Perhubungan Laut sangat mumpuni dan telah teruji sangat baik.


“Kami memiliki teknologi kenavigasian yang mutakhir dan tenaga SDM yang berkualitas dan ahli di bidang tugasnya masing-masing, seperti penyelaman bawah air, survei alur, pemeliharaan buoy dan rambu/lampu suar, serta Vessel Traffic Service atau VTS,” tutup Basar. 


This news does not have any tags yet.