Skip to content

Keterlambatan Kedatangan Kapal Capai Level Tertinggi Setelah Pandemi

Keterlambatan kedatangan kapal dari jadwal yang direncanakan pada tahun ini (2024) mencapai level tertinggi setelah pandemi. Demikian disampaikan dalam laporan terbaru Sea-Intelligence, sebuah lembaga riset terkemuka yang fokus pada industry pelayaran global.

Menurut Sea-Intelligence, rata-rata keterlambtan kedatangan kapal pada tahun 2024 sangat tinggi, dan mencapai puncaknya pada bulan Septmber, yakni 5,67 hari/call. Angka ini mendekati situasi pada masa puncak pandemi 2021. Hal ini terjadi hampir merata pada 34 jalur perdagangan utama global.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Konflik di Laut Merah yang memaksa pelayaran beralih dari Terusan Suez dan mengubah rute pelayaran melalui Tanjung Harapan Afrika menjadi penyebab utama.

Schedule reliability: 50-55%

Pada tahun 2024, meskipun ada stabilitas keandalan jadwal (liner schedule reliability) yang cukup konsisten, persentase kapal yang tiba tepat waktu terus mengalami penurunan. Schedule reliability rata-rata untuk industri ini tercatat pada kisaran 50 hingga 55 persen, namun mengalami penurunan sejak puncaknya pada bulan Mei 2024.

Alan Murphy, CEO Sea-Intelligence, mengatakan pada bulan September 2024, schedule reliability industri in turun ke level 51,4%, titik terendah dalam dua tahun terakhir. Hal ini menunjukkan kemerosotan signifikan dibandingkan dengan angka tahun 2023 yang mencapai lebih dari 60%. Kinerja saat ini bahkan lebih rendah dibandingkan dengan angka pre-pandemi pada 2019, di mana schedule reliability masih berada pada level 80%.

Di tengah kondisi yang menantang ini, beberapa liner, seperti Maersk, tetap mempertahankan kinerja yang relatif baik meskipun ada penurunan. Maersk tercatat sebagai salah satu operator dengan tingkat reliability terbaik, meskipun masih mengalami penurunan signifikan dari tahun sebelumnya.

Di sisi lain, liner besar lainnya seperti MSC, PIL, dan Wan Hai mencatatkan penurunan yang sangat tajam, masing-masing turun lebih dari 20 poin dari tahun sebelumnya.

Kinerja operator yang terbaik pada bulan September 2024 hanya mencapai 55,5 persen, jauh lebih rendah dari angka 70 persen pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun operator besar telah melakukan upaya untuk meningkatkan keandalan jadwal mereka, gangguan yang terjadi di sejumlah rute perdagangan utama telah membuat pencapaian target menjadi semakin sulit.

Kongesti di Pelabuhan

Kongesti di pelabuhan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan keterlambatan. Pelabuhan-pelabuhan di Asia, terutama di Tiongkok, Singapura, Hong Kong, dan Korea, mengalami kongesti yang sangat tinggi pada tahun ini. Selain itu, pelabuhan-pelabuhan utama di Eropa Utara, serta pelabuhan Savannah di AS, juga menunjukkan tingkat kongesti yang meningkat.

Pengalihan rute yang terjadi di sekitar Afrika, serta tantangan cuaca musim dingin di lepas pantai Afrika Selatan, telah menyebabkan penumpukan kapal di sejumlah pelabuhan utama. Hal ini memperburuk kemacetan dan menambah keterlambatan, sehingga mempengaruhi keseluruhan kinerja industri pengiriman kontainer global.

Salah satu faktor utama yang terus mempengaruhi kinerja pelayaran adalah gangguan yang terjadi di Laut Merah, yang telah menjadi jalur penting bagi perdagangan internasional. Maersk mengingatkan bahwa gangguan akibat pengalihan rute di wilayah ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga 2025, dengan kelompok Houthi yang dilaporkan masih melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Pemimpin kelompok tersebut mengklaim telah menargetkan lebih dari 200 kapal dalam setahun terakhir.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Dengan demikian, meskipun ada upaya untuk meningkatkan schedule reliability dan mengurangi keterlambatan, gangguan yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut memberikan tantangan besar bagi industri pelayaran global. Banyak operator yang harus beradaptasi dengan situasi ini untuk dapat mempertahankan kelancaran pengiriman di tengah meningkatnya kemacetan pelabuhan dan gangguan operasional.