Meluruskan Persepsi, Membangun Kolaborasi

Media Release - KF G Ade, 12/04/2018, 16:38

*Narasumber pada Focus Group Discussion yang diselenggarakan Forwami bertajuk "Membedah Peran CFS Center dalam Menurunkan Biaya Logistik di Pelabuhan"

Dialog Forum Wartawan Maritim Indonesia (Forwami) dengan Dirut Pelindo II IPC, Elvyn G Masasya,  pekan lalu mencatat dua pesan penting. Pertama,  kolaborasi atau kerja sama yang sinergis antara Pelindo II dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) di pelabuhan. Transparansi informasi yang dilakukan Pelindo II menjadi bagian penting upaya membangun kolaborasi tersebut. Kedua,   hadirnya informasi yang mencerahkan (energizing) dalam mendorong peningkatan layanan pelabuhan maupun sektor logistik lainnya.


Dalam perbendaharaan kata, kolaborasi tentu bukan istilah baru. Bahkan di era digital saat ini,  istilah kolaborasi makin populer. Tengok saja startup bisnis yang kini kian menjamur. Tanpa perlu punya armada motor atau mobil, perusahaan pengelola aplikasi online sudah bisa menggerakkan bisnis transportasi dengan valuasi triliunan rupiah. Tanpa perlu membangun hotel atau homestay, sebuah perusahaan aplikasi bisa mengolah bisnis beromset miliaran rupiah per bulan. Bandingkan dengan pola bisnis konvensional yang harus investasi banyak uang untuk memulai mengembangkan usaha.


Ini era memang sudah berbeda. Era zaman now yang hampir seluruh kendali dipegang generasi milenial. Generasi yang rewel untuk urusan pelayanan publik, peka terhadap isu sosial politik, tapi juga bisa narsis habis di media sosial. Generasi yang hobi makan di resto fast food, tapi tidak canggung makan pecel lele pinggir jalan. 


Generasi yang royal membelanjakan uangnya untuk memilih destinasi wisata instagramable plus holiday experience, sekaligus paham fungsi uang untuk investasi properti, saham dan reksa dana.


Lalu apa kaitannya kolaborasi, generasi milenial dan layanan pelabuhan? Kata kunci ketiganya: Perubahan! Bahwa suka atau tidak suka, perubahan di era digital merupakan sebuah keniscayaan. Agar bisa tetap survive, kolaborasi bisa menjadi pilihan.


Saat ini, pelabuhan-pelabuhan di seluruh dunia tengah mengarah ke digital. Bahkan sejumlah pelabuhan sudah mengaplikasikan 100% teknologi digital. Kapal-kapal makin besar dan dilengkapi peralatan digital yang canggih. Teknologi kapal tanpa nakhoda terus diujicoba. Sistem tracking kontainer dalam kapal di lautan lepas bisa dengan mudah memantau posisi kontainer, kondisi barang, hingga suhu ruangan. 


Maka tawaran Pelindo II kepada para stakeholders untuk membangun kolaborasi sejatinya jawaban terhadap perubahan yang demikian cepat di era digital saat ini. Dalam konteks itu pula, agenda Focus Group Discussion (FGD) Forwami bertajuk "Membedah Peran CFS Center dalam Menurunkan Biaya Logistik di Pelabuhan", Rabu (11/4) kemarin, di Sunlake Hotel, Sunter Jakarta Utara, sejatinya merupakan inisiasi membangun kolaborasi sekaligus menghadirkan informasi yang meng-energize tersebut.


Pelindo II sebagai penyedia CFS Center menawarkan fasilitas tersebut untuk digunakan para pelaku usaha. ALFI sebagai asosiasi para forwarder tidak mempersoalkan kehadiran CFS Center sepanjang tetap dalam koridor bisnis yang fair. Termasuk tidak perlunya regulasi yang akan terkesan 'memproteksi' CFS Center. INSA mengusulkan agar tarif CFS Center bisa kompetitif, sistem booking yg bisa dilakukan secara online serta one stop solution dalam order pengiriman barang kepada pemilik setelah proses custom selesai. Dari pengelola TPS di luar pelabuhan menghendaki adanya sistem yang terintegrasi secara online.


Ikatan Eksportir Importir Indonesia (IEI) mengusulkan adanya tarif baku TPS sebagai panduan importir dalam melakukan kalkulasi biaya. Selain itu, perlunya Pusat Logistik Berikat (PLB) di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok yang sampai sekarang masih terbatas jumlahnya. IEI juga mengusulkan agar ada counter perwakilan forwarder/shipping line di pelabuhan seperti halnya perwakilan airliner di bandara.


Dari pihak regulator, Bea Cukai menyebutkan CFS Center sama dan sebangun dengan TPS. Karena itu, tak ada perlakuan yang berbeda antara CFS dengan TPS. Sedangkan sesuai dgn tupoksi dalam UU No 17/2008 tentang Pelayaran, Otoritas Pelabuhan akan terus mendorong semua fasilitas di pelabuhan mendukung kelancaran arus barang. 


Terhadap  keluhan yang muncul dari pengguna jasa, pihak Bea Cukai dan Otoritas Pelabuhan sepakat akan menindaklanjuti sepanjang disertai dengan data-data yang valid. Hal yang sama juga diungkapkan ALFI yang akan menindak tegas anggotanya jika memang benar-benar terbukti merugikan pengguna jasa.


Muara dari semua pernyataan itu adalah keinginan untuk melakukan aktivitas bisnis yang fair, transparan dan efisien. Karena itu, catatan tambahan lainnya yang juga penting adalah peran asosiasi atau wadah organisasi pengusaha yang makin signifikan. Asosiasi tidak hanya melindungi kepentingan anggota, tapi juga memberikan rasa aman kepada mitra pengguna jasa. 


Pemilik barang merasa nyaman menggunakan truk milik anggota Aptrindo karena identitasnya jelas. Begitu pun importir merasa nyaman bermitra dengan anggota ALFI ketimbang forwarder yang tidak jelas afiliasinya. Begitu juga dengan  INSA, APBMI serta organisasi-organisasi lainnya yang juga memerankan perlindungan terhadap anggota dan juga mitra pengguna jasa. Tidak sebatas membangun kolaborasi, tapi juga meluruskan persepsi agar menjadi semakin baik.


Melalui kegiatan diskusi kemarin, Forwami menjadi pihak yang kesekian kali menginisiasi diskusi dalam membangun tradisi kolaborasi di antara para pelaku bisnis di pelabuhan.  Sebuah tradisi yang mungkin tidak sama sekali baru, tapi justeru menjadi kata kunci agar bisnis bisa tetap survive di era digital saat ini. 


Semoga saja demikian.


Ditulis oleh: KF - FORWAMI - shippingforum.co.id 


This news does not have any tags yet.