Ketum Fordeki: Sosok OP Tanjung Priok Harus Tegas & Komit Tegakkan Regulasi

Wilam Chon - Jakarta, 10/05/2018, 12:17

*Syamsul Hadi, Ketua Umum DPP Fordeki

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi diharapkan untuk menempatkan sosok pejabat yang tegas dan punya komitmen tinggi dalam menegakkan aturan untuk mengisi  jabatan Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok.


Hal itu diungkapkan Ketua Umum DPP Forum Pengusaha Depo Kontainer Indonesia (Fordeki), Syamsul Hadi dan Ketua Umum  DPW Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Widijanto saat dihubungi Indonesia Shipping Gazette secara terpisah, Rabu (9/5/2018).


Syamsul Hadi mengatakan sosok Kepala OP Tanjung Priok  dituntut bersikap tegas agar regulasi yang dikeluarkan Menhub seperti Peraturan Menteri (PM)  25/2017 bisa berjalan sebagaimana mestinya, sehingga dwelling time dapat diturunkan dan biaya logistik menjadi lebih murah.


"Tidak seperti selama ini PM 25/2017 tentang pemindahan barang (impor) yang melewati batas waktu penumpukan atau lebih dari 3 hari, tidak bisa dijalankan," tutur Syamsul Hadi yang diamini Widijanto.
.
Syamsul Hadi mengatakan  Menhub sendiri  seperti dikutip dalam pemberitaan media massa mengakui 30 persen kontainer mengendap lebih dari tiga hari di Pelabuhan Tanjung Priok. "Ini jelas bertentangan dengan PM 25/2017, " tambah Syamsul.


Syamsul  juga menampik pendapat sejumlah orang yang mengatakan biaya penumpukan di terminal petikemas lebih murah dibanding kalau relokasi ke Depo.


Syamsul Hadi memberikan perbandingan biaya penumpukan barang di terminal dan jika relokasi ke depo.  


> Misalnya barang 1x40" di kapal CMA CGM /001E,  tiba  3/11 /2017, SPPB pada  7/11/2017, keluar dari terminal 13/11/ 2017. 


> Biaya yang harus dibayar pemilik barang sebesar Rp. 9.044.100 dengan tarif dasar (TD) storage Rp. 54.400, lift-on lift-off (Lo/Lo) Rp. 281.300,  dan terkena penalti Rp. 4.896.000 dikeluarkan oleh pemilik barang pada hari ke 11 dihitung sejak kapal tiba. 


> Pemberlakuan tarif progresif terminal sbb:
penumpukan  hari-1: Free,  ke-2: 300% × TD,  hari ke-3: 600% × TD, dan hari ke-4: 900% × TD + finalti 200% × total biaya jika hari ke-3 setelah SPPB  barang belum dikeluarkan dari terminal.


Sementara, jika kontainer ukuran sama direlokasi ke depo pada hari ke-4 dan keluar dari depo  juga hari ke-11. Total biaya yang harus dibayar pemilik barang sebesar Rp. 3.047.200 meliputi biaya terminal dan biaya depo, dengan tarip depo: moving Rp. 950.000, storage Rp. 85.000 /hari, dan Lo/Lo Rp. 450.000. 


Dengan relokasi ke depo terjadi penghematan biaya yang dibayar  pemilik barang sebesar Rp. 6.046.900, kata Syamsul Hadi.


This news does not have any tags yet.