Maersk, perusahaan pelayaran peti kemas terbesar kedua di dunia, mengeluarkan peringatan kepada pelanggan untuk segera mengambil kargo mereka dari pelabuhan di East Coast dan Gulf Coast Amerika Serikat (AS) sebelum 15 Januari. Hal ini seiring dengan ancaman mogok kerja yang mungkin terjadi, yang dapat mengganggu operasional pelabuhan hanya beberapa hari sebelum pelantikan Presiden terpilih, Donald Trump, pada 20 Januari.
Dalam pernyataan yang dirilis pada 31 Desember 2024, A.P. Moller-Maersk A/S yang berbasis di Kopenhagen mengungkapkan, “Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai pada tanggal tersebut, mogok kerja di seluruh pesisir pada 16 Januari mungkin akan terjadi.”
Meskipun demikian, perusahaan pelayaran terbesar kedua dunia ini menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada perkembangan signifikan dalam negosiasi antara pihak-pihak terkait.
Maersk telah menyampaikan peringatan serupa pada 19 Desember, menekankan bahwa situasi ini masih dinamis dan potensi pemogokan semakin meningkat seiring dengan berlalunya waktu tanpa kesepakatan. Situasi ini menyangkut sekitar 47.000 pekerja yang tergabung dalam Asosiasi Pekerja Pelabuhan Internasional (International Longshoremen’s Association/ILA), yang mengelola penanganan kargo di pelabuhan-pelabuhan besar di sepanjang pantai timur dan selatan AS, dari Boston hingga Houston.
Perundingan Buntu
Konflik ini berawal dari upaya ILA untuk merundingkan kontrak baru dengan United States Maritime Alliance (USMX), sebuah aliansi yang mewakili operator terminal dan perusahaan pelayaran yang mempekerjakan para pekerja pelabuhan untuk memuat dan membongkar muatan kapal kontainer.
Setelah beberapa bulan bernegosiasi, pada awal Oktober, kedua belah pihak berhasil mencapai kesepakatan mengenai kenaikan upah sebesar 62% selama enam tahun, yang sempat menangguhkan pemogokan selama tiga hari.
Namun, meskipun kesepakatan upah tercapai, masalah utama lainnya—terutama terkait dengan otomatisasi—belum mendapatkan penyelesaian. Dalam perundingan terbaru, yang akan dilanjutkan pada 7 Januari, kedua belah pihak belum menunjukkan kemajuan signifikan. Kegagalan untuk mencapai kesepakatan pada isu-isu penting ini meningkatkan ketegangan yang dapat berujung pada pemogokan.
Isu Otomatisasi dan Dukungan Trump
Salah satu isu utama yang memperburuk ketegangan adalah otomatisasi di pelabuhan. Para pekerja khawatir, penerapan teknologi otomatis dapat menggantikan tenaga kerja manusia, yang mereka anggap sebagai ancaman serius terhadap kelangsungan pekerjaan mereka.
Presiden terpilih, Donald Trump, yang akan dilantik pada 20 Januari, telah menyatakan dukungannya terhadap perjuangan para pekerja pelabuhan, terutama dalam melawan potensi penggantian pekerjaan oleh mesin-mesin otomatis.
Merespons situasi ini, Maersk menghimbau kepada pelanggannya untuk segera mengambil peti kemas yang berisi muatan dan mengembalikan peti kemas kosong mereka ke pelabuhan AS Timur dan Gulf Coast sebelum 15 Januari, guna menghindari gangguan operasional jika mogok kerja benar-benar terjadi.
Dampak Mogok Kerja pada Rantai Pasok Global
Mogok kerja di pelabuhan-pelabuhan besar AS, jika terjadi, dapat memengaruhi kelancaran rantai pasokan global. Sebagai perusahaan yang memiliki peran penting dalam transportasi internasional, Maersk mengingatkan bahwa pemogokan dapat menyebabkan penundaan yang signifikan dalam pengiriman kargo, yang pada gilirannya bisa berdampak pada industri dan ekonomi yang lebih luas.
Seiring dengan semakin dekatnya tenggat waktu, perhatian kini tertuju pada bagaimana kedua pihak—ILA dan USMX—akan melanjutkan perundingan mereka pada awal Januari, dan apakah mereka akan mampu mencapai solusi yang menghindari mogok kerja yang dapat merugikan banyak pihak.

