Gurning: Kebakaran Beruntun 2 Kapal Motor, Indikasi Kultur Keselamatan Belum Hadir

Kebakaran dua kapal secara beruntun Kapal Motor (KM) Santika Nusatara dan KM Izhar belum lama ini memberikan indikasi masih lemahnya perhatian semua pihak (stake holder terkait) terhadap pencegahan serta manajemen kebakaran di atas kapal.

Hal itu diungkapkan Raja Oloan Saut Gurning, Staf Pengajar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya dalam bincang bincang dengan Indonesia Shipping Gazette via WA, Minggu (25/8/2019).

“Karena itu, ” tambahnya, pemerintah perlu memberi perhatian terhadap potensi insiden kebakaran kapal misalnya melalui syahbandar, petugas klasifikasi, inspektur pemeriksa kapal, awak kapal dan pemilik atau perusahaan pelayaran.

Di samping itu perlu memperluas edukasi kepada penumpang atau masyarakat pengguna jasa angkutan laut khususnya kesadaran dan disiplin terhadap pencegahan kebakaran di atas kapal.

Menurut Saut, usaha penerapan crowd management dan safety drill di atas kapal termasuk informasi pendek tentang bahaya kebakaran perlu dilakukan kepada semua penumpang termasuk pengemudi kendaraan atau truk di dek kendaraan atau dek penumpang.

Kebakaran KM Santika Nusantara rute Surabaya – Balikpapan Kamis ( 22/8/ 2019 ) pukul 20.45 WIB di Perairan Laut Utara Pulau Masalembo Jawa Timur menyebabkan 3 orang meninggal dunia .

Sebelumnya, korban tewas akibat terbakarnya KM Izhar, diperairan Bokori, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (16/8/2019) menewaskan10 orang.

Secara umum kejadian kecelakaan di atas kapal akibat tidak didukung oleh kehadiran kultur atau sistem keselamatan di sebuah kapal, tambah Saut.

Ketidak hadiran sistem keselamatan ini akibat akumulasi dari tiga aspek penting. Seperti armada kapal tidak laik berlayar, lemahnya penerapan atau pemenuhan standar keselamatan kapal baik oleh perusahaan pelayaran sebagai pemilik kapal, ABK, pemilik kargo hingga penumpang atau pengendera kendaraan yang diangkut sebuah kapal.

Saut Gurning mengatakan terkait dengan tipe insiden kapal KMP Santika Nusantara dan KM Izhar jelas keduanya dapat dikelompokkan dalam insiden kebakaran kapal.

Berdasarkan peristiwa-peristiwa empirik baik di perairan domestik dan internasional umumna kebakaran kapal diakibatkan oleh empat faktor penyebab utama.

Pertama, api di kapal muncul akibat berbagai sumber kenaikan panas di sekitar permukaan kapal baik di dek penumpang, kendaraan atau tangki kapal termasuk adanya pekerjaan pengelasan (hot-work) di kapal.

Kedua yang sering terjadi datangnya api dari berbagai peralatan listrik kapal. Misalnya kabel atau peralatan listrik lainnya. Hal ini terjadi akibat berlebihnya beban listrik atau kurangnya kemampuan peralatan proteksi berlebihnya arus dan beban listrik kapal.

Ketiga dan yang paling sering menjadi sumber api yaitu dari permesinan kapal baik permesinan utama atau bantu. Percikan api dari permesinan dapat terjadi biasanya karena terlalu berlebihnya temperatur operasi engine atau beban serta kecepatan operasi mesin yang melebihi ambang normalnya.
.
Bisa juga menurunnya kinerja mesin akibat umur atau kurangnya perawatan permesinan kapal juga dapat menjadi sumber awal munculnya api

Keempat dan sepertinya jamak terjadi di berbagai kasus kebakaran kapal adalah kurangnya kesadaran atau kepedulian atas bahaya kebakaran kapal. Hal ini mulai diakibatkan oleh rendahnya komitmen manajemen perusahaan, rendahnya kompetensi dan disiplin ABK hingga ketidakpedulian atau ketidaktahuan penumpang serta pengemudi kendaraan ketika berada di dek kapal

Keempat faktor di atas umumnya ditemui dalam berbagai kasus kebakaran di kapal. Empat penyebab inilah yang mengakibatkan proses pengendalian api serta pengendalian kapal menjadi relatif sulit dilakukan. “Dan pada akhirnya juga penjalaran asap dan api yang semakin membesar serta melebar maka potensi kerugiaan dan kehilangan akan relatif terjadi.

Apalagi, katanya, ditambah dengan ketidaksiapan dalam penanggulangan manajemen kebarakan, penanganan evakuasi hingga kedatangan SAR lambat akan lebih membuat makin rusaknya lambung & peralatan kapal hingga tingginya fatalitas (hilangnya nyawa) hingga muatan kapal.

Saut mengatakan KNKT 1 sedang menginvestigasi insiden kecelakaan akibat kebakaran kapal-kapal tersebut. “Hasil investigasi ini semoga dapat memberi informasi untuk menjadi pelajaran bagi operator kapal, pemilik kapal, regulator dan masyarakat pengguna jasa,” tutur Gurning.

Dia mengakui tidak mudah membangun kultur keselamatan. Sebab esensi kultur keselamatan adalah mengubah perilaku yang dimulai tidak saja dengan kesadaran dan empati namun juga kebiasaan (habit) dan kepedulian kita.

“Dan ini butuh proses yang kontinu dan memakan waktu yang cukup lama serta harus terus-menerus secara gradual dilakukan lewat institusi formal seperti sekolah maupun non-formal baik di berbagai lembaga sosial, agama serta skala luas dalam perilaku bisnis.

Saut Gurning menambahkan
sejumlah negara yang sudah baik menerapkan kultur keselamatan memang selalu berkorelasi kuat dengan tingkat pendidikan, kekuatan sosial, hukum serta level ekonomi.

Menurut Gurning, di Indonesia secara masif dan meluas perlu dilaksanakan kampanye keselamatan maritim secara terus menerus oleh semua pihak baik regulator, operator, dunia pendidikan, masyarakat hingga keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *