Golden Fortune Call Perdana, Angin Segar Bagi Pelabuhan Kijing

KM Golden Fortune untuk pertama kalinya bersandar di dermaga Pelabuhan Internasional Kijing yang berada di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Kamis, 27 Agustus, 2020.

Kapal besar dengan nama KM Golden Fortune (IMO: 9852523) adalah kapal pengangkut Massal dan berlayar di bawah bendera Marshall Is. Daya dukungnya adalah 81600 t DWT dan drafnya 7 meter serta panjang kapal keseluruhannya (LOA) adalah 229 meter dan lebarnya 32 meter.

Dilansir MarineTraffic Terrestrial Automatic Identification System, Kapal KM Golden Fortune bertolak dari Jingjiang Port China ATD: 2020-08-18 08:09 LT (UTC +8) berlayar dengan kecepatan 12,8 knot dan tiba di Pelabuhan Kijing ETA: 2020-08-26 18:00 LT.

KM Golden Fortune adalah kapal yang digunakan untuk mengangkut CPO oleh PT Energi Unggul Persada (EUP), adalah anak usaha Wilmar Group, yang bergerak di bidang pengolahan Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.

Setahun setelah dimulainya pembangunan Pelabuhan Kijing oleh IPC/Pelindo II tepatnya pada akhir tahun 2018, EUP membangun Bulking Station (BS) di Sungai Limau, Mempawah berdekatan dengan Pelabuhan Kijing berjarak hanya 11 km.

BS adalah fasilitas penimbunan CPO yang terdiri dari sejumlah tangki timbun CPO yang lokasinya berada di dekat pelabuhan. Tujuannya adalah untuk mempermudah proses bongkar muat pengapalan produk CPO sebelum diekspor atau menuju pabrik penyulingan untuk pengolahan selanjutnya.

Berkaitan dengan progres pembangunan, direncanakan ada sepuluh pabrik untuk tahap utama refineri. Yakni, penampungan hasil produk dari pabrik yang menghasilkan minyak goreng dikemas kiloan atau jerigen dan curah. Minyak goreng paket kiloan untuk lokal di Indonesia, sedangkan jerigen untuk industri kecil, serta produksi minyak curah akan di eksport ke beberapa negara di benua Amerika Latin, India dan China.

EUP juga mengolah inti sawit menjadi produksi solfen atau minyak goreng dengan kualitas tinggi. Selanjutnya, pembangunan tangki CPO tahap pertama dengan kapasitas 200 ribu ton.

Selain itu, EUP juga melakukan pengolahan solar dari bio diesel. Produksi ini untuk mendukung program Pemerintah B20 dan B30. Selanjutnya, EUP juga akan mengolah air sumur atau laut menjadi air mineral serta akan membangun 2 pembangkit uap yang kapasitas 20 ton dan 35 ton.

Pembangunan Bulking Station di Kabupaten Mempawah oleh EUP menelan biaya investasi sebesar Rp.2 triliun. Bulking Station EUP akan memproduksi 3.500 ton CPO per hari dan 1.000 ton biodiesel per hari. Produk olahan CPO ini rencananya akan diekspor ke Tiongkok dan Eropa. Sedangkan produk biodiesel merupakan pesanan dari Pertamina.

Dan pada bulan Maret 2020, Perusahaan yang bergelut di bidang pengelolaan minyak sawit menjadi minyak goreng ini sudah mulai memproduksi Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit.

Kehadiran kapal perdana di dermaga Pelabuhan Kijing membawa angin segar khususnya bagi IPC/Pelindo II dan umumnya bagi masyarakat Mempawah dan terlebih untuk industri CPO di Kalimantan Barat.

Desain Pelabuhan Kijing

Angin segar untuk IPC/Pelindo II yaitu semangat didalam penyelesaian pembangunan tahap I, dimana sesuai rencana akan mulai diujicobakan pada kuartal keempat tahun ini, ternyata pada bulan Agustus ini sudah dapat disandari kapal besar sekelas KM Golden Fortune.

Dalam pengoperasiannya, EUP telah berkomitmen mengutamakan tenaga local dari masyarakat Mempawah. Project Departement Head PT Energi Unggul Persada (EUP), Yohanes Aritonang memastikan bahwa pihaknya akan memprioritaskan warga lokal sebagai karyawan di perusahannya. Bahkan, menurut dia, pemberdayaan masyarakat lokal sangat menguntungkan perusahaan dari sisi bisnis.

“Karyawan tenaga kerja lokal sangat ekonomis. Dari sisi bisnis, kami tidak perlu menyiapkan perumahan, transportasi dan lainnya. Jadi, kami hanya perlu menyiapkan manager, sedangkan jajaran dibawah semuanya direkrut dari masyarakat lokal,” pendapat Yohanes.

Daya Dukung Hilirisasi Industri CPO

Kehadiran EUP di Kalimantan Barat setidaknya membuat Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji saat ini dapat tersenyum bahagia. Hilirisasi industri CPO yang selama ini diimpikan akan segera terwujud. Karena dengan hilirisasi industri CPO akan meningkatkan perekonomian Kalbar dan mensejahterakan masyarakat serta meningkat pendapatan asli daerah (PAD).

Seperti diketahui Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji ketika ditemui Tim Indonesia Shipping Gazette di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat 12 September 2019, Sutarmidji menyatakan Kalimantan Barat merupakan salah satu penghasil CPO terbesar di Indonesia. Namun perkebunan sawit di Kalimantan Barat tidak berimbas langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Sutarmidji juga menyoroti perkebunan kelapa sawit tidak berkontribusi dalam pendapatan asli daerah. Selain itu, Sutarmidji menyatakan selama ini perkebunan kelapa sawit hanya menyumbang pajak bumi dan bangunan untuk daerah tingkat dua. Selebihnya, perkebunan kelapa sawit tidak memberi kontribusi langsung dan justru menjadi beban bagi pemerintah daerah.

“Bahkan pemerintah provinsi membiayai perbaikan jalan yang rusak akibat angkutan sawit. Biayanya besar sekali, sampai ratusan miliar,” ungkap Sutarmidji.

Dengan beroperasinya EUP, proyeksi produksi CPO di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2020 sebesar 4,6 juta ton akan dapat tercapai dari realisasi tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,396 juta ton.

Dan Kalbar akan meningkatkan kontribusi CPO dari 10% menjadi sekitar 12% dari total produksi CPO nasional.

Harijanto, penulis merupakan Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *