Revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar: Membangun Daya Saing dan Langkah Menuju Transhipment Port

Bangun Badan Pengusahaan (BP) berencana akan menggandeng Pelindo II dan Pelindo I dalam revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar agar dapat meningkatkan daya saing dan dapat disejajarkan dengan pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di Indonesia.

Rencana revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar yang akan dilakukan secara konsorsium oleh tiga perusahaan yakni Pelindo II, Pelindo I, dan Persero Batam ini tidak mencakup keseluruhan dermaga yang ada di Pelabuhan Batu Ampar melainkan hanya dermaga di sisi utara. Sedangkan dermaga disisi selatan yang saat ini telah dioperasikan oleh beberapa pihak tetap dioperasikan sebagaimana yang saat ini berjalan. Pihak konsorsium akan melibatkan dan bekerjasama dengan perusahaan bongkar muat yang sudah ada dalam pola operasinya.

Revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar dermaga sisi utara meliputi beberapa tahapan.

Tahap pertama, Dermaga Utara Batu Ampar akan dijadikan Destination Port dengan panjang dermaga mencapai 630 meter. Dermaga ini akan dilengkapi dengan luas lapangan kontainer sebesar 12 hektar dengan berkapasitas 600.000 Teus/tahun.  Pelaksanaan pengembangan diperkirakan mebutuhkan waktu 4-6 bulan, terhitung mulai Bulan Maret 2020, sesuai dengan Heads of Agreement (HoA). Diharapkan pekerjaan pengembangan akan selesai pada Triwulan IV 2020 serta dapat dioperasikan pada awal tahun 2021.

Dalam tahap pertama ini diperkirakan menelan investasi sebesar Rp.1,5 triliun dan melibatkan kontraktor plat merah PT. Wijaya Karya.

Dalam tahap pertama ini juga sudah termasuk pengerukan kolam pelabuhan (dredging) dengan kedalaman 12 meter dari yang eksisting berada di kisaran 4 meter, sehingga bisa didatangi kapal bertipe Panamax berkapasitas 3.000 sampai dengan 3.400 Teus.

Target peningkatan throughput petikemas dalam tahap pertama ini diproyeksikan sebesar 700 ribu teus dari realisasi rata-rata throughput 300 ribu teus.  Dengan proyeksi pendapatan dari kegiatan bongkar muat petikemas sebesar Rp.500 miliar ditahun pertama.

Tahap kedua adalah pengembangan transhipment port semi otomatis. Pada tahap ini, akan dibangun dermaga sepanjang 1.030 meter serta container yard (CY) seluas 32 hektar dengan total kapasitas mencapai 2 juta Teus/tahun. Pengembangan ini diperkirakan memakan waktu 2-4 tahun.

Tahap ketiga adalah pengembangan sebagai international transhipment. Pada tahap ini akan dikembangkan dermaga dengan panjang 2.830 meter serta container yard sebesar 92 hektar dengan total kapasitas 6 juta Teus/tahun. Pengembangan pada tahap ini butuh waktu 5-8 tahun. Jika tahap ini selesai, Pelabuhan Batu Ampar diharapkan bisa didatangi kapal-kapal New Panamax yang memiliki kapasitas angkut sampai dengan 12.500 Teus.

Rencana revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar yang digagas oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam belum berjalan mulus dan masih mendapatkan restitensi dari beberapa asosiasi pengusaha kepelabuhanan di Batam antara lain, Indonesian National Shipowners Association (INSA), Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) dan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI).

Mereka mengkhawatirkan apabila rencana revitalusasi tersebut jadi dilaksanakan akan membuat biaya bongkar muat semakin mahal dan biaya akan naik menjadi dua atau tiga kali lipat lebih mahal seperti di Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Tanjung Priok.

Sebenarnya rencana revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar, berawal dari banyaknya laporan dan keluhan dari pelaku bisnis kepada Pemerintah Pusat bahwa biaya logistik di Batam sangat mahal terutama disebabkan peralatan bongkar muat dan sistem pelayanan yang belum memadai. Untuk itu BP Batam selaku pengelola pelabuhan melakukan upaya pembenahan pembenahan diantaranya perbaikan infrastruktur dan peningkatan pelayanan termasuk optimalisasi aset, salah satunya yaitu dengan merevitalisasi Dermaga sisi Utara.

BP Batam berharap revitalisasi tersebut akan memajukan perekonomian lokal dan nasional. Lebih jauh, hal ini akan meningkatkan daya saing perekonomian di Pulau Batam mengingat posisi pelabuhan Batu Ampar yang strategis di Selat Malaka. Selain itu, revitalisasi tersebut juga bertujuan untuk penataan pelabuhan Batam demi kemajuan bersama. Apalagi, sebenarnya, hal ini tidak akan mengganggu operasional pelaku bisnis yang ada saat ini. Kegiatan revitalisasi juga melibatkan perusahaan bongkar muat lokal (setempat).

Terkait hal tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa revitalisasi Pelabuhan Batu Ampar dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam skala lebih besar. Terkait adanya keberatan beberapa pelaku usaha logistik di Batam, Erick mengaku telah meminta BP Batam menginventarisir semua permasalahan yang muncul, untuk dicarikan solusinya.

“Jangan sampai operasional pelabuhan dimonopoli segelintir orang. Kalau pelabuhan itu dikembangkan, kapasitas dan kapabilitasnya pasti meningkat sehingga kapal-kapal besar yang melintasi Selat Malaka bisa melakukan bongkar muat di sana,” katanya, sebelum mengikuti sidang kabinet di Istana Negara, Senin (17/2).

Harijanto
Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *