IFEX 2018 Ajang Promo Industri Furniture di Dunia

Eko Nugroho - , 09/03/2018, 15:00

*

Keterangan FOTO Atas : Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf 


Keterangan FOTO Bawah, saat Press Confrence (dari kiri ke kanan) : Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Pameran HIMKI, Djudjuk Aryati, Sekretaris Jendral HIMKI, Abdul Sobur, Ketua Umum HIMKI, Soenoto, dan Presiden Direktur PT.Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung






JAKARTA -- Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf dan Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Soenoto, resmi membuka IFEX 2018, ajang pameran untuk yang ke-5 kali ini, acara tersebut di sponsori oleh PT Dyandra Promosindo, pameran yang diselenggarakan dari tanggal 9 sampai dengan 12 Maret 2018 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, Jakarta (9/03).


Pameran mebel dan kerajinan ini bersifat B2B (business to business) terbesar di Indonesia dan kawasan regional tersebut, merupakan hasil kerjasama Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dengan Dyandra Promosindo.


 “Dyandra terus berkomitmen mendukung HIMKI dalam menyelenggarakan pameran furnitur berskala internasional ini. Kami juga telah melakukan evaluasi pada penyelenggaraan sebelumnya dan berusaha untuk terus meningkatkan kualitas dari penyelenggaraan IFEX 2018,” kata Daswar Marpaung, Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo.


Adapun nilai on the spot transaction yang berhasil dicatatkan pada pameran IFEX 2017 yang lalu mencapai senilai US$300 juta, dan follow-up transaction mencapai US$ 700 juta, sehingga total transaksi keseluruhan sesuai target yaitu US$ 1 milyar.


Menurut Soenoto, industri ini membutuhkan perhatian pemerintah dalam meningkatkan ekspor mabel dan kerajinan tangan ke luar negeri. Mengingat, industri ini merupakan salah satu industri padat karya yang mampu menyerap tenaga dalam jumlah besar.


"Sudah ada tiga kementerian yang membantu, karena industri furniture dan kerajinan ini sangat related dengan semua kementerian," tegasnya.


Pada kesempatan yang sama, Soenoto, juga menyebutkan pentingnya added-value bagi industri furnitur dan kerajinan Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya desain-desain baru dalam industri ini.


"Tanpa desain baru tidak akan ada produk baru yang bisa diproduksi dan dijual kepada konsumen dalam dan luar negeri,” ujar Soenoto.


Industri furnitur dan kerajinan Indonesia memiliki potensi besar untuk terus bertumbuh baik di pasar domestik maupun pasar global. Para pemain pun terus memperluas target pasar ekspor ke berbagai negara di dunia. Secara tradisional, pasar ekspor utama produk furnitur Indonesia adalah ke Amerika, Eropa dan China.


Saat ini, para pemain juga menargetkan pasar furnitur dan kerajinan di Afrika dan Timur Tengah, serta Rusia dan negara-negara lain di dunia.

Pemerintah sendiri menargetkan pasar ekspor produk furnitur dan kerajinan Indonesia pada 2018 bisa mencapai US$2 miliar dan pada 2019 nilainya ditargetkan mencapai US$2,5 miliar. Untuk merealisasikan target ini tentu dibutuhan dukungan dan kerjasama dari semua pihak yang terlibat baik dari sisi pemain industri, asosiasi dan pemerintah.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, HIMKI telah menjalin kerjasama dengan Dewan Bisnis Yordania Indonesia (IJBC) untuk membangun House of Indonesia (HoI) di Amman, Yordania.


Hal ini dilakukan untuk memperluas eksposur produk Indonesia ke pasar Timur Tengah dengan Yordania sebagai penghubung. Produk-produk yang ditampilkan akan dikurasi demi memastikan kualitasnya dan memastikan bahwa produk yang ditampilkan sesuai dengan selera pasar Timur Tengah


This news does not have any tags yet.