MoU dengan BNN, IPC Tegaskan 'Zero Tolerance' terhadap Narkoba

Wilam Chon - Jakarta, 31/05/2018, 14:04

*


PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC Pelindo II menyatakan komitmen bersih dari narkoba baik area perusahaan maupun lingkungan pelabuhan.


Hal tersebut ditegaskan Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masassya dalam acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Pelindo II dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), di Kanror Pusat Pelindo II,
 Kamis (31/5/2018).


MoU yang disepakati  terkait dengan upaya  pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.


Nota kesepahaman tersebut ditandatangani Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G Masasya, dan  Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko.


Dalam kesempatan itu  ditandatangani pula Perjanjian Kerja Sama penyebarluasan informasi narkoba oleh Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum (Dirsum) Pelindo II, Rizal Ariansyah, dengan para deputi BNN.


Acara tersebut dihadiri para General Manager dari 12 cabang pelabuhan,  direksi  anak perusahaan Pelindo II. Sedangkan dari BNN, ikut hadir para deputi serta Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) dari 12 provinsi.
Dalam sambutannya Elvyn mengatakan IPC Pelindo II sangat mendukung upaya pencegahan serta pemberantasan narkoba. Apalagi di lingkungan pelabuhan yang menjadi tempat pergerakan arus barang.


Dengan MoU tersebut, kata Elvyn,  diharapkan penyebaran dan penyalahgunaan narkoba bisa diantisipasi.


Elvyn juga berharap MoU yang ditandatangani kedua belah pihak bisa berjalan secara efektif.


"Pelindo II sudah mencanangkan 'zerro tolerance' terhadap gratifikasi, hari ini kita MoU dengan BNN sebagai komitmen 'zerro tolerance' terhadap narkoba," katanya seraya menambahkan pentingnya sosialisasi tentang bahaya peredaran narkoba kepada semua stakeholders di pelabuhan.


Sementara itu, Kepala BNN, Komjen Pol Heru Winarko mengatakan pihaknya terus menjalin kerja sama dengan semua pihak dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba.


Upaya ini dilakukan mengingat narkoba tidak kalah berbahayanya dengan korupsi maupun teroris. Kesepahaman antara Pelindo II dan BNN juga dianggap strategis karena selama ini penyelundupan barang haram tersebut banyak melalui laut.


Selain itu, dampak dari penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba telah merugikan bangsa baik secara ekonomi maupun sosial. Heru menyebutkan setiap hari rata-rata 30 orang meninggal dunia di Indonesia akibat narkoba.


Pusat Laboratorium Narkotika milik BNN yang merupakan terbesar di ASEAN mendeteksi semakin banyaknya varian narkoba dalam berbagai bentuk.


Sindikat narkoba internasional juga semakin lincah mengelabui petugas termasuk melakukan praktek money laundering dari hasil kejahatan peredaran haram narkoba.


"Tahun 2017 lalu kita berhasil menggulung 23 sindikat narkoba, tahun ini kita targetkan 26," ungkap Heru Winarko yang juga mengucapkan terima kasih terhadap komitmen Pelindo II dalam mendukung BNN memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (wilam)


This news does not have any tags yet.