Sanksi yang diberikan kepada Rusia oleh masyarakat internasional sebagai rekasi terhadap aksi negara tersebut dalam invasi Ukraina mulai berdampak terhadap berbagai industri, termasuk galangan kapal (ship building).
Sebagaimana dilaporkan Koraen Times, sejumlah galangan kapal di Korea Selatan mengalami kesulitan penagihan terhadap order yang dilakukan sejumlah perusahaan Rusia, menyusul keputusan global yang mengeluarkan Rusia dari sistem transaksi keuangan international (SWIFT). Korea Selatan merupakan salah satu negara yang mendukung pengenaan sanksi tersebut.
Dilaporkan, galangan-galangan di Korea Selatan tidak bisa melakukan penagihan ke sejumlah perusahaan di Rusia yang sudah memesan pembuatan kapal dari galangan-galangan tersebut. Korea Selatan merupakan negara industri pembuatan kapal teratas global bersama dengan China.
Galangan-galangan tersebut juga kesulitan untuk mendapatkan order baru dari Rusai karena Korsel termasuk dalam daftar negara ‘tidak bersahabat’ oleh Rusia. Galangan China diperkirakan akan mendapatkan banyak limpahan dari situasi tersebut yang membuat Korsel akan semakin kalah dalam bersaing dengan China.
Dilaporkan sebelumnya, setelah lama mendukduki posisi teratas sebagai negara yang paling banyak memproduksi kapal secara global, sejak tahun lalu, posisi Korea tersebut sudah mulai digeser China.
“Selama ini, galangan Korea Selatan mendapat banyak pesanan kapal LNG dari beberapa perusahaan Rusia, di mana Samsung Heavy Industries mendapat porsi terbesar,” kata Adam Kent, Direktur Pelaksana Maritime Strategies International, sebagaimana ditulis Korea Times.
Memang, Adam Kent mengakui dampak langsung terhadap industry shipping global sangat kecil mengingat jumlah order dari perusahaan Rusia terhadap galangan kapal global relative rendah yakni hanya 2,5%.
Akan tetapi, nilai pesanan kumulatif perusahaan Rusia yang sedang masuk orderbook tiga galangan kapal terbesar Korea Selatan cukup besar. Total nilai pesanan pada tiga galangan tersebut – Korea Shipbuilding & Offshore Engineering, Samsung Heavy Industries dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering – dilaporkan mencapai $6,5 miliar, yang mencakup pembuatan kapal LNG serta peralatan lainnya.
“Belum ada keputusan apa-apa terkait situasi di Rusia,” kata juru bicara Samsung Heavy Industries.
Galangan-galangan tersebut baru menerima 20% dari nilai kontrak yang dibayarkan saat penandatanganan kesepakatan pembangunan kapal. “Dibutuhkan lima hingga enam tahun untuk membangun kapal-kapal besar. Dan, lebih dari 60% nilai kontrak baru akan dibayarkan saat kapal sudah selesai dikirim,” kata juru bicara dari salah satu galangan kapal Korea yang menolak untuk disebutkan namanya.
Galangan-galangan kapal di Korea tersebut sudah mulai memikirkan scenario jika perusahaan-perusahan Rusia nantinya tetap tidak bisa melakukan pembayaran karena sanksi yang diberikan akan berlanjut.
“Jika ini menjadi masalah berkelanjutan, kami (galangan kapal Korea), bisa beralih ke pasar yang lainnya. Untuk sementara, kami tidak melihat ini sebagai resiko yang sangat besar. Tetapi kami tidak tahu juga ke depannya seperti apa. Kami akan memantau terus dengan cermat,” lanjut juru bicara itu.
Tunda Penyelesaian Sebuah Opsi
Dalam situasi yang ada saat ini, galangan-galangan Korea diperkirakan akan mengambil langkah untuk menunda penyelesaiaan pembangunnan dan pengiriman kapal-kapal dari Rusia tersebut hingga adanya kejelasan soal pembayaran.
“Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering saat ini sedang membangun dua tongkang LNG dan tiga kapal pengangkut LNG Arc7 untuk Rusia. Perusahaan ini sudah sepatutnya untuk melihat resikonya secara lebih seksama,” kata Lee Dong-heon, analis Daishin Securities.
“Meskipun perusahaan (Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering) memiliki daya saing yang relatif lebih besar dalam teknologi pembangunan kapal LNG serta memiliki struktur keuangan yang kuat, akan tetapi kewaspadaan terhadap resiko harus tetap diperhatikan,” tambah Lee Dong-heon.
Beralih ke China?
Pertanyaan juga muncul apakah situasi ini akan menguntungkan galangan China mengingat Beijing tidak menjantuhkan sanksi sebagaimana yang diberikan Seoul terhadap Moskow.
Sebagaimana dilaporkan, kedua negara terlibat dalam persaingan sengit untuk memperebutkan posisi teratas sebagai negara pembuat kapal. Tahun lalu, China baru menyalip Korsel dengan menguasai 49% dari total order global, mengalahkan Korsel dengan market share 38%.
“Galangan kapal China memang sudah memposisikan diri mereka dengan baik. Mereka siap membangun kapal yang lebih efisien dan rendah emisi menyusul kemampuannya untuk membangun kapal-kapal berbahan bakar ganda,” kata Adam Kent.
“Akan tetapi, China saat ini belum mampu membangun kapal LNG Ice Class, sehingga sulit untuk melihat apakah China dalam waktu dekat diuntunkan dari situasi ini,” lanjut Adam Kent.
Pandangan sedikit berbeda disampaikan Allied Market Research. Menurut Lembaga ini, galangan China memiliki daya saing yang sangat tinggi, baik dari sisi biaya maupun dukungan politis pemerintah. Hal ini mempercepat kesiapannya dalam membangun kapal-kapal LNG bernilai tinggi.
“Galangan kapal merupakan industri padat modal. Dukungan pemerintah yang kuat dan stabilitas politik merupakan prasyarat untuk bertahan dalam industri ini. Galangan kapal China memiliki keuntungan ini dibanding negara-negara lain seluruh dunia,” kata Allied Market Research.

