Kendati Sangat Tertekan, Industri Pelayaran Masih Bisa Stabil Karena Hal Berikut

Kendati ada tekanan yang sangat besar dari merebaknya coronavirus (covid-19), namun industri pelayaran container shipping saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih baik dibanding dengan pada situasi krisis-krisis sebelumnya, baik krisis finansial 2008-2009 maupun krisis karena perang tariff 2011 dan 2015.

Demikian disampaikan Soren Skou, CEO AP Moller-Maersk, peusahaan induk dari pelayaran terbesar dunia Maersk sebagaimana ditulis ifw-net.com.

Hanya saja, ada sejumlah hal yang harus dipertahankan, termasuk menjaga kompetisi yang sehat antara para pelaku, mempertahankan freight rate yang ada, serta menjaga agar tidak terjadi oversupply.

 “Ada sejumlah dinamika kompetisi saat ini (selama merebaknya covid-19) yang berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, baik krisis finansial pada 2008-09 maupun krisis 2011 dan 2015 di mana perang tarif antara perusahaan pelayaran terjadi sangat brutal,” kata Skou.

Pandangan Skou memang sangat beralasan. Kendati saat ini industri pelayaran sangat terpukul, namun tetap mampu menjaga stabilitas freight rate.

Hal kedua yang bisa mendorong industri pelayaran bisa stabil adalah sistem aliansi pelayaran yang begitu cair dan sederhana sehingga sangat mudah untuk melakukan sejumlah penyesuaian.

Tiga aliansi besar yakni Ocean Alliance, 2M, THE Alliance, semuanya menerapkan sistem dan pola kerja yang sederhana dan sangat cair sehingga mudah untuk melakukan penyesuaian.

“Pada kasus kami misalnya (2M- Maersk and MSC). Dengan sistem yang sangat cair, satu pihak akan dengan mudah keluar dari perjanjian VSA (Vessel Sharing Agreement) jika kapal yang dipakai berkapasitas kecil,” jelas Skou.

Aliansi 2M saat ini menjalankan kurang lebih 13/14 string (jadwal pelayaran) per minggu dengan rute layanan North Europe dan Asia ke Mediterania.

Jadi ketika ada perubahan layanan, tidak begitu mengganggu keseluruhan jaringan. Sementara jika mau mengambil keputusan untuk melakukan penyesuaian, bisa dilakukan dengan cara yang mudah, simple, dan cepat.

Faktor ketiga menurut Skou yang bisa mendukung stabilitas perusahaan pelayaran adalah rendahnya order kapal baru dalam industri container shipping. Menurutnya, dengan rendahnya order kapal baru ancaman dari adanya oversupply terhadap industri ini cukup terjaga sehingga mempermudah industri pelayaran bisa keluar dari krisis saat ini.

“Situasi saat ini berbeda dengan kasus 2008/9 ketika perusahaan pelayaran melakukan oder pembangunan kapal baru begitu masif. Saat itu, pelayaran harus berjuang dalam situasi dengan tingkat oversupply yang begitu tinggi dan melakukan berbagai cara agar ruang-ruang kapal tersebut bisa terisi,” kata Skou.

Selain ketiga hal tersebut di atas, hal lain yang menguntungkan saat ini adalah perusahaan pelayaran memiliki pricing power yang kuat dalam menetapkan freight rate, sementara feedback dari customer tidak begitu menentukan dalam penentuan tariff.

Skou berharap agar semua pelayaran besar tidak menjatuhkan harga (perang tarif) dalam upaya menaikkan market share-nya. “Maersk tidak akan melakukan hal itu. Bagi kami, tidak masalah jika pertumbuhan market share lebih kecil. Yang paling utama bagaimana agar bisa menjaga profit yang stabil,” jelasnya.

“Dan, kelihatannya, hampir semua pelayaran melakukan hal yang sama,” lanjutnya.

Kendati diuntungkan dengan kondisi tersebut di atas, tidak berarti pelayaran tidak akan menghadapi tantangan yang berat. Kendati bisa mengontrol dari sisi supply, pelayaran akan menghadapi tantangan besar dalam menghadapi target-target dari customer.

Menurut Skou, hal ini akan membuat perusahaan pelayaran kesulitan dalam membaca bagaimana bisnis ini ke depannya. Maersk misalnya kesulitan dalam menentukan target pada tahun ini. Akhir lockdown yang belum pasti sehingga susah untuk memprediksi sejauh mana dampaknya terhadap demand pada industri ini menjadi tantangan yang sangat besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *