Skip to content

Efisiensi, Value Creation Kunci Kinerja Tambah Kinclong

Efisiensi, Value Creation Kunci Kinerja Tambah Kinclong

IPC Terminal Peti Kemas (IPC TPK), anak usaha PT Pelindo Terminal Petikemas Sub-Holding mencatat kinerja positif pada tahun lalu (2022). Kendati ekonomi belum sepenuhnya pulih sebagai dampak dari Covid-19, namun kinerja perusahaan tetap kinclong.  Hal tersebut tercermin pada data produksi (throughput), pendapatan, serta laba bersih yang semuanya melampaui target. Beberapa inisiatif pasca merger, khususnya penciptaan nilai tambah melalui beberapa value creation strategy dan langkah efisiensi biaya yang diambil menjadi faktor kunci terhadap prestasi positif tersebut.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Dalam laporan tahunannya yang dirilis pada media gathering baru-baru ini (24 Januari 2023), IPC TPK melaporkan bahwa throughputnya tumbuh 6%, dari 2.720.810 TEUs menjadi 2.879.118 TEUs. Jumlah ini juga tumbuh 3% dari target yang ditetapkan sebesar 2.802.441 TEU.

Penyumbang volume terbesar adalah TP2 Priok (1,282 juta TEUs), kemudian diikuti TP1 Priok (975 ribu TEUs), Teluk Bayur (93 ribu TEUs), Pontianak (263 ribu TEUs), Palembang (110 ribu TEUs), Panjang ( 116 ribu TEUs), dan Jambi (40 ribu TEUs).

Volume ini tumbuh lebih tinggi dibandingkan induknya PT Pelindo Terminal Petikemas Subholding (SPTP). Dilaporkan total throughput SPTP pada tahun 2022 sebesar 11,16 juta TEUs, meningkat 1,08% dibanding tahun sebelumnya (y-o-y), dari
11,04 juta TEU pada tahun 2021.

Sejalan dengan kinerja operasional yang positif tersebut, IPC TPK membukukan kinerja keuangan yang memuaskan. Pendapatan tercatat sebesar Rp 2,85 triliun, meningkat 14% y-o-y, dari Rp 2,51 triliun pada tahun 2021. Pendapatan ini juga melampaui target sebesar 10%, yang ditetapkan sebesar 2,60 triliun.

Kontribusi pendapatan masing-masing terminal juga seirama dengan kontribusi throughput, di TP2 Tanjung Priok memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp 1,296 triliun. Kemudian disusul TP1 Priok (Rp 818 miliar), Pontianak (193 miliar), Panjang (139 miliar), Palembang (123 miliar), ATS (97 miliar), Teluk Bayur (76 miliar), dan Jambi (51 miliar).

Sedangkan laba bersihnya mencapai Rp 292,8 miliar, meningkat 17% YoY dari Rp 250 miliar di tahun 2021. Laba tersebut juga lebih tinggi dari target, sebesar 34%, dari Rp 219 miliar yang dicanangkan di awal tahun.

Efisiensi Operasional dan Biaya

Mengomentari kinerja positif tersebut, Direktur Utama IPC TPK David P. Sirait menjelaskan dua faktor utama. Pertama adalah melakukan efisiensi baik biaya maupun operasi, dan kedua yakni penciptaan nilai-nilai tambah (value creation).

“Kedua aspek ini telah membantu perusahaan mencapai kinerja positif. Kami telah mengambil beberapa pekerjaan dan strategi value creation  baik dalam operasi dan pemasaran sementara pada saat yang sama, kami telah melakukan efisiensi biaya dalam segala aspek pada semua terminal yang kami operasikan,” kata David.

David menyebut efisiensi konsumsi bahan bakar sebagai contohnya. Pada tahun 2022 IPC TPK berhasil memangkas konsumsi bahan bakar sebesar 2%, dari 3,97 liter/TEU pada tahun 2021 menjadi 3,90 liter/TEU pada tahun 2022. Efisiensi bahan bakar, kata dia, terjadi di seluruh terminalnya.

Senada dengan hal tersebut, Manager Operasi Medi Utama IPC TPK menjelaskan bahwa setelah beberapa langkah efisiensi dilakukan, rasio bahan bakar terhadap throughput per area pada tahun 2022 adalah sebagai berikut: TP1 (4,59 liter/TEU), ATS (1,4 liter/TEU), Teluk Bayur (4,15 liter/TEU), Pontianak (5,03 liter/TEU), Palembang (1,31 liter/TEU), Panjang (3,06 liter/TEU), dan Jambi (4,66 liter/TEU).

Selain strategi efisiensi biaya, efisiensi operasi ditingkatkan dengan meningkatkan produktivitas. Pada bulan November misalnya, IPC TPK mencatatkan rekor dalam aktivitas bongkar muat. Rekor tersebut diraih saat melayani call MV MSC Regina di Terminal 3 Tanjung Priok. Dengan mengerahkan 7 Unit Quay Container Crane, BSH (box/ship /hour) yang dimiliki mencapai 95,72 pergerakan, jauh lebih tinggi dari target yang ditetapkan Kementerian Perhubungan sebanyak 55 pergerakan.

Di awal tahun, IPC TPK untuk pertama kalinya melayani MV MSC Tianshan, kapal terbesar dengan panjang (LOA) 334 meter yang membawa sekitar 2.000 kontainer kosong berukuran 40 kaki untuk membantu mengatasi kelangkaan kontainer dalam menunjang produk ekspor Indonesia di luar negeri.

Sebagai upaya digitalisasi layanan, IPC TPK menjadi pionir penerapan TOS Nusantara dan Single Billing sehingga seluruh aktivitas operasional layanan dapat tercatat dan terpantau melalui sistem yang terintegrasi dengan biaya yang rendah.

Value Creation: Sumber Pendapatan Baru

Selain menciptakan efisiensi melalui kegiatan-kegiatan tersebut di atas, IPC TPK juga mempunyai beberapa kegiatan yang menciptakan nilai tambah yang mendukung peningkatan pendapatan. Yandri Trisaputro, Senior Manager Komersial IPC TPK, menyebutkan beberapa kegiatan dan layanan baru sesuai dengan areanya.

Pertama, di Area 2 Tanjung Priok, IPC TPK menangani sebanyak 7 New Direct Services & Transhipment sepanjang tahun. Layanan ini telah menghasilkan pendapatan hingga Rp 140 miliar;

Kedua, perluasan pemanfaatan lapangan untuk mendukung tingginya volume penumpukan peti kemas di Area Tanjung Priok 1 sehingga menghasilkan pendapatan hingga Rp 1 miliar;

Ketiga, memulai kemitraan strategis utama dengan TOYOTA untuk menangani manajemen kargo (pendukung terminal), menghasilkan pendapatan hingga Rp 372 miliar;

Keempat, kreativitas pendapatan melalui sinergi & kolaborasi Pelindo Group dengan PTP Multiguna (Teluk Bayur), menghasilkan sumber pendapatan baru hingga Rp 1,5 miliar;

Kelima, layanan langsung baru dari Pontianak ke Singapura dan  pendapatan dengan PTP Multiguna (Pontianak). Kedua kegiatan tersebut telah menghasilkan pendapatan masing-masing sebesar Rp 12,4 miliar dan Rp 1,7 miliar;

Keenam, kemitraan dengan MTI, MKJ, & SSL untuk mendukung penanganan kargo APP Group (Palembang), menghasilkan pendapatan hingga Rp 1,2 miliar;

Ketujuh, perluasan pelayanan pemeriksaan karantina di dalam terminal dan depo peti kemas baru yang terintegrasi dengan terminal (Panjang); memulai kemitraan strategis dengan BMS & BMA untuk mendukung penanganan kargo proyek (Jambi).

Inovasi Berkelanjutan

David menegaskan komitmen IPC TPK untuk terus berinovasi dan menginisiasi terobosan baru guna mendukung peningkatan kinerja perusahaan dan optimalisasi layanan.

“Kami telah memberikan pelayanan ekstra kepada pengguna jasa mulai dari sandar pada saat kedatangan, pelayanan berdasarkan perencanaan dan pengendalian, optimalisasi dan digitalisasi peralatan bongkar muat peti kemas, hingga saat kapal meninggalkan dermaga. Dan kami berkomitmen untuk meningkatkan layanan ini,” katanya.

Sesuai rencana IPC TPK, pada tahun ini (2023), terminal akan terus melaksanakan program standardisasi skema operasional berdasarkan P&C di terminal peti kemas domestik; melakukan intensifikasi program pemasaran kepada perusahaan pelayaran dan pemilik muatan, termasuk jasa transshipment; membangun perencanaan dan pengendalian terpadu baik untuk jalur pelayaran dengan terminal maupun terminal dengan terminal; melakukan kajian pengembangan usaha terhadap usaha baru, pasar baru, dan kawasan baru; dan penerapan sistem operasi terminal tunggal (single TOS).

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Peningkatan produktivitas terminal melalui digitalisasi dan sistemisasi pengoperasian serta optimalisasi aset dan penciptaan nilai tetap menjadi program utama perseroan pada tahun 2023 agar target yang ditetapkan pemegang saham dapat tercapai dan mendukung upaya holding dalam memangkas biaya logistik nasional dan waktu singgah kapal di pelabuhan,” kata David.