Digitalisasi Port: Hemat Biaya Operasional & Tingkatkan Pelayanan di Pelindo II

Wilam Chon - Jakarta, 04/02/2019, 15:42

*Kiri: Dani Rusli Utama, Direktur Teknik Pelindo II




Penuerapan digitalisasi  di lingkungan Direktorat Teknik  Pelindo II sebagai bagian dari "digital port IPC"  terbukti mampu meningkatkan pelayanan sekaligus menurunkan biaya operasional (efisiensi).


Hal itu diungkapkan Direktur Teknik Pelindo II Dani Rusli Utama dalam percakapan dengan Indonesia Shipping Gazette (ISG) di kantornya Senin (4/2/2019).


Sejak setahun lalu Dirat Teknik Pelindo II menangani  digitalisasi di bidang manajemen  fasilitas  (e. facility management), monitoring peralatan (remote crane monitoring  system dan ship monitoring system ) serta building automation system.


Menurut Dani,  dengan menerapkan  sistem digital, IPC mampu memonitoring kondisi alat di seluruh cabang Pelindo II secara real time sehingga  bisa melakukan respon cepat jika ada peralatan yang tidak beroperasi karena rusak dan lain-lain.


Hasilnya cukup menggembirakan. Sejak menerapkan remote crane monitoring system, katanya, tingkat pelayanan peralatan membaik dari sebelumnya sekitar 85% menjadi 94 % peralatan siap operasional.


Dari sisi penghematan biaya pemakaian listrik juga sangat signifikan. Misalnya di Kantor Pusat sebelumnya biaya pemakaian listrik  mencapai Rp 800 juta perbulan, sekarang  dapat diturunkan menjadi hanya Rp 400 juta/bulan. Karena dengan digitalisasi pemakaian listrik sesuai dengan  kebutuhan, kata Dani.


Ditanya progress beberapa proyek di lingkungan Pelindo II, Dani mengatakan  pembangunan Menara Maritim Indonesia (MMI) di lahan eks Berdikari Tanjung Priok  masih dalam proses administrasi penghapusan aset.


Pembangunan MMI sedikit molor karena masalah perijinan. Semula bangunan 26 lantai ini dijadwalkan  selesai akhir 2019, sekarang  diperkirakan selesai pertengahan 2020.


Sementara progress Pelabuhan Kijing, Kalbar, antara lain  57 dari rencana 200 hektar  lahan untuk Terminal sudah dibebaskan dan saat ini sedang dilakukan pematangan tanah untuk lapangan penumpukan dan pergudangan.


Pembangunan dari sisi laut sedang dilakukan pemasangan 4000 tiang pancang  untuk bangun dermaga dengan sistem deck on pile.


Pada akhir 2019 sebagian terminal petikemas sudah bisa dioperasikan dengan kapasitas 500 ribu TEUs kontainer/tahun.


Pembangunan Pelabuhan Kijing direncanakan  3 tahap didukung 10 hektar lapangan penumpukan dengan  kapasitas  2 juta TEUs kontainer/tahun.


Berbicara mengenai Museum Maritim di Cabang Tanjung Priok, Dani mengatakan  sedang dijalin kerjasma dengan Kementrian Dikbud dan Kementerian  Kelautan dan Perikanan untuk mengisi museum tersebut  dengan barang barang artefak.


This news does not have any tags yet.