SCI: Jasa Logistik Berpeluang Penting Sebagai Konsolidator

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyebutkan masalah skala ekonomi menjadi salah satu penyebab biaya logistik Indonesia yang tinggi, sehingga produk dan komoditas tidak berdaya saing.

Masalah skala ekonomi terjadi karena aktivitas ekonomi dan industri tersebar di banyak pelaku dengan volume dan kapasitas produksi tiap pelaku yang rendah. Masalah ini terjadi pada banyak tahapan dalam rantai pasok.

Pada sektor perikanan, misalnya, masalah skala ekonomi terjadi mulai pada tahap awal, yaitu dalam proses penangkapan ikan oleh nelayan. Masalah skala ekonomi terus terjadi dalam proses pengangkutan dari lokasi pengumpulan ke wilayah-wilayah konsumsi, baik untuk kebutuhan masyarakat maupun industri pengolahan.

Diperlukan peranan perusahaan penyedia jasa logistik untuk melakukan konsolidasi pada tahap pengumpulan maupun pengiriman komoditas, termasuk dalam memfasilitasi implementasi rantai dingin (cold chain).

Masalah skala ekonomi terjadi pada beberapa sektor lainnya termasuk UMKM. Keterbatasan modal dan volume produksi mengakibatkan skala ekonomi yang rendah sehingga produk sulit bersaing dengan luar negeri.

Peranan perusahaan jasa logistik sebagai konsolidator akan dapat mendorong peningkatan volume ekspor industri dan pelaku UMKM, sekaligus meningkatkan surplus neraca perdagangan.

Berdasarkan data BPS, SCI mencatat surplus Indonesia pada tahun 2020 sebesar USD 21.767 juta dengan nilai ekspor sebesar USD 163.306 juta dan impor sebesar USD 141.540 juta.

Setijadi menjelaskan masalah skala ekonomi dan kebutuhan konsolidasi dalam webinar “Prospek Ekonomi & Bisnis Logistik 2021” pada Rabu (24/3). Pembicara lainnya adalah Staf Ahli Kemenko Bidang Perekonomian Raden Edi Prio Pambudi dan dimoderatori oleh Komisaris PT Link Pasipik Indonusa Subagiyo.

Pada acara tersebut dilakukan rebranding Link Pacific Logistics (LPL). Perusahaan dengan merek dagang Blue Sea itu merupakan freight forwarder dengan layanan konsolidasi langsung ekspor dan impor melalui laut dan udara ke/dari Asia, layanan SOC, proyek, dan layanan domestik.

SCI mengapresiasi layanan dan jaringan yang dimiliki oleh LPL, termasuk sebagai konsolidator. Perusahaan manufaktur dan UMKM bisa memanfaatkan layanannya untuk mengefisienkan biaya logistik, sehingga produk dan komoditasnya bisa berdaya saing, termasuk untuk ekspor.

Setijadi mendorong penyedia jasa logistik terus mengembangkan layanan dan model bisnisnya. Agar semakin berdaya saing, perusahaan dengan layanan dasar (foundation services) perlu terus bertransformasi menjadi third-party logistics provider (3PL), lead logistics provider (LLP), hingga lead logistics manager (LLM).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *