Skip to content

WTO: Perdagangan Global 2025 Berpotensi Turun Hingga 1,5%

Organisasi Perdagangan Dunia – World Trade Organization (WTO) – memprediksi perdagangan global berpotensi mengalami penurunan hingga 1,5% pada tahun ini, atau tumbuh -1,5%, menyusul kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump.

Hal ini akan menjadi penurunan keenam dalam enam dekade terakhir—menyamai guncangan ekonomi besar seperti pandemi COVID-19 dan krisis keuangan global.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Dalam laporan Global Trade Outlook and Statistics terbaru yang awal pekan lalu, WTO memperkirakan volume perdagangan barang dunia akan menyusut sebesar 0,2% pada tahun 2025, berdasarkan kondisi tarif per 14 April.

Angka ini hampir tiga poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi dalam skenario dengan tarif rendah. Jika ketegangan tarif semakin memburuk, terutama menjelang 9 Juli saat Trump berpotensi memberlakukan tarif tambahan secara global, penurunan bisa mencapai 1,5%.

Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, menyatakan keprihatinannya terhadap ketidakpastian kebijakan perdagangan, terutama kebuntuan antara AS dan Tiongkok. Ia menyebut ketidakpastian ini berisiko menjadi “rem” bagi pertumbuhan ekonomi global.

Lembaga lain seperti Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) juga mengutarakan kekhawatiran serupa. Dalam laporannya, UNCTAD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,3% pada tahun 2025, dipicu oleh kebijakan perdagangan yang tidak menentu, volatilitas keuangan, dan meningkatnya ketidakpastian.

“Ketidakpastian dalam kebijakan perdagangan berada pada titik tertinggi dalam sejarah,” demikian bunyi laporan tersebut. Dampaknya telah terasa dalam bentuk penundaan investasi dan pengurangan perekrutan tenaga kerja.

Di sektor energi, ketegangan perdagangan juga memengaruhi proyeksi permintaan minyak. Badan Energi Internasional (IEA) dan OPEC sama-sama merevisi turun perkiraan permintaan minyak global untuk tahun 2025 dan 2026.

Baik IEA maupun OPEC menyebut hambatan dari langkah-langkah proteksionis—khususnya kebijakan tarif Trump—sebagai penyebab utama.

OPEC memperkirakan peningkatan permintaan minyak hanya sebesar 1,3 juta barel per hari, baik untuk tahun 2025 maupun 2026, atau hanya tumbuh 1%.

Sementara itu, IEA memangkas proyeksi pertumbuhannya sebesar 300.000 barel menjadi 730.000 barel per hari untuk 2025, dan 690.000 barel per hari untuk 2026. Badan Informasi Energi AS juga memotong perkiraan tahun 2025 sebesar 30%, menjadi 900.000 barel per hari. Goldman Sachs lebih konservatif, memproyeksikan kenaikan hanya 300.000 barel per hari hingga akhir 2025.

Sementara itu, di sektor peti kemas, laporan dari Linerlytica menunjukkan sentimen pasar masih suram akibat kebuntuan AS-Tiongkok. Konsesi tarif dari AS dinilai belum cukup untuk mengangkat kembali volume pengiriman lintas Pasifik.

Pemesanan kargo dalam tiga minggu ke depan dilaporkan turun 30-60% di Tiongkok dan 10-20% di seluruh Asia.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Sebagai respons terhadap kebijakan ini, negara bagian California pada Rabu lalu mengajukan gugatan hukum untuk memblokir tarif Trump terhadap mitra dagang asing. Gugatan tersebut menuduh Trump menyalahgunakan wewenangnya dan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan bagi negara bagian dan negara secara keseluruhan.