Pemerintah Gagas Program Tol Laut, Kontainer Masuk Desa

Setelah mampu menurunkan disparitas harga sekitar 15-20 persen, kini Pemerintah mendorong penyelenggaraan angkutan logistik Tol Laut bukan hanya dari Port to Port (pelabuhan ke pelabuhan), tapi end to end (langsung sampai ke konsumen).

Dengan demikian kegiatan  angkutan logistik Tol Laut menjadi tepat sasaran sehingga  masyarakat  dapat merasakan harga yang terjangkau, kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Wisnu Handoko di Jakarta, Rabu (27/2/2019).

Untuk itu, Pemerintah melalui Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Laut menggagas program kontainer masuk desa bekerja sama dengan Maritime Research Institute Nusantara (MARIN).

Sebagai perwujudan kehadiran negara, Kementerian Perhubungan segera mengimplementasikan program kontainer masuk desa untuk memperkuat konektivitas ekonomi desa dan nasional melalui program tol laut.

Program tersebut dimaksudkan demi mewujudkan program Nawacita pemerintah dalam rangka menghadirkan negara di beranda terdepan NKRI, tegas Capt. Wisnu.

Selain diharapkan mampu menurunkan disparitas harga, lanjut Capt. Wisnu, program kontainer masuk desa juga  diharapkan dapat memastikan ketersediaan berbagai bahan pokok  di wilayah desa yang selama ini belum maksimal.

“Program Kontainer Masuk Desa ini akan mempermudah akses pemasaran hasil komoditas desa ke berbagai wilayah, baik dalam maupun luar negeri yang selama ini menjadi kendala banyak desa di Indonesia. Dengan cara ini  ekonomi desa pun akan tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik, kata Capt. Wisnu.

Di awal implementasinya, program Kontainer Masuk Desa ini akan difokuskan di salah satu desa di pulau terluar di Indonesia, yaitu Desa Essang di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Dan tahap selanjutnya juga akan difokuskan ke daerah Memberamo dan Boven Digoel di Papua.

Wisnu menyebutkan  publik harus tahu bahwa program tol laut ini merupakan gabungan dari elemen program kewajiban pelayanan publik (PSO) yang terdiri dari angkutan laut penumpang kelas ekonomi atau yang dikenal sebagai kapal putih Pelni, angkutan laut perintis yang dikenal dengan kapal Sabuk Nusantara, Tol Laut Angkutan Barang atau dikenal dengan nama Kontainer Tol Laut, dan angkutan kapal khusus ternak.

Efisiensi tol laut dari sisi anggaran juga harus dibandingkan dengan anggaran yang digunakan pada pengembangan moda transportasi lain dan cakupan area yang bisa dilayani.

Program Tol laut dengan anggaran untuk PSO Penumpang kelas ekonomi sekitar Rp. 1,8 triliun, angkutan laut perintis sekitar Rp. 1,2 triliun, Tol Laut Angkutan barang kontainer sekitar Rp. 300 miliar dan Angkutan Ternak sekitar Rp. 60 miliar per tahun dengan cakupan layanan seluruh pulau dan daerah di Indonesia.

Jumlah tersebut masih relatif kecil dengan multiplier effect yang diperoleh oleh negara dan masyarakat. Konsep perintis atau yang sering dikenal sebagai ship promote the trade harus dilihat tidak hanya dari aspek komersial tapi juga dari rasa keadilan yaitu hak terhadap akses transportasi laut, ujar Capt. Wisnu.

Leave a Comment