Sejauh Mana Dampak Covid-19 terhadap Container Shipping kedepan?

Wabah virus corona atau COVID-19 telah membatalkan 544 pelayaran dari total sekitar 1.300 pelayaran rute intra-Asia dalam kurun waktu 30 hari sejak perayaan Imlek pada 25 Januari 2020.

Menurut data dan kalkulasi SITC, kerugian rata-rata per kapalnya mencapai USD 220.000, total dari biaya charter dan bunker. Virus corona yang memicu penutupan pabrik yang berkepanjangan di China telah secara masif memberikan dampak yang signifikan terhadap industry pelayaran kontener (container shipping).

Walaupun sekarang kegiatan produksi di Cina telah dimulai kembali dengan terkendalinya penyebaran virus, sejumlah perusahaan pelayaran berskala kecil dalam perdagangan intra-Asia akan mengalami kesulitan finansial dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini disampaikan oleh konsultan terpercaya Sea-Intelliegence.

Efek berkelanjutan dari wabah ini termasuk kekurangan peralatan untuk ekspor antara AS dan Eropa. Kekhawatiran juga meningkat mengenai selera konsumen di masa depan untuk impor di tengah meluasnya sebaran virus tersebut di beberapa wilayah di dunia, seperti AS.

Selain itu, menurut Lloyd’s List London, sejumlah pelayaran dipastikan akan mengalami kesulitan finansial. Tanpa bantuan pemerintah, kemungkinan besar mereka akan terpaksa untuk menjual kapal, menjual anak perusahaan, atau bahkan seluruh bisnis mereka.

“Dengan lonjakan risiko wabah di Korea Selatan, Jepang dan negara lainnya, gangguan terhadap rantai pasok diperkirakan akan lebih lama. Hal ini dapat mempengaruhi pasar Cina, yang telah dipengaruhi oleh keterlambatan dimulainya kembali pekerjaan,” kata analis Lloyd’s List. “Ada kemungkinan volume kargo di bulan Maret akan tetap rendah.”

Jika hal tersebut terjadi, maka perusahaan pelayaran besar juga akan mengalami dampak yang negatif. Apalagi, sejumlah pelayaran berskala besar telah melakukan aksi utang yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir dalam rangka investasi pengadaan armada baru atau untuk melakukan merger dan akuisisi.

Dalam situasi tersebut kemungkinan gagal bayar atas pinjaman bisa saja terjadi. Jika tenor pembayaran utang tidak bisa diperpanjang, maka opsi pelepasan aset tidak terhindarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *