Terminal Kijing, Solusi Pengembangan Pelabuhan Pontianak

Martinus Job - Pontianak, 11/04/2018, 22:28

*Kiri-kanan pegang skop: KSOP Pontianak Bintang Novi, Asisten I Gubernur Kalbar Alexander Rombonang, Komut IPC Tumpak Panggabean, Dirut IPC Elvyn G. Masassaya, Plt Bupati Mempawah Gusti Ramlana, dan tokoh masyarakat Pangeran Mude Abidin Muhammad di acara Ground Breaking Terminal Kijing (11/04).

Seiring dengan semakin tingginya pertumbuhan ekonomi di propinsi Kalimantan Barat (Kalbar), salah satu infrastruktur logistiknya, Pelabuhan Pontianak yang dikelola BUMN kepelabuhanan PT Pelabuhan Indonesia II atau IPC, mengalami keterbatasan untuk ekspansi dan pelayanan.


Karena itulah IPC mulai mencanangkan pembangunan Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, yang konstruksinya ada di lepas pantai Laut Natuna, sebagai ekspansi dari Pelabuhan Pontianak.


Seperti diketahui Pelabuhan Pontianak adalah pelabuhan di sisi sungai terbesar di Kalimantan, Sungai Kapuas. Berada di dalam kota Pontianak. Dalam usaha ekspansinya mulai mengalami keterbatasan lahan untuk pembangunan fasilitas maupun pelayanan kepada pengguna pelabuhan.


Hal ini diperburuk dengan fenomena alam tahunan yang mengakibatkan tingginya sedimentasi di sungai Kapuas, yang berakibat kapal-kapal besar tidak bisa masuk dan bersandar di pelabuhan.


"IPC mengeluarkan hampir Rp 7 Milyar setiap tahun hanya untuk pengerukan sedimentasi, supaya kapal bisa masuk dan sandar," General Manager IPC cabang Pontianak Ari Sugiri memberikan penjelasan kepada media di kantornya (10/04).


Di sisi lain, Kalbar mengalami kenaikan pertumbuhan ekonomi, terutama sektor industri sumber daya alam, seperti minyak kelapa sawit (cpo), bauksit, perkayuan, karet, dsb., disamping kenaikan demand akan barang-barang konsumsi.


Hal inilah yang mendorong semakin tingginya minat investor domestik dan internasional untuk berinvestasi di beberapa sektor ekonomi tersebut.


Salah satu contohnya, pada awal April lalu, BUMN pertambangan PT Inalum menandatangani MoU dengan China Aluminum Company, untuk mendirikan proyek smelter bijih bauksit di Mempawah, yang rencananya akan beroperasi pada 2020 dengan kapasitas terpasang 1 juta ton per tahun.


"Terminal Kijing hadir sebagai solusi atas keterbatasan yang dihadapi Pelabuhan Pontianak saat ini," kata Dirut IPC Elvyn G. Masassaya di acara Ground Breaking Pembangunan Terminal Kijing di Mempawah pada Rabu 11 April 2018.


Hadir dalam acara itu komisaris utama dan beberapa direksi IPC, pejabat institusi pemerintahan dan BUMN, tokoh-tokoh masyarakat, dan undangan terhormat lainnya.


Pada pembangunan tahap pertama, IPC akan membangun empat terminal, yaitu terminal multipurpose, terminal curah cair, terminal peti kemas, dan terminal curah kering. 


Kapasitas terminal peti kemas diproyeksi mencapai 1 juta TEUs, sedangkan untuk curah cair dan curah kering masing-masing 8,3 juta ton dan 15 juta ton, serta untuk kapasitas terminal multipurpose, pada tahap pertama diproyeksikan mencapai 500 ribu ton per tahun.


Pada tahap ini juga, IPC akan membangun lapangan penumpukan (CY), gudang, tank farm, silo, jalan, lapangan parkir, kantor pelabuhan, kantor instansi, jembatan timbang, serta fasilitas penunjang lainnya.


Luas dermaga yang dibangun pada tahap awal ini yaitu 15 hektar untuk dermaga curah kering, 7 hektar untuk dermaga multiporpuse, 9,4 hektar untuk dermaga petikemas, dan 16,5 hektar untuk dermaga curah cair.


Lebih lanjut, Elvyn menyatakan pembangunan Terminal Kijing akan terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).


"Ini yang pertama di Indonesia, pelabuhan laut terintegrasi dengan kawasan ekonomi khusus," katanya.


Sebagai penutup, Dirut IPC juga menyampaikan kehadiran Terminal Kijing akan mendukung program Tol Laut untuk meningkatkan konektivitas laut guna menurunkan biaya logistik dan meningkatkan daya saing sumber daya alam nasional, khususnya dari Kalbar.


This news does not have any tags yet.