Skip to content

Setahun Merger Pelindo, Kerja Keras Menyatukan Misi dan Visi Demi Terwujudnya Konektivitas Maritim yang Kuat

Foto bersama wartawan Forwami dengan jajaran Direksi Pelindo (depan, berbaju batik), Arif Suhartono, Direktur Utama Pelindo, Ihsanuddin Usman, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum, dan Putut Sri Muljanto, Direktur Pengelola, (jongkok, baju putih) Budi Pratomo, dan Humas Pelindo Pelindo Group

 

Satu tahun lebih setelah merger empat BUMN operator pelabuhan, Pelindo I, II, III, dan IV menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo pada 1 Oktober 2021, Perseroan terus melakukan perbaikan layanan pelabuhan dengan mendorong transformasi bisnis dan sistem di semua lini, dengan tujuan besar memangkas biaya logistik nasional yang tinggi.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Setahun pasca merger, sudah banyak pemberitaan dan ulasan opini mengenai Pelindo baik holding, regional, subholding, maupun anak usaha sub holding, termasuk kantor cabang, yang telah ditulis oleh media, khususnya wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Indonesia (Forwami).

Oleh karena itu, pada Jumat (23 Desember 2022), sebagai wujud sinergi Pelindo dengan Forwami, Perseroan mengadakan pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Update 1 Tahun Paska Penggabungan Pelindo bersama Forwami”, di Museum Maritim Indonesia, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Ali Mulyono, Group Head Sekretarat Perusahaan

Sebagai pembuka acara, Group Head Sekretarat Perusahaan Pelindo, Ali Mulyono mengatakan: “Kita berterimakasih kepada rekan media khususnya dalam pemberitaan positif dan juga sebagai penyeimbang mengenai capaian Pelindo selama setahun penggabungan/merger. Harapan ke depan akan lebih baik lagi dan menerima sumbang dan saran untuk saling bersinergi demi kemajuan bersama,”.

Budi Pratomo, Anggota Tim Pelaksana Komite Eksekutif Implementasi Integrasi Kepelabuhanan Pelindo

Lanjut di sesi pemaparan update Pelindo, Anggota Tim Pelaksana Komite Eksekutif Implementasi Integrasi Kepelabuhanan Pelindo, Budi Pratomo menyampaikan: “Awalnya, dari masing-masing di 4 Pelindo yang terpisah, memang kita tidak mudah menyatukan pola pikir SDM dari masing-masing pekerja, sistem, dan standar kerja, operasi layanan, yang sudah terbentuk sejak lama ada. Ini sebuah tantangan yang sangat besar dan kompleks”.

Lanjutnya, setelah merger dan berjalannya proses pelatihan dan pendidikan dalam menyatukan misi dan visi, kini Pelindo telah banyak melakukan perubahan yang mendasar terutama menyamakan mindset SDM, yang sebelumnya terkotak-kotak. Kita terus berusaha untuk mendorong transformasi perseroan maupun dalam peningkatan perekonomian nasional, kata Budi.

“Sebagai contoh, dulu (sewaktu masih Pelindo IV) di Pelabuhan Sorong, Papua, dan mungkin sebagian besar wilayah Indonesia bagian Timur, hari Minggu, pelabuhan laut libur. Karena hari itu adalah untuk beribadah. Tapi sekarang (setelah dibawah satu Pelindo), pelabuhan beroperasi tiap hari,” katanya.

Tambahnya, Pelindo sekarang setelah setahun merger telah mengoperasikan 110 pelabuhan di 32 provinsi yang memiliki 88 cabang dengan jumlah SDM total mencapai 25 ribu pegawai di seluruh Indonesia.

Dalam penjelasan lanjutan, Budi menyampaikan ada empat klaster bisnis utama Pelindo, Klaster petikemas, dengan perusahaan Sub Holding Pelindo Terminal Petikemas; Klaster non petikemas, dengan Sub Holding Pelindo Multi Terminal; Klaster logistik & pengembangan daerah pesisir, dengan Sub Holding Pelindo Solusi Logistik; dan, Klaster kelautan, peralatan, dan pelayanan pelabuhan, dengan Sub Holding Pelindo Jasa Maritim. Dan dari masing-masing kluster, ada anak dan cucu perusahaan.

“Pengelompokan klaster bisnis dilakukan, agar pengembangan bisnis di Pelindo lebih terfokus, meningkatkan kemampuan dan keahlian SDM yang bekerja di setiap klaster, sehingga mampu bekerja dengan lebih efisien dan membuat kepuasan pelanggan meningkat. Jika ini terjadi maka akan membuka pangsa pasar yang lebih luas dan menaikkan keuntungan perusahaan,” jelas Budi.

Arif Suhartono, Direktur Utama Pelindo

Sementara itu dalam sesi tanya jawab, Arif Suhartono, Direktur Utama Pelindo menyampaikan, “Salah satu target Pelindo pasca merger adalah mendukung pengembangan infrastruktur pelabuhan yang lebih terkoordinasi, sehingga dapat memperkuat konektivitas maritim dan hilirisasi industri”.

Kata Dirut, karena itu Pelindo melakukan relokasi sejumlah QCC, RTG dan peralatan lainnya, pendukung kegiatan terminal petikemas. Karena saat ini terdapat ketimpangan antara terminal petikemas di wilayah barat dengan wilayah timur di Indonesia. Sejumlah terminal peti kemas belum didukung dengan peralatan yang memadai. Akibatnya kinerja bongkar muat di sejumlah terminal masih belum maksimal.

“Selain sejumlah program perbaikan dan peningkatan kompetensi petugas operasional, peralatan juga menjadi hal penting dalam meningkatkan kinerja terminal peti kemas,” kata Arif.

Lanjutnya, pihaknya telah melakukan inovasi standarisasi seluruh layanan operasional termasuk peti kemas maupun non peti kemas. Pada akhirnya ada peningkatan kinerja dan produktivitas di sejumlah pelabuhan paska merger.

“Bagi Pelindo, makin pendeknya port stay dan waktu BSH (bongkar muat) membuat biaya operasional makin efisien, dan diharapkan trafik kapal dapat meningkat. Bagi pelanggan, baik shipping line maupun cargo owner juga dapat memetik manfaat efisiensi biaya dan business opportunity yang lebih besar,” Arif menjelaskan.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Hadir juga pada FGD tersebut, jajaran Direksi Pelindo lainnya, Ihsanuddin Usman, Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum, dan Putut Sri Muljanto, Direktur Pengelola, Guna Mulyana, Head Regional 2 Pelindo, dan Humas Pelindo Group area Pelabuhan Tanjung Priok.