Skip to content

Liburan Imlek: Index Spot Rate Turun, Tarif Riil di Pasar Lebih Rendah dari Index

Seiring dimulainya liburan Tahun Baru Imlek akhir pekan lalu lalu, freight rate (spot rate) angkutan kontener semakin turun. Penurunan terutama dipicu oleh turunnya volume di China selama liburan Imlek. Tarif rill di pasaran, menurut sejumlah laporan, bahkan jauh lebih rendah dari indeks.

World Container Index (WCI) Drewry memperlihatkan spot rate rute Transpasifik dalam perdagangan minggu ini saat memasuki liburan Imlek mengalami penurunan. Untuk rute Shanghai-Los Angeles, misalnya, spot rate turun 8% menjadi $4.813/FEU, sementara Shanghai-New York turun 7%, menjadi $6.377 per 40 kaki.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Secara kumulatif, menurut Drewry, indeks spot rate mingguan turun 11%, menjadi $3.445/FEU. Jika dibanding dengan periode yang sama tahun lalu, angka ini bahkan turun lebih besar yakni 13%.

Hal yang sama diperlihatkan indeks XSI Xeneta di mana spot rate rute Transpasifik turun 3%, menjadi $5.162/FEU.
Penurunan terbesar terlihat pada perdagangan Asia-Eropa. Peringatan soal perang tarif yang yang diperingati sebelumnya tampaknya mulai terbukti.

Rute Shanghai-Rotterdam mengalami penurunan yang cukup tajam yakni 19%, menjadi $3.434/FEU. Dibanding tahun lalu, penurunannya lebih besar yakni 31%. Sementara tarif untuk rute Shanghai-Genoa turun 10%, menjadi $4.562/FEU.

Menurut laporan The Loadstar, tarif riil yang dijual di pasar bahkan lebih rendah. Mengutip laporan sebuah perusahaan pengiriman di Tiongkok, The Loadstar melaporkan, tarif yang ditawarkan untuk rute China (Shanghai) ke Inggris tercatat hanya $2.300/FEU. Artinya, tarif di pasar bisa $1.000 lebih rendah dari indeks.

Shanghai International Freight Index (SCFI) juga mengalami penurunan, kendati lebih kecil yakni sebesar 6% untuk rute Shanghai-Eropa Utara. SCFI juga memperlihatkan kecendrungan penurunan tarif dalam dua minggu ke depan di mana aktivitas pengiriman diperkirakan akan melambat.

Efek Potensi Normalisasi Terusan Suez

Selain karena liburan Imlek, gencatan senjata antara Hamas dan Israel, serta pernyataan dari kelompok Houthi mengenai penghentian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah bisa berdampak besar pada penetapan tarif dalam beberapa minggu ke depan. Jika gencatan senjata tersebut mendorong pelayaran kembali lewat Terusan Suez, tarif diperkirakan akan turun drastis.

“Jika rute Suez kembali dibuka setelah gencatan senjata, harga tarif kemungkinan akan turun,” kata Alan Murphy, CEO Sea-Intelligence, kepada The Loadstar. “Bagi perusahaan pelayaran dan para investor, ini mungkin menjadi berita buruk.”

Murphy menjelaskan bahwa tingginya tarif angkutan sebelumnya didorong oleh keterbatasan kapasitas yang terjadi akibat krisis di Laut Merah. Kembalinya rute Suez diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan pasokan dan permintaan global, mirip dengan yang terjadi pada akhir tahun 2023.

Secara umum, para analis sepakat kembalinya rute Suez kemungkinan akan menyebabkan terjadinya oversupply dan kemacetan di beberapa pelabuhan. “Periode penyesuaian untuk kembali dari rute panjang (lewat Tanjung Harapan Afrika) ke rute yang lebih singkat (via Terusan Suez) akan memakan waktu yang cukup lama. Ini berpotensi menyebabkan kongesti di sejumlah pelabuhan,” kata Judah Levine, kepala analis Freightos.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Namun, Murphy memprediksi untuk jangka panjang, tarif akan terus menurun. “Setelah periode penyesuaian dengan masalah kemacetan pelabuhan, tarif spot kemungkinan akan turun tajam,” kata Murphy.