Patimban: 99 Km dari Kawasan

Media Release - Jakarta, 02/08/2018, 10:47

*

Saya tidak tahu akurasi Google Maps dalam mengukur jarak. Tapi karena belum tahu aplikasi yang lain sebagai perbandingan, hasil ukur jarak Google Maps itulah yang digunakan. 


Di Google Maps, saya memasukkan salah satu Kawasan Industri di Karawang sebagai titik awal, dan Patimban sebagai titik akhir. Hasilnya, muncul angka 99 Km. 


Saya coba lagi dengan memasukkan Kawasan Industri Jababeka sebagai titik awal dan Patimban sebagai titik akhir, hasilnya jarak 107 Km. Jika diukur dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Patimban, jaraknya 147 Km.


Selanjutnya saya ubah titik akhir menjadi Pelabuhan Tanjung Priok. Hasilnya, dari Kawasan Industri di Karawang ke Pelabuhan Priok 63 Km. Sedangkan Jababeka ke Pelabuhan Priok hanya 50 Km.


Mengapa Kawasan Industri Karawang dan Cikarang yang dijadikan 'sampling' mengukur jarak Patimban dan Tanjung Priok?


Pertama, hampir 70% kawasan industri berada di timur Jakarta. Terbesar di Cikarang dan Karawang, selebihnya Subang dan Purwakarta. Ambil contoh, industri otomotif. Pabrik mobil Toyota, Daihatsu, Honda itu di Karawang. Sedangkan Mitsubishi dan Suzuki di Cikarang. Mercedez Benz di Bogor. Itu artinya, kalau bicara volume barang, Karawang Cikarang penyumbang terbesar untuk  kargo pelabuhan. Sedangkan selatan dan barat hanya sekitar 30%.


Kedua, Pelabuhan Patimban yang konon kabarnya Agustus tahun ini akan dimulai pembangunannya disebut-sebut menjadi ancaman bagi Pelabuhan Tanjung Priok. Karena sama-sama berlokasi di Jawa Barat, banyak yang menganggap kawasan-kawasan industri tersebut akan mengalihkan pengiriman barangnya melalui Patimban. 


Padahal, jika dilihat dari jarak, kawasan-kawasan industri itu ternyata lebih dekat ke Tanjung Priok daripada ke Patimban. 


Tapi kalau bicara kemacetan yang bikin pantat pegal amat sangat, Tanjung Priok memang jagonya. 


Itu pun terjawab jika jalan tol Cilincing Cibitung benar-benar bisa beroperasi di tahun 2019. Lebih bagus lagi jika tol itu memang benar-benar menjadi truck way alias  khusus untuk truk yang mengangkut barang dari pelabuhan ke kawasan industri. Waktu tempuh tentu akan lebih cepat lagi. Apalagi jika prasarana transportasi publik seperti jalur LRT dan layang tol Jakarta Cikampek selesai semua di tahun 2019, harapan Jakarta Cikampek bisa ditempuh paling lama 2 jam bisa jadi kenyataan.


Jangan bayangkan akses ke Patimban tanpa kemacetan. Coba saja dari Jakarta keluar pintu tol Cikampek ke arah Simpang Jomin. Mulai tersendat karena jalur bercabang, menuju Pasar Cikampek dan pintu perlintasan kereta api serta arah fly over. Kalau terjebak macet di situ padat merayap pengen nangis alias pamer..ah sudahlah. 


Lolos dari situ masih bertemu lagi kepadatan di fly over Simpang Jomin, masuk jalur Pantura, potensi macet karena lalu lintas orang menyeberang, pasar pinggir jalan, dan angkutan umum yang ngetem. Jatisari,  Ciasem, Sukamandi,  Pamanukan, Patokbeusi, Pusakanagara, Patimban. Mohon maklum, dulu saya calo bis di sini. :D


Kalau begitu tidak usah lewat Pantura, tol Cipali saja. Coba tanya Google Maps, jarak dari pintu tol Cikopo (akhir tol Jakarta Cikampek) ke Patimban. Hasilnya, 55 Km. Hampir setara jarak Jababeka ke Pelabuhan Priok. Itu artinya, dari Kawasan industri di Karawang masuk tol Cipali saja jaraknya 44 km.


Sekali lagi, jika angka-angka jarak itu benar, kecemasan meredupnya Tanjung Priok sebenarnya berlebihan. Meski demikian, kecemasan itu akan menjadi kenyataan jika persoalan klasik soal akses menuju pelabuhan tidak pernah ada solusinya. 


Pelabuhan Patimban akan menjadi ancaman nyata jika pabrik-pabrik di Karawang dan Cikarang melakukan relokasi ke kawasan yg dekat dengan Patimban. Pertama, demi mengurangi waktu tempuh. Kedua, upah buruh yang lebih murah. Saat ini upah buruh di Karawang merupakan yang tertinggi di Indonesia. Subang --Patimban termasuk di dalamnya-- upah masih lebih rendah dari Karawang atau Bekasi, Jakarta.


Kalau itu, jelas strategi bisnis perusahaan. Bukan kompetisi antarpelabuhan. Apalagi jika dilihat dari sisi draft antara Patimban dan Tanjung Priok yang tak jauh berbeda.


Alhasil, sepanjang tidak terjadi relokasi pabrik serta lalu lintas menuju Pelabuhan Priok sesuai skenario (Tol Cilincing Cibitung beroperasi, tarif tol akses pelabuhan turun, depo dan garasi tidak menumpuk di jalan Cacing, serta waterway CBL selesai), Pelabuhan Priok masih tetap optimis tak tersaingi. Apalagi jika rekayasa lalu lintas bisa lebih dioptimalkan lagi.


Tentu saja, paparan tersebut hanya sebatas hitung-hitungan angka kasat mata belaka. Kebijakan tarif, policy korporasi, investasi alat, SDM dan lain-lain yang boleh jadi justeru lebih dominan dalam keputusan memindahkan lokasi bongkar muat, masih dikesampingkan.


Tapi sepanjang business as usual, semua sepertinya akan berjalan normal-normal saja. Harapannya sih begitu.*


KF | OPINI | FORWAMI | CINTA JOURNALISM


Related News

Patimban: 99 Km dari Kawasan

Aug 02, 2018