Saran SCI: Depo Kontainer Relokasi Dekat Kawasan Industri

Wilam Chon - Jakarta, 10/01/2019, 07:54

*

Biaya pengangkutan kontainer ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut disebabkan karena masalah kecepatan pengangkutan. 


Berbagai upaya seperti perbaikan infrastruktur (termasuk pembangunan jalan tol) dan pembatasan jam operasional truk masih belum bisa mengatasi kemacetan.


Inefisiensi yang terjadi harus ditanggung oleh perusahaan jasa transportasi (trucking),  shipper, dan shipping line. Inefisiensi ini berdampak terhadap peningkatan biaya logistik.


Supply Chain Indonesia (SCI) menganalisis salah satu faktor penyebab masalah ini adalah lokasi depot (depo) kontainer (sebagai salah satu fasilitas logistik) yang kurang tepat. 


Selain itu, kegiatan ekspor dan impor Indonesia, yang masih terkonsentrasi di Pelabuhan Tanjung Priok. 


Kontainer impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok harus diturunkan isinya di beberapa kawasan industri dengan wilayah yang tersebar. 


Kemudian, kontainer kosong harus dibawa ke depot kontainer yang berada di sekitar Tanjung Priok, Cakung Cilincing, atau Marunda untuk dibersihkan, diperbaiki jika rusak, dan dipastikan kelaiklautannya untuk penggunaan selanjutnya.


Di depot, kontainer- kontainer ditumpuk selama rata-rata 2-4 minggu, sebelum akhirnya dipakai untuk ekspor. 


Setelah dipesan untuk ekspor, kontainer harus kembali menuju pabrik (wilayah industri) tempat shipper menaikkan barang yang akan diekspor.  Setelah itu, kontainer dibawa kembali ke Tanjung Priok untuk dinaikkan ke kapal.


Chairman SCI,  Setijadi, dalam siaran persnya kemarin  menyatakan   siklus proses inbound dan
outbond (impor/ekspor) tersebut terjadi 4 arus truk dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok.


Proses tersebut  seharusnya bisa disederhanakan menjadi 2 arus saja jika lokasi depot kontainer ada di kawasan industri dan bukan di wilayah sekitar pelabuhan.


Setijadi menyatakan, “Seharusnya depot kontainer berada dekat dengan kawasan industri. Dengan demikian, setelah kontainer menurunkan barang inbound di pabrik terkait, trailer bisa langsung menuju depot terdekat untuk pengecekan kelaiklautan kontainernya, sehingga bisa langsung menuju pabrik lain di wilayah yang sama untuk pengangkutan barang ekspor. "Jadi, 2 arus proses inbound dan outbound kontainer bisa tercapai”.


Peningkatan efisiensi sistem tersebut akan lebih efektif dan efisien, jika ada satu wadah yang bisa mempertemukan para pemangku kepentingan logistik.


Johannes M. Situmorang, CEO “bagibagi logistics”, sebuah teknologi platform sektor logistik, mengatakan,  “Angkutan khusus kontainer pelabuhan tidak hanya memerlukan sekedar digitalisasi proses, lebih lagi memerlukan perubahan bisnis model”. 


Platform cerdas “bagibagi logistics” ini akan mengintegrasikan proses melalui kolaborasi dan crowd-sourcing  dengan mempromosikan transparansi supply demand di antara semua pemangku kepentingan, termasuk shipper, shippig lines, perusahaan truk, dan depot kontainer universal.


Perubahan di atas berpotensi menguntungkan banyak pihak. Pengusaha truk bisa meningkatkan utilisasi armadanya hingga dua kali lipat, shipper mendapatkan armada truk lebih cepat, dan shipping line juga dapat memaksimalkan utilisasi kontainernya dengan menekan waktu penumpukan kontainer di depot.


Peningkatan efisiensi itu akan menurunkan biaya logistik. Dengan volume ekspor-impor yang melalui Pelabuhan Tanjung Priok sekitar 65% dari volume nasional, maka hal ini akan cukup berdampak terhadap biaya logistik nasional.


Perubahan sistem tersebut juga akan berdampak positif terhadap pengurangan kemacetan (pengurangan jumlah trailer yang lalu-lalang dari Tanjung Priok dan sekitarnya ke kawasan industri dan sebaliknya), pengurangan jumlah penggunaan BBM dan biaya operasional perusahaan, serta pengurangan jumlah emisi karbon.


This news does not have any tags yet.