Program TRANSfer III Diharapkan Bisa Meningkatkan Angkutan Barang Dengan Menggunakan Moda Kereta

JAKARTA – Program antarmoda sudah banyak dilakukan akan tetapi efektivitas pelaksanaan masih perlu ditingkatkan. Hal ini yang diharapkan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan, Cris Kuntadi terhadap Program TRANSfer III dalam rapat kecil bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal Perkeretaapian dan GIZ (Selasa, 06/11/2019).

Perlu diketahui Program TRANSfer III adalah proyek global yang memfasilitasi pengembangan aksi mitigasi di sektor transportasi yang dikelola oleh GIZ (Lembaga Kerjasama Pembangunan Pemerintah Federal Republik Jerman) dan Negara Mitra. Pendanaan untuk proyek global ini sebesar 8 juta Euro yang dialokasikan kepada masing-masing negara mitra untuk pelaksanaan kajian, pembelajaran internasional, pengembangan perangkat, persiapan aksi mitigasi dan dukungan inisiatif multi donor global.

Tujuan dari TRANSfer III adalah untuk meningkatkan kemampuan negara-negara berkembang dan ekonomi baru agar dapat menciptakan sektor transportasi yang ramah lingkungan dengan dukungan internasional. Ada 5 negara yang masuk dalam program TRANSfer III yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, Peru dan Kolombia.

Bentuk program TRANSfer III ini adalah bantuan teknis kepada pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Perhubungan guna mempersiapkan program aksi mitigasi di sektor angkutan barang antarmoda yaitu kombinasi antara angkutan darat dan kereta api dan skema modernisasi armada truk. Output dari pelaksanaan program ini berupa konsep dokumen yang dapat diimplementasikan.

Proses TRANSfer III saat ini sudah ditahap diskusi awal yang menjadi awal kajian-kajian berikutnya sampai April 2020 dan di Desember 2020 sudah ada konsep implementasi.

Dalam rapat ini, Cris menyampaikan program TRANSfer III ini dapat mengatur alihmoda dari truk ke wilayah yang sudah ada infrastruktur kereta api. Mengapa sangat penting alihmoda dari truk ke kereta api?

“Karena share modal transportasi darat 90,4%. Ini hampir mencapai 100% sedangkan kereta masih 0,6%, ini pun mayoritas ada di Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan: Palembang, Jambi, Bengkulu) untuk mengangkut batubara”, jelasnya.

Kemudian permasalahan lainnya kurangnya konektivitas ke pelabuhan dengan kereta. Fasilitas kereta tersedia tapi tidak langsung dan masih harus diangkut dengan truk.
“Ini masih kita cari polanya agar orang lebih suka dengan kereta dan melalui TRANSfer III bisa diimplementasikan”, ungkapnya

Beberapa usaha juga dilakukan oleh Ditjen Darat untuk mengurangi beban angkutan barang di darat salah satunya Sikat ODOL.
“Kita berharap dengan adanya Sikat ODOL, logistik dengan truk beralih”, tuturnya

Lebih jauh diungkapkan oleh Kasie Angkutan Multimoda, Ellis yang mengusulkan untuk dibuat external cost seperti di luar negeri untuk angkutan barang darat. Hal ini diamini oleh Cris sebab cost yang dikeluarkan oleh darat lebih tinggi dibanding kereta.

“Mungkin dari segi biaya angkut truk lebih murah dari kereta tapi dampak dari penggunaan truk lebih tinggi seperti pengeluaran emisi gas, kemacetan, kerusakan jalan, dan kecelakaan”, jelasnya.

Cris mengatakan kajian ini harus dapat dimimplementasikan dengan baik karena share modal kereta tahun 2024 adalah 11%.

“Dengan share modal kereta saat ini, perlu usaha yang extraordinary  kalau tidak kita sama saja merencanakan kegagalan”, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *