Supply Chain Digitizing Platform in Industry 4.0

Media Release - Jakarta, 09/04/2018, 15:10

*Press Conference 2nd CEMAT SOUTHEAST ASIA, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck 2018

Perkembangan penyerapan teknologi digital, komunikasi dan informasi (ICT) di Indonesia yang begitu cepat dalam satu dekade ini, menciptakan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial di kawasan ASEAN untuk pusat pengembangan dan percontohan sector e-commerce dan derivatifnya. Hal tersebut menciptakan terbentuknya “kreatifitas kebutuhan (Demand Creation)” dari generasi milenial sehingga tercipta penggerak (trigger) ekonomi berbasis digital, yang antara lain kita kenal sebagai, financial technology, payment gateways, digital market place dan on line store, yang semuanya mengandalkan kecepatan, big data, transparansi serta internet of thing (IoT).


Seperti kita ketahui bersama bahwa penggerak ekonomi Indonesia terbesar adalah dari Consumer Spending, sebesar 4.3% atau 55% kontribusinya terhadap perkembangan Produk Domestik Bruto (GDP) (data dari World Bank dan AT.Kearney). Dan di sela-sela kerja keras pemerintah untuk membangun infrastruktur fisik guna menurunkan biaya rantai pasok dan logistics (Supply Chain and Logistics Cost), yang 25% terhadap GDP (Laporan World Bank). yang masih butuh waktu untuk berdampak pada harga produk, maka secara pararel, percepatan perkembangan industri yang sudah ada ini harus disiasati dengan melibatkan teknologi tinggi (advance technology) dalam prosesnya yang sekarang dikenal dengan era Industri 4.0 dimana saat ini Pemerintah juga sedang menyusun Peta Jalan (Road Map) nya.


Adapula data riset yang mengungkapkan bahwa industri logistik Indonesia diperkirakan akan berkembang 15,4 persen pada 2020 ( sumber : Frost & Sullivan), dan hal yang mendorong pertumbuhannya termasuk dari sektor konekvitas perdagangan maritim yang semakin membaik dikarenakan lokasi geografi yang strategis untuk perdagangan dunia, serta meningkatnya perdagangan berbasis e-commerce.


Dengan demikian tantangan jangka pendek berikutnya adalah mempersiapkan Rantai Pasok , Internal serta eksternal Logistik (Supply Chain and Logistics) pendukung era Industri 4.0, guna memenuhi kecepatan “kebutuhan” (Demand) tersebut. Atau yang saat ini dikenal sebagai Supply Chain and Logistics 4.0. Kehadiran era ke 4 tersebut sulit terhindarkan dan Indonesia harus segera beradaptasi terhadap teknologi ikutannya. Serta telah terbukti bahwa Supply chain & Logistics management 4.0 membuat disrupsi teknologi yang begitu cepat dan menjadikan perusahaan-perusahaan yang ada, harus keluar dari zona nyaman. Sehingga tindak lanjutnya adalah kesiapan adaptasi terhadap teknologi baru, di mana manusia akan lebih mengoptimalkan fungsi intelegensi strategis dan dibantu intelegansi artifisial (Artificial Intelligent/AI), serba internet (Internet of Thing/IoT) untuk mendapatkan skala produksi yang tinggi (Scale Up) serta memenuhi peningkatan efisiensi yang eksponensial.


Berangkat dari hal tersebut diatas, maka Deutsche Messe dan Debindo Bersama dengan mitra strategis Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), dan Asosiasi Pengusahan Truk Indonesia (APTRINDO) menyelenggarakan CEMAT SOUTHEAST ASIA 2018, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck, yaitu gelaran produk- produk pendukung Industry 4.0 serta conference tentang Rantai Pasok dan Logistik era 4.0 (Supply Chain and Logistics 4.0), Rantai Pasok Dingin serta Keamanan Pangan & Halal (Cold and Halal Supply Chain) yang akan mengkolaborasikan nara-nara sumber dari Indonesia dan manca negara.


Ditahun yang ke 2 di Indonesia ini, CEMAT SOUTHEAST ASIA, telah menanbah Fokus industri nya yaitu, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck. Dengan format baru ini, diperkirakan akan menarik lebih dari 200 peserta pameran di area seluas 1.169 meter persegi. Program pameran ini akan menampilkan complete logistics systems, rack and warehousing systems, cranes and lifting equipment, access platforms, auto ID systems, robotic logistics solutions, packaging technology dan industrial trucks, serta layanan jasa logistik seperti freight forwarding, terminal operation, transport infrastructure, transport vehicles, serta layanan cold logistics, cold delivery dan cold strorage. Dan pengunjung yang akan dating, diharapkan dari seluruh Negara-negara di Asia Tenggara.


Dengan mengangkat tema event "Connectivity for Indonesia and Beyond", penyelenggaraan CeMAT Southeast Asia, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck didukung oleh organisasi bisnis dan Pemerintahan di Indonesia – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Maritim Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Badan Usaha Negara, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kamar Dagang Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Asosiasi Forwaders Asean (AFFA), Gabungan Pengusaha Maknan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Asosiasi Pengusaha Tekstil (API), Himpunan Kawasan Industri Indonesia serta Federasi Penanganan Material Eropa (FEM) dan Federasi Teknik Jerman (VDMA).


Selama berlangsungnya pameran CeMAT Southeast Asia, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck juga digelar konferensi yang mengangkat tema aktual dan sangat relevan dengan trend perkembangan industry Supply-Chain, Logistics & Transportation yaitu "Supply Chain Digitizing Platform in Industry 4.0". Terpadunya kegiatan pameran dan konferensi yang berlangsung selama lima hari 2-6 Mei 2018 tersebut membuka memberikan kesempatan dan sesi membangun jejaring antara pemain industri, regulator dan pihak terkait. Berbagai topik akan dibahas dalam sejumlah sesi, termasuk pandangan global akan industri, tantangan dan peluang, hingga e-commerce dan cara baru untuk menciptakan efisiensi melalui digitalisasi serta pemanfaatan teknologi baru.


IndoCold Chain


Sebagai negara maritim dan kepulauan, sangat penting bagi Indonesia untuk membangun industri sektor makanan karena merupakan salah satu sumber devisa potensial, sebagai program ketahanan pangan menuju masyarakat cukup gizi. Tak ayal lagi, sistem cold chain yang diterjemahkan kedalam biaya storaging, sistem logistik nasional telah menjadi agenda krusial. Teknologi terkini di equipmentnya sebenarnya telah mulai berkembang, tetapi untuk awareness pemain industri dan masyarakatnya masih sangat menantang untuk penerapan food safety di segala titik kritis rantai supply nya. Karena itu diperlukan sosiaslisai, pelatihan dan small project terapan sangat diperlukan disamping regulasi dari pemerintah akan hal ini.


Melalui event IndoColdChain 2018 ini ARPI akan mendorong sosialisasi sistem block chain untuk logistik nasional, dimana akan memudahkan konektivitas akses, menekan biaya logistik dan meninhkatkan man power skill. Ini sdh menjadi tanggung jawab bersama para pemangku kepentinga didalam meciptakan ketahanan pangan yang riil dan dapat dipresentasikan secara menyeluruh di Indonesia, dengan pemusataan data dan dapat dibentuk hubungan yang berkesinambungan.


This news does not have any tags yet.