COSCO Shipping, perusahaan pelayaran terbesar China dan terbesar ke-4 global yang baru-baru ini dimasukkan dalam daftar blacklist Amerika Serikat (AS), memberikan klarifikasi terkait isu tersebut. Perusahaan ini menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam kegiatan militer China dan meminta AS untuk segera mencabut nama mereka dari daftar hitam tersebut.
COSCO juga mengimbau para pelanggan untuk tidak terpengaruh oleh isu ini dan memastikan bahwa mereka akan terus memberikan layanan yang prima, seperti biasa.
“COSCO Shipping dan semua anak perusahaan selalu mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku di negara masing-masing, dengan menjaga kepatuhan ketat dalam seluruh operasi internasional. Kami tetap berkomitmen untuk mendukung perdagangan global dan menyediakan layanan pengiriman serta logistik berkualitas tinggi kepada klien di seluruh dunia, termasuk produsen pertanian, pabrikan, perusahaan energi, pengecer, dan eksportir di Amerika Serikat,” ungkap COSCO dalam pernyataan resminya baru-baru ini.
Pihak COSCO juga menegaskan bahwa tidak ada perusahaan yang terdaftar dalam daftar tersebut yang merupakan ‘perusahaan militer China’.
COSCO berkomitmen untuk bekerja sama dengan otoritas AS guna mengklarifikasi isu ini. “Penetapan ini tidak menyertakan sanksi atau kontrol ekspor, dan operasional global kami akan tetap berjalan tanpa gangguan,” jelas COSCO.
Dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, mendesak AS untuk “segera memperbaiki praktik yang salah dan mencabut sanksi sepihak yang ilegal terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok.
“Tiongkok akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak-hak hukum perusahaan-perusahaan Tiongkok dan hak sah negara tersebut untuk melakukan pembangunan,” tegas Guo Jiakun.
Pencantuman COSCO dalam daftar hitam AS diperkirakan akan mempengaruhi sekitar 500 kapal yang dimiliki oleh China COSCO Shipping Corporation Limited. Meskipun penetapan ini tidak mengandung sanksi langsung, langkah ini dapat menghalangi perusahaan-perusahaan AS dan Barat untuk melakukan transaksi bisnis dengan COSCO.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, pada Selasa, 7 Januari, 2024, Amerika Serikat (AS) memasukkan COSCO, beserta dua perusahaan galangan kapal China dalam daftar hitam (blacklist). Keputusan ini diambil setelah adanya dugaan keterlibatan ketiga perusahaan tersebut dalam aktivitas yang terkait dengan militer China, yaitu People’s Liberation Army (PLA).
Pentagon menilai, COSCO bersama dengan China State Shipbuilding Corp. dan China Shipbuilding Trading Co., sebagai perusahaan yang memiliki hubungan dengan militer China. Meskipun memasukkan perusahaan-perusahaan ini dalam daftar hitam, namun tidak serta-merta menjatuhkan sanksi langsung. Hanya saja, keputusan ini menghalangi perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan transaksi bisnis dengan mereka. Ini menjadi sebuah langkah yang berdampak besar dalam dunia perdagangan internasional.
Langkah AS ini juga mencerminkan meningkatnya pengawasan terhadap sektor transportasi laut dan industri pembangunan kapal China dan menjadikan sektor maritim sebagai salah satu fokus dalam konflik geopolitik. Apalagi, pada saat yang sama, Donald Trump, yang terkenal dengan kebijakan anti China, tengah siap untuk kembali ke Gedung Putih.
Saat ini, China merupakan negara pemasok dan pembuat kapal terbesar dengan memproduksi lebih dari setengah kapal niaga global. Sementara itu, industri pembuatan kapal AS telah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

