Para pemilik kapal tanker menatap sisa tahun ini dengan optimisme, seiring ekspor kuat dari negara-negara OPEC dan potensi pengetatan sanksi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat.
Menurut Baltic Exchange, sebagaimana dilaporkan seatrade-maritime.com, tarif untuk Very Large Crude Carrier (VLCC) mendekati angka USD 72.000 pada akhir pekan lalu (Jumat, 12 September). Beberapa laporan bahkan menyebut tarif tembus USD 100.000 dolar. Lonjakan signifikan terjadi di rute pelayaran menuju kawasan timur dan barat. Pelayaran dari Timur Tengah ke Tiongkok, misalnya, tercatat mendekati 75.000 dolar AS.
Kenaikan tarif ini menyusul tren penguatan pasar dalam beberapa pekan terakhir. Laporan Pasar Minyak Bulanan OPEC yang dirilis pekan lalu mengungkapkan bahwa tarif untuk kapal tipe Suezmax melonjak lebih dari sepertiga sepanjang Agustus, sementara tarif VLCC dari Timur Tengah naik sekitar 20 persen. Pemilik kapal Aframax juga mencatat keuntungan di sejumlah rute utama.
Para pialang memperkirakan pasar tetap bergairah hingga kuartal IV 2025. Usainya musim panas ekstrem di kawasan Timur Tengah diperkirakan mendorong peningkatan volume ekspor. Tambahan kuota produksi dari OPEC mulai Oktober, serta potensi pengetatan sanksi internasional, disebut menjadi faktor pendorong lain.
Pialang Poten & Partners yang berbasis di New York menyatakan, ketidakjelasan hasil dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska baru-baru ini menjadi sumber frustrasi bagi anggota G7, yakni Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Beberapa negara bahkan menyerukan penerapan sanksi yang lebih keras.
Pemerintah AS, misalnya, kini mendorong sesama anggota G7 untuk mengenakan tarif sekunder sebesar 50 hingga 100 persen kepada negara-negara seperti Tiongkok dan India, selama kedua negara tersebut masih terus membeli minyak dari Rusia.
Selain itu, AS juga disebut ingin memperketat perlakuan terhadap aset Rusia yang dibekukan, termasuk mendorong pembentukan jalur hukum yang memungkinkan penyitaan aset-aset Rusia.
Uni Eropa pun telah meluncurkan paket sanksi ke-18 pada pertengahan Juli lalu. Paket ini mencakup penurunan batas harga minyak mentah Rusia dari 60 menjadi 47,6 dolar AS per barel, pembekuan aset tambahan, serta peningkatan pembatasan perdagangan. Salah satu unsur utama dalam sanksi terbaru ini adalah larangan impor produk olahan dari minyak Rusia, meskipun diproses di negara ketiga.
Sementara itu, Inggris menambah 70 kapal tanker ke dalam daftar “armada gelap”, yakni kapal-kapal yang diduga terlibat dalam pengangkutan minyak Rusia secara terselubung.
Poten mencatat bahwa negara-negara G7 tengah mempertimbangkan langkah-langkah lanjutan. Jika sanksi baru diterapkan secara ketat, India dan Tiongkok kemungkinan akan menghadapi tekanan internasional untuk mengurangi impor minyak dari Rusia.
Namun, dalam pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) baru-baru ini, para pemimpin ketiga negara tersebut -Tiongkok, India, dan Rusia – menunjukkan sikap kompak menentang langkah-langkah pembatasan dari Barat.
Sebagai catatan akhir, Poten mengatakan gangguan pasokan yang besar akan mendorong harga minyak lebih tinggi dan berpotensi mengubah pola arus perdagangan global. Dengan makin banyak kapal tanker yang masuk dalam daftar sanksi, para pemain utama kapal tanker diperkirakan akan diuntungkan. Ini berlaku untuk semua segmen, termasuk kapal Aframax, Suezmax, dan tanker-tanker jenis lainnya.

