Kemacetan Akses Pelabuhan Priok Rugikan Pengusaha Angkutan, Importir dan Sopir Trailer

Wilam Chon - Jakarta, 27/05/2018, 12:37

*



Kemacetan parah jalur logistik  dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok  sebulan belakangan ini telah meresahkan asosiasi importir (GINSI), asosiasi pengusaha truk (Aptrindo) dan para sopir trailer.


Para sopir angkutan barang  dan beberapa pengusaha angkutan, Sabtu kemarin melakukan pertemuan untuk membahas kemacetan parah khususnya di Terminal New Priok Container Terminal One (NPCT1).


Moh Salim dari persaudaraan sopir trailer Indonesia mengatakan  dalam pertemuan disepakati mereka akan mengundang pihak NPCT1 agar duduk bersama  mencari solusi  untuk mengurai kemacetan di Gate In dan lapangan NPCT.1 yang rata rata harus antri  10 jam lebih.


"Kami para sopir harus nombok uang BBM akibat  macet. Karena uang operasional dari pengusaha angkutan sudah tetap segitu. Mau macet  atau tidak jatah BBM dari pengusaha tetap tidak ditambah, " tutur Salim yang juga anggota Serikat Buruh Transportadi Pelabuhan Indonesia (SBTPI).


Ketum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia  (Aptrindo)  Gemilang Tarigan dihubungi  terpisah mengatakan kemacetan akses ke NPCT.1 karena terminal terdebut sudah over capacity.


"Pimpinan Pelindo II Elvyn G Masassya  mestinya  mengatur kapasitas  terminal di bawah  BUMN tersebut secara seimbang sesuai  dengan daya dukung terminal tersebut," kata Tarigan.


Tarigan mengatakan akibat macet ini pengusaha angkutan sangat dirugikan karena ritase armada jadi turun.


Kemacetan akses Pelabuhan Tanjung Priok juga merugikan importir, kata Ketua BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI, Capt Subandi.


Subandi mendesak pihak terkait mencari  solusi untuk mengatasi kemacetan akses logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok termasuk di New Priok Container Terminal-One (NPCT-1).


 Subandi menegaskan  kondisi kemacetan akses logistik Priok itu telah menyebabkan kerugian bagi importir. Karena  barang/peti kemas terlambat tiba di gudang importir atau pabrik.


Kondisi ini selain mengganggu kelangsungan produksi bila  kargo impor  berupa bahan baku, juga membuat proses distribusi kargo konsumsi menjadi lama sampai ke konsumen.


Menanggapi ini Indonesian Maritime Logistic and Transportation Watch (IMLOW) mengusulkan agar dilakukan pengalihan layanan sementara  kapal dari NPCT-1 ke terminal peti kemas ekspor impor lainnya untuk mengurangi kepadatan.


Sekjen IMLOW, Achmad Ridwan Tento ungkapkan, kemacetan di jalur logistik pelabuhan Priok terjadi sudah lebih dari sebulan terakhir dan belakangan justru semakin "crowded". (wilam)


This news does not have any tags yet.