Ekspansi Pelindo I-IV Ditopang Utang

Harijanto, Direktur Eksekutif HMPM

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat ekspansi BUMN kepelabuhan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ditopang oleh utang. Jumlah utang PT Pelindo I (Persero), PT Pelindo II (Persero), PT Pelindo III (Persero), dan PT Pelindo IV (Persero) dalam lima tahun terakhir rata-rata naik 69% (CAGR).

Deputi Menteri BUMN Bidang Konstruksi & Sarana Perhubungan Ahmad Bambang mengatakan jumlah utang empat BUMN kepelabuhan pada 2017 diperkirakan mencapai Rp37,45 triliun.

“Utangnya memang naik, pada 2013 hanya Rp4,61 triliun,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (22/1/2018) malam sebagaimana ditulis bisnis.com (23/01/2018).

Bambang memaparkan jumlah utang BUMN kepelabuhan melesat pada 2014-2015. Pada 2014, jumlah utang BUMN kepelabuhan mencapai Rp16,67 triliun atau hampir empat kali lipat dari posisi 2013. Posisi utang pada 2014 itu kemudian naik dua kali lipat menjadi Rp33,9 triliun.

Selama 2014-2015, Pelindo II dan Pelindo III memang menerbitkan surat utang global dalam denominasi valas atau global. Pelindo III menerbitkan global bond sebesar US$500 juta pada 2014, sedangkan Pelindo II menyusul setahun berselang dengan nilai emisi US$1,5 miliar.

Direktur Utama Pelindo II Elvyn G. Masassya saat itu menuturkan utang yang diraih dari penerbitan global bond akan digunakan untuk pengembangan usaha, terutama untuk mendanai proyek pelabuhan baru. Beberapa proyek besar yang tengah digarap yakni proyek Pelabuhan Kalibaru atau New Priok, Pelabuhan Kijing, Pelabuhan Sorong, dan kanal Cikarang Bekasi Laut.

Elvyn menyatakan kondisi keuangan perseroan terbilang solid sehingga perseroan siap membayar obligasi yang jatuh tempo pada 2025. “Kami bisa melunasi [obligasi] dari arus kas operasional karena per tahun EBITDA [laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi] kami Rp3,5 triliun,” ujarnya saat itu.

Walhasil, secara kumulatif, EBITDA Pelindo II hingga 2025 bakal mencapai Rp28 triliun atau melampaui kewajiban obligasi jatuh tempo yang setara dengan Rp21 triliun.

Berikut ini penerbitan obligasi yang telah dilaksanakan Pelabuhan I, II, III dan IV.

Obligasi Rp 2 Triliun Pelindo I

Pada Juni 2016 atau tepat empat tahun yang lalu, PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) melakukan pencatatan obligasi berkelanjutan Obligasi I Pelindo 1 Gerbang Nusantara.

“Hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi Pelindo I karena pertama kali kami meluncurkan obligasi. Ini babak baru kami sebagai perusahaan yang berkembang dan terus menjunjung transparansi,” ujar Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) saat itu Bambang Eka Cahyana di Main Hall Bursa Efek Indonesia sebagaimana ditulis tempo.co (22/06/2016).

Pelindo I sebelumnya telah melakukan penawaran umum obligasi pertama dengan jumlah pokok obligasi Rp 1 triliun. Obligasi yang ditawarkan tersebut telah memperoleh hasil pemeringkatan AA (idn)/idAA (Double A) dari PT Fitch Ratings Indonesia dan PT Pemeringkat Efek Indonesia.

Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dilakukan pada 21 September 2016. Sedangkan pembayaran bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo masing-masing seri obligasi.

Adapun obligasi yang ditawarkan terdiri atas empat seri, di antaranya Seri A dengan jangka waktu 3 tahun, Seri B berjangka waktu 5 tahun, Seri C berjangka waktu 7 tahun, dan Seri D berjangka waktu 10 tahun.

Obligasi ini tidak dijamin dengan jaminan khusus, melainkan dijamin dengan seluruh harta kekayaan perseroan, baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.

Sedangkan seluruh dana yang diperoleh dari penawaran umum obligasi, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, akan dipergunakan perseroan dengan pembagian sekitar 54 persen akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur fasilitas pelabuhan di beberapa cabang perseroan.

Sekitar 42 persen akan digunakan untuk pengadaan peralatan di beberapa cabang perseroan. Sekitar 0,3 persen akan digunakan untuk bina usaha perseroan di rumah sakit pelabuhan berupa pengadaan klinik dan penataan rumah sakit dan sekitar 3,7 persen akan digunakan untuk pengembangan infrastruktur teknologi informasi perseroan di kantor pusat.

Melihat tingginya minat investor saat itu, Pelindo I bahkan berencana untuk menerbitkan obligasi tambahan pada satun berikutnya (2017).

“Tahun ini kami sudah terbitkan 1 triliun, permintaan sampai 7,5 kali lipat. Respons bagus, walaupun diluncurkan di dalam negeri tapi ada investor dari Singapura yang beli,” ujar Bambang saat itu.

Tingginya minat investor akan coba dimanfaatkan manajemen Pelindo I untuk menerbitkan lagi obligasi pada kuartal II 2017.

“Untuk tahun depan investasi akan cukup signifikan. Mungkin bisa di angka Rp3 triliun. Kalau dari kas internal dan laba 2016, mungkin kita bisa dapat Rp1 triliun. Lalu sisanya sekitar Rp2 triliun dari obligasi,” ungkapnya.

Global Bonds US$1,6 Miliar Pelindo II

Pada tahun 2015, PT Pelabuhan Indonesia II menerbitkan obligasi global (global bond) senilai US$1,6 miliar atau Rp20,8 triliun. Keseluruhan nilai tersebut diperoleh dari investor asing seperti dari Hong Kong, Singapura, London, New York, Boston dan Los Angeles.

Direktur Keuangan Pelindo II saat itu, Orias Petrus Moedak, mengatakan total global bond tersebut terbagi dalam dua seri. Seri pertama bernilai US$ 1,1 miliar dengan jangka waktu 10 tahun dengan bunga 4,25% dan yield 4,375%. Sedangkan seri kedua bernilai US$500 juta dengan jangka waktu 30 tahun dengan bunga 5,375% dan yield 5,5% (bisnis.com, 9 Mei 2015).

Dia mengklaim penawaran tersebut memiliki bunga terendah dengan 50 basis points diatas yield obligasi pemerintah sekaligus penawaran perdana terbesar. Pelindo II juga mencatatkan diri sebagai BUMN pertama yang menerbitkan global bond.

“Ini adalah penerbitan perdana [[bernilai] paling besar, juga [dengan bunga] paling rendah untuk yang jangka waktu 10 tahun,” kata Orias saat itu.

Dia menargetkan penghabisan dana tersebut hingga kuartal pertama di 2017. Beberapa pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas seperti pembangunan Pelabuhan New Priok, Pelabuhan Sorong, Pelabuhan Cirebon, Pelabuban Kijing dan Pelabuhan Palembang.

Pelindo II mengalokasikan Rp8 triliun dari obligasi tersebut untuk Pelabuhan New Priok. Sementara sisanya dipergunakan untuk pembangunan diluar New Priok. Tahun ini, New Priok merupakan prioritas utama.

“Kita punya 12 pelabuhan di 10 provinsi. Letaknya juga di pulau-pulau utama Indonesia sehingga investor yakin dengan Pelindo II. Sementara untuk container, hampir 50% di-cover pelabuhan kita,” ucapnya.

Obligasi Global Rp.6,7 Triliun Pelindo III

Pada tahun 2018, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III juga sukses menerbitkan obligasi global sebesar US$ 500 juta atau Rp 6,7 triliun (kurs Rp 13.500) dengan tenor lima tahun. Besaran kupon dipatok 4,5% yang akan jatuh tempo pada 2 Mei 2023.

Penerbitan obligasi Pelindo III terjadi saat volatilitas kondisi pasar tinggi di minggu akhir bulan April 2018. Kendati pasar finansial bergejolak, Pelindo III mampu melakukan penetrasi pasar dengan eksekusi satu hari saja. Proses ini relatif cepat dan menjadikan Pelindo III sebagai BUMN pertama yang mampu menerbitkan obligasi global tanpa roadshow.

Dengan mengumumkan dan menetapkan kesepakatan pada minggu terakhir April, Pelindo III kemudian dapat mengakses pasar. Menurut Dirut PT Pelindo III saat itu, Ari Askhara, sebagaimana ditulis detikfinance (9 Mei, 2018) pada pemesanan surat utang ini mengalami kelebihan permintaan sebanyak hampir dua kali.

“Kinerja perusahaan menunjukkan impresi yang meyakinkan, sehingga para investor obligasi menaruh kepercayaan yang tinggi untuk perusahaan,” katanya dalam keterangan tertulis.

Surat utang yang diterbitkan berhasil menarik minat secara global dengan total 68 akun yang berpartisipasi. Secara geografis, alokasi surat utang ini didistribusikan sebesar 71% ke Amerika Serikat (AS), 14% ke Asia, dan 15% ke Eropa dengan tipe investor 75% adalah fund managers, 8% bank, dan 17% asuransi serta dana pensiun.

Surat utang yang diterbitkan akan dicatatkan pada Singapore Stock Exchange. Bertindak sebagai joint lead managers adalah ANZ, Mandiri Securities, dan Standard Chartered Bank. Penerbitan surat utang ini merupakan cerminan komitmen Pelindo III sebagai BUMN, bersama dengan pemerintah Indonesia, untuk terus melakukan pembangunan di sektor pelabuhan dan infrastruktur di Indonesia.

Pelindo III selanjutnya akan mengelola dana tersebut untuk membiayai pembelanjaan modal perusahaan yang diperkirakan mencapai Rp 7,25 triliun. Selain itu, perusahaan pelat merah tersebut juga akan melakukan refinancing utang senilai Rp 4,39 triliun dan sejumlah aksi korporasi lainnya seperti rencana pembelian saham perusahaan swasta.

Alokasi belanja modal ini diperuntukkan untuk sejumlah program strategis, antara lain pembangunan tahap pertama Terminal Kalibaru Barat, revitalisasi alur dan renovasi fasilitas Pelabuhan Benoa, dan pembangunan Terminal Cruise dan Peti Kemas di Gilimas Lombok, pembangunan flyover dan tapper Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB) Terminal Teluk Lamong.

“Pertumbuhan arus kapal dan barang, bahkan mencapai 20% dan peningkatan laba bersih sebesar 35% di tahun 2017 dibanding tahun lalu,” ungkap Ari.

Pelindo IV Obligasi Rp.3 Triliun

Pada tahun yang sama dengan Pelindo III, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV juga mencatatkan obligasi perdananya pada tahun 2018. Pada Kamis, 5 Juli, 2018, Pelindo IV terbitkan obligasi senilai Rp 3 triliun di di Bursa Efek Indonesia. Obligasi tersebut ditujukan untuk melanjutkan pembangunan sejumlah proyek pelabuhan strategis Pelindo IV di kawasan Timur Indonesia.

Direktur Utama Pelindo IV saat itu, Doso Agung, memaparkan, dana dari penerbitan obligasi ini akan digunakan untuk menyelesaikan empat proyek pelabuhan strategis, yaitu Makassar New Port, Kendari New Port, Pelabuhan Bitung, dan Pelabuhan Pantoloan-Palu. Sementara, sekitar 20% akan digunakan untuk refinancing utang perusahan.

“Harapannya, dana dari obligasi ini dapat mendukung dana internal kami selama ini untuk mempercepat pembangunan konektivitas di bagian timur Indonesia. Terutama, meningkatkan hubungan dagang antar pulau maupun ekspor-impor, serta menekan disparitas harga,” ujar Doso sebagaimana ditulis Kontan, edisi 5 Juli, 2018.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mewakili Menteri BUMN Rini Soemarno saat itu, mendukung langkah Pelindo IV dalam mencari sumber pembiayaan untuk menyelesaikan proyek strategis nasional. Menurutnya, Pelindo IV harus memanfaatkan dana obligasi secara optimal sesuai anggaran kerja perseroan sebagai pengelola jasa pelabuhan di wilayah timur Indonesia.

“Ini sejalan dengan upaya Kementerian mendorong BUMN mencari alternatif pembiayaan proyek, termasuk dari pasar modal,” ujar Aloy.

Adapun, Doso mengakui, sejatinya, Pelindo IV mendapat mandat dari Kementerian BUMN untuk menerbitkan obligasi dengan nilai Rp 5 triliun. Namun, mengenai penerbitan obligasi dengan nilai sisanya Rp 2 triliun, Doso mengatakan masih akan melihat kondisi pasar terlebih dahulu. “Toh, free cash flow kami sekarang masih sekitar Rp 50 miliar per bulannya,” pungkas Doso.

Sekadar informasi, Obligasi I PT Pelabuhan Indonesia IV diterbitikan dalam tiga seri. Seri A bertenor lima tahun senilai Rp 380 miliar dengan kupon 8%. Seri B bertenor tujuh tahun senilai Rp 1,82 triliun dengan kupon 9,15%. Seri C bertenor sepuluh tahun senilai Rp 800 miliar dengan kupon 9,35%.

Bunga obligasi nantinya akan dibayarkan setiap tiga bulan kepada investor dengan tanggal pembayaran bunga pertama pada 4 Oktober 2018. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengganjar Obligasi I Pelindo IV ini dengan peringkat idAA (double A).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *