Pelabuhan Hong Kong tampaknya akan menjadi salah satu korban pertama dari aliansi AP Moller-Maersk dan Hapag Lloyd – Gemini Cooperation. Aliansi baru ini diperkirakan akan memindahkan hub dari kedua pelayaran tersebut dari Pelabuhan Hong Kong ke Pelabuhan Yantian (Hutchison Ports YANTIAN).
Sebagaimana dilaporkan Maersk dan Hapag-Lloyd telah bersepakat untuk membentuk aliansi baru dengan nama Gemini Cooperation dan akan mulai efektif pada Februari 2025, segera setelah Maersk mengakhiri aliansi 2M dengan MSC. Sementara bagi Hapag-Lloyd, aliansi baru ini juga akan mengakhiri keikutsertaannya dalam aliansi THE Alliance.
Menurut Hutchison Port Holdings Trust sebagaimana dikutip tradewinds, Pelabuhan Yantian yang saat ini menjadi pelabuhan utama untuk ekspor dari Tiongkok ke AS dan Eropa, akan menjadi pilihan bagi aliansi Gemini Cooperation sebagai hub-nya.
Beberapa jalur produksi Maersk dan Hapag-Lloyd yang saat ini ditangani di Hong Kong (Kwai Tsing Terminals) diperkirakan akan beralih ke Yantian ketika operasi dimulai. Hanya saja, HPH Trust tidak mengungkapkan berapa volume peti kemas yang dapat terdampak oleh perubahan tersebut. Operator terminal terbesar global yang terdaftar di bursa efek di Singapura ini merupakan operator dari Pelabuhan Hong Kong maupuan Huntchison Port Yantian.
Kerja sama baru antara Hapag-Lloyd dan Maersk akan mengoperasikan sekitar 290 kapal dengan kapasitas gabungan 3,4 juta TEUs.
“Kami akan bekerja sama dengan Gemini Cooperation untuk mengidentifikasi peluang baru yang mungkin dihasilkan oleh kerja sama baru ini,” kata HPH Trust seperti dikutip tradewinds.
Jadwal baru ini akan diluncurkan pada bulan Februari 2025 segera setelah berakhirnya Aliansi 2M antara Maersk dan MSC. Ruang lingkup layanan Gemini Cooperation mencakup tujuh rute perdagangan, termasuk perdagangan Asia/AS dan Asia/Eropa tetapi tidak termasuk perdagangan Intra-Asia.
HPH Trust mengatakan langkah ini mencerminkan perubahan struktural dalam preferensi pengirim barang untuk melakukan pengiriman langsung ke Tiongkok dibandingkan transshipment melalui Hong Kong.
Perubahan pola pengiriman Maersk dan Hapag sebagai konsekwensi aliansi baru ini dipastikan akan membuat posisi Pelabuhan Hong Kong semakin tidak kompetitif dibandingkan dan terancam terlempar dari kelompok 10 pelabuhan terbesar global.
Apalagi dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan pelabuhan Hong Kong semakin melambat. Volume peti kemas yang masuk ke Hong Kong tahun lalu misalnya, tetap stagnan meskipun kontrol lintas batas telah dilonggarkan mulai akhir tahun 2022.

