Asia Tenggara Tampil sebagai Pemimpin dalam “Lead Agility Emerging Markets Index 2020”

Pemeringkatan tahunan yang dilakukan perusahaaan logistik global, Agility dalam “11th Agility Emerging Markets Logistics Index”, memperlihatkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara mengungguli sebagian besar kawasan berkembang lain. Pemeringkatan ini mengukur beragam daya saing negara berdasarkan keunggulan logistik dan fundamental bisnis.

Iklim usaha yang baik dan kekuatan inti menempatkan negara-negara Asia Tenggara di posisi teratas dalam pemeringkatan tersebut. Posisi sejumlah negara ini berada di belakang Tiongkok (1) dan India (2).

Pemeringkatan tersebut memuat daftar 50 negara berdasarkan daya tariknya bagi penyedia jasa logistik, freight forwarder, penyedia jasa kargo laut, kargo udara, serta distributor. Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia (4), Malaysia (5), Thailand (9) dan Vietnam (11) memiliki posisi yang baik. Filipina berada di posisi 22 dalam pemeringkatan tahun ini.

Di tengah hangatnya situasi perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok, kian banyak responden survei memilih Vietnam sebagai basis produksi ketimbang negara-negara lain jika perusahaan mereka keluar dari Tiongkok. Tahun lalu, 56% praktisi logistik menilai, sejumlah negara Asia Tenggara kelak diuntungkan dari situasi perdagangan Amerika Serikat-Tiongkok. Namun, persentase tersebut telah berkurang menjadi 42% pada 2020.

Andy Vargoczky, SVP, Sales & Marketing Asia-Pacific, Agility GIL, menyebutkan, ketergantungan ASEAN terhadap pasar ekspor Eropa dan Amerika Utara telah berkurang. Hal ini terjadi sebab negara-negara di kawasan ini semakin mapan, terpadu, serta lebih banyak mengonsumsi barang-barang yang dibuat di negaranya sendiri. Asia Tenggara juga kian mengandalkan sektor jasa untuk pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja.

“Negara-negara ASEAN tampil dengan baik, bahkan di tengah kondisi ketidakpastian dunia. Seperti Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam termasuk atau hampir berada di jajaran 10 besar. Posisi negara-negara ini bertambah penting dalam rantai pasokan dan transportasi global,” kata Andy Vargoczky.

Survei tahunan Agility menjajaki pendapat 780 praktisi rantai pasokan barang. Secara keseluruhan, hasil survei mencerminkan pesimisme tentang perekonomian dunia. Sebanyak 64% responden menilai resesi global mungkin terjadi, sementara, hanya 12% responden yang tidak memperkirakan terjadinya resesi. Tekanan terhadap volume perdagangan global, tidak pastinya prospek pertumbuhan, serta panasnya situasi perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi sejumlah alasan yang melatarbelakangi pesimisme tersebut.

Di antara 50 negara, Tiongkok, India, dan Indonesia menduduki posisi terbaik dalam sektor logistik domestik. Lebih lagi, Tiongkok, India, dan Meksiko tampil sebagai pemimpin di sektor logistik internasional, sedangkan, Vietnam berada di posisi ke-4, Indonesia di posisi ke-5, serta Thailand di posisi ke-6. Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Arab Saudi memiliki fundamental bisnis terbaik.

Ringkasan Indeks dan Survei 2020

•  Tiongkok dan India memuncaki peringkat 2020 berdasarkan skala dan keunggulannya di pasar logistik internasional serta domestik. Namun, kedua negara ini masih kalah bersaing dengan negara-negara yang lebih kecil dalam hal fundamental bisnis. Aspek fundamental bisnis mengukur negara-negara menurut iklim regulasi, dinamika kredit dan utang, konsistensi dalam penerapan kontrak, perlindungan terhadap antikorupsi, stabilitas harga, serta akses pasar. Untuk aspek tersebut, Tiongkok berada di posisi ke-8 dan India di posisi ke-18.

•  Responden survei menilai India sebagai pasar dengan potensi terbesar ketimbang Tiongkok, pilihan mereka yang kedua. Dalam hal iklim usaha, posisi beberapa negara berubah drastis: Mesir naik 10 peringkat ke urutan 17; Ukraina naik 10 peringkat ke urutan 27; Ghana turun 13 peringkat ke urutan 32; serta Iran turun 12 peringkat ke urutan 38.

•  Mesir, meski sempat mengalami kerusuhan sosial pada 2019, menunjukkan peningkatan pada seluruh indeks. Untuk indeks keseluruhan, Mesir naik enam peringkat ke urutan 20, sedangkan, peringkat Mesir dalam hal fundamental bisnis naik 10 peringkat (urutan 20), lalu peringkat Mesir naik enam peringkat dalam indeks peluang domestik (13), serta naik lima peringkat dalam indeks peluang internasional (23).

•  Tiga faktor utama yang menghambat usaha-usaha kecil dalam perdagangan global ialah birokrasi perdagangan (17%), instabilitas pemerintah/batas negara (14%), serta ketidakmampuan untuk menghadapi pesaing yang lebih besar (14%). Hal-hal ini merupakan pendapat dari praktisi di sektor rantai pasokan barang.

•  Meski merasa yakin bahwa resesi akan terjadi, negara-negara berkembang diperkirakan tumbuh 3,7% pada 2019. Sementara, IMF memprediksi pertumbuhan negara-negara berkembang kelak mencapai 4,4% pada 2020. Untuk faktor-faktor pendorong pertumbuhan tersebut, 23% responden menyebutkan modernisasi sistem dan proses kepabeanan, 18% menilai lonjakan penetrasi internet, 16% menganggap modernisasi sistem penyedia logistik  (WMS, TMS, dan lain-lain), serta 15% responden menilai naiknya penggunaan dan modernisasi sistem pembayaran daring.

•  Lima “megalopolitan” utama yang menjadi pusat logistik di sejumlah negara berkembang adalah Shanghai, New Delhi, São Paulo, Jakarta dan Mexico City. Megalopolitan—wilayah perkotaan dengan populasi sebanyak 10 juta atau lebih—membutuhkan dukungan logistik yang besar untuk memenuhi kebutuhan domestik, serta menjalankan perdagangan.

•  Layanan e-commerce disebut sebagai jasa logistik yang paling berpotensi untuk menjaga atau meningkatkan pertumbuhan, jauh lebih penting dibandingkan jasa-jasa lain seperti pengiriman kilat domestik (domestic last-mile delivery) dan pengiriman paket ekspres internasional.

•  Menurut survei tersebut, negara-negara yang kurang berpotensi sebagai pasar logistik pada 2020 ialah Syria, Iran, Venezuela, Irak dan Libya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *