HIMKI Cirebon, Kadin Jabar Sambut Baik Beroperasinya Pelabuhan Patimban

Para pelaku usaha mebel dan kerajinan dari wilayah Cirebon dan sekitarnya yang bergabung dalam Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Cirebon menyambut baik beroperasinya Pelabuhan Patimban. Pasalnya, sejak Pelabuhan Cirebon minim melakukan layanan bongkar muat kontener, ekspor industri mebel dan kerajinan terpaksa dilakukan melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Beroperasinya Pelabuhan Patimban, menurut HIMKI, akan semakin mendekatkan eksportir dalam pengiriman barang, khususnya banrang-barang industri mebel dan kerajinan.

Pernyataan ini disampaikan beberapa pengurus HIMKI Cirebon setelah selesai memberikan bantuan APD kepada rumah sakit, Puskesmas dan Kecamatan yang ada di wilayah Cirebon.

HIMKI Cirebon memberikan bantuan APD berupa baju hazmat, face shield, masker medis, dan sarung tangan yang diserahkan kepada 4 rumah sakit yakni RS Arjawinangun, RS Hasna Medika, RS Ciremai dan RS Gunung Jati. Selain itu bantuan juga untuk 3 Puskesmas meliputi Puskesmas Plumbon, Puskesmas Plered dan Puskesmas Karangsari.

Dengan beroperasinya Pelabuhan Patimban, HIMKI Cirebon dapat memangkas biaya trucking yang tadinya Rp.4 juta (Cirebon – Pelabuhan Tg. Priok 224 km) menjadi Rp.2 juta (Cirebon – Patimban 116 km) tentunya penurunan biaya transportasi tersebut dapat menambah daya saing produk mebel, rotan, dan kerajinan dipasaran internasional.

HIMKI Cirebon rata rata dapat mengekspor 3000 petikemas perbulan dan industri tekstil Cirebon dapat impor 1000 petikemas per bulan untuk bahan baku tekstil.

Pengurus Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Cirebon, menyayangkan Pelabuhan Cirebon belum dapat memberikan layanan Peti Kemas. Selama ini pihaknya selalu melakukan kegiatan ekspor melalui pelabuhan Semarang dan juga pelabuhan Tanjung Priok.

Oleh karena itu, pengurus dan anggota HIMKI Cirebon tadinya mengharapkan Pelabuhan Cirebon mampu mengadakan kebutuhan ekspor terutama dalam hal pengangkutan jasa kontainer/peti kemas terutama untuk muatan textile dan rotan dengan hasil produksi yang sangatlah besar. Namun dikarenakan beberapa kendala Pelabuhan Cirebon sebagai pelabuhan yang menjadi andalan bagi pelayaran wilayah utara, terutama bagi wilayah perbatasan Jawa Barat ternyata belum mampu menyediakan jasa angkut kontainer/peti kemas.

Fasilitas kedalaman Pelabuhan Cirebon saat ini hanya enam meter tentunya belum bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekspor/impor serta tidak adanya cargo balik dan ijin prinsip buyer di Luar Negeri untuk agen pelayaran di Cirebon.

Dengan adanya Pelabuhan Patimban, HIMKI Cirebon lebih cepat mendapatkan dokumen sehingga sehingga uang pencariannya tidak lama. Tapi kalau melalui Pelabuhan Semarang dan Pelabuhan Tanjung Priok butuh waktu 3 hari baru mendapatkan dokumen.

Ditempat terpisah Ketua Umum Kadin Jawa Barat, Agung Suryamal, menyambut baik dan mendukung beroperasinya pelabuhan internasional Patimban. Menurutnya, Jawa Barat sudah sangat membutuhkan pelabuhan internasional guna mendukung kelancaran ekspor industri terutama dari area Bandung raya. Jawa Barat butuh pelabuhan internasional. Selama ini ekspor/impor Jawa Barat masih menggunakan pelabuhan Tanjung Priok. Selain macet, di pelabuhannya juga padat.

Menurut Agung, banyak industri dan pelaku usaha di Jabar yang melakukan ekspor akan diuntungkan dengan adanya pelabuhan internasional Patimban. Selain akan mengurangi biaya, juga mempercepat waktu pengiriman barang untuk ekspor. Selain itu, kawasan pelabuhan dan sekitar nantinya akan memunculkan peluang bisnis baru. Investasi pun akan lebih berkembang pesat lagi di willayah Subang khususnya dan Jawa Barat umumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *