Serangkaian kebakaran yang terjadi di atas kapal pengangkut charcoal (arang aktif) dalam beberapa waktu terakhir mendorong pelayaran untuk sepenuhnya mendukung peraturan IMO (International Maritime Organization) yang memasukkan jenis cargo tersebut ke dalam golongan barang berbahaya (dangerous goods).
Beberapa perusahaan pelayaran bahkan sudah bersikap proaktif dengan menyiapkan berbagai langkah persiapan menjelang berlakunya peraturan IMO tersebut pada tahun depan (2026).
“Kami telah menyaksikan terlalu banyak kebakaran di atas kapal yang disebabkan oleh penanganan charcoal yang tidak tepat,” ujar Joe Kramek, Presiden dan CEO World Shipping Council (WSC).
“Kebakaran ini tidak hanya membahayakan awak kapal dan kargo, tetapi juga telah menimbulkan konsekuensi yang tragis,” tambah Kramek.
Peraturan baru IMO yang mulai berlaku pada 2026 mengharuskan semua pengiriman charcoal untuk dinyatakan sebagai barang berbahaya yang harus mematuhi protokol penaganan barang berbahaya – International Maritime Dangerous Goods (IMDG) Code. Dengan status sebagai barang berbahaya, pengiriman charcoal harus memenuhi standar penanganan yang ketat, termasuk proses pengepakan dan sistem penyimpanannya.
WSC berperan penting dalam menegosiasikan dan mengembangkan perbaikan signifikan terhadap peraturan internasional ini. “Kami sangat mendukung penerapan peraturan baru ini, karena status quo yang ada saat ini belum cukup untuk menjaga keselamatan awak kapal, kargo, dan kapal itu sendiri,” kata Kramek.
“Penanganan charcoal sebagai barang berbahaya memastikan adanya standar keselamatan yang seragam, serta memberikan kejelasan kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari pengirim hingga operator, dalam mencegah tragedi di masa depan,” tambah Kramek.
World Shipping Council, bersama IGP&I dan TT Club, telah menyusun panduan referensi cepat untuk memastikan pengirim mendapatkan informasi yang lengkap terkait perubahan peraturan ini.
Source: WSC

