Oleh: Bambang Sabekti
Ketika saya menjabat sebagai Kepala Cabang American President Lines (APL) di Surabaya pada 1994–2001, Terminal Petikemas Surabaya (TPS) praktis menjadi satu-satunya pilihan utama bagi container shipping line. Pada masa itu, tidak banyak ruang untuk berbicara soal kompetisi antarterminal. Fokus kami lebih sederhana: menjaga hubungan kerja dengan terminal dan memastikan jadwal armada global tetap berjalan sesuai rencana.
Dari pengalaman tersebut, ada satu pelajaran yang terus saya pegang hingga hari ini: kepercayaan shipping line terhadap sebuah terminal tidak hilang dalam satu malam. Pergeseran itu berlangsung perlahan, melalui akumulasi pengalaman operasional sehari-hari, dari soal keterlambatan yang berulang, respons yang lambat, hingga jadwal yang makin sulit diprediksi. Ketika alternatif tersedia, perubahan preferensi itu akhirnya terlihat nyata dalam angka throughput.
Kini lanskap pelabuhan Surabaya telah berubah. Ada dua terminal besar yang bersaing dalam satu ekosistem: Terminal Teluk Lamongan (TTL) dan TPS. Data terbaru memperlihatkan bagaimana keseimbangan di antara keduanya mulai bergeser cukup signifikan.
Pergeseran Signifikan
TTL mencatat throughput 694.996 TEUs pada kuartal pertama 2026 atau tumbuh 4,51 persen secara tahunan. Sementara itu, TPS pada periode Januari–April 2026 berada di kisaran 472 ribu TEUs, turun sekitar 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menarik dibaca karena total throughput pelabuhan Surabaya secara umum relatif stabil. Artinya, penurunan di satu terminal bukan terutama disebabkan melemahnya aktivitas ekonomi Jawa Timur atau turunnya arus ekspor-impor. Yang terjadi justru pergeseran preferensi shipping line dalam menentukan alokasi terminal.
Dalam konteks itu, TTL kini telah melampaui TPS dari sisi pangsa pasar di Surabaya. Ini menjadi perubahan penting mengingat TTL merupakan terminal yang relatif lebih muda dan pada fase awal operasionalnya menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Saya masih mengingat diskusi-diskusi awal ketika TTL mulai beroperasi. Pertanyaan yang paling sering muncul kala itu adalah soal lokasi. Kawasan industri utama Jawa Timur—mulai dari SIER, Rungkut, Berbek, Margomulyo hingga koridor industri Sidoarjo dan Mojokerto—secara geografis lebih dekat ke TPS. Konsekuensinya, biaya trucking menuju TTL lebih tinggi dan waktu tempuh lebih panjang.
Selain itu, pola operasional shipper sudah lama terbentuk menuju TPS. Karena itu, pada tahap awal, TTL harus bekerja ekstra keras meyakinkan shipping line agar bersedia melakukan call ke terminal yang secara geografis lebih jauh dari basis industrinya.
Dalam praktik pelayaran internasional, infrastruktur modern saja tidak cukup. Shipping line membutuhkan kepastian bahwa layanan terminal dapat dijalankan secara konsisten. Pada periode yang sama, TPS juga mengalami beberapa tantangan operasional, termasuk masa transisi peralatan yang memengaruhi keteraturan layanan. Dari situlah perbedaan pengalaman pengguna mulai terasa.
TTL tampaknya mampu memanfaatkan momentum tersebut dengan pendekatan yang lebih responsif. Bukan melalui persaingan yang frontal, melainkan lewat komunikasi yang lebih terbuka, fleksibilitas terhadap jadwal, serta respons cepat ketika terjadi gangguan operasional. Sedikit demi sedikit, persepsi pasar berubah. Terminal yang dahulu berupaya keras mendapatkan pangsa pasar kini justru berada di posisi memimpin.
Konsistensi Layanan Jaga Kepercayaan
Namun, melihat dinamika ini secara objektif, TPS sesungguhnya masih memiliki modal yang sangat kuat. Kedekatan geografis dengan basis industri Jawa Timur tetap menjadi keunggulan yang sulit disaingi. Bagi shipper di Surabaya, Sidoarjo, maupun Mojokerto, efisiensi biaya logistik melalui TPS masih sangat relevan.
Hanya saja, dari sudut pandang shipping line, pertimbangan utamanya tidak berhenti pada jarak atau biaya trucking semata. Pengalaman saya ketika memimpin operasional APL menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan adalah kepastian layanan: kepastian waktu sandar, produktivitas bongkar muat, dan jadwal keberangkatan kapal.
Biaya trucking pada akhirnya menjadi domain shipper. Akan tetapi, keterlambatan kapal berdampak langsung terhadap jaringan pelayaran internasional yang sangat sensitif terhadap waktu. Karena itu, ketika kepastian layanan mulai dianggap kurang terjaga, maka keputusan alokasi call perlahan ikut berubah.
Di titik inilah keunggulan lokasi tidak lagi cukup berdiri sendiri. Ia harus ditopang oleh kualitas eksekusi layanan yang konsisten.
Bagi saya, kompetisi antara TPS dan TTL justru mencerminkan kedewasaan industri terminal petikemas Indonesia. Pelabuhan hari ini tidak lagi sekadar dipahami sebagai fasilitas administratif atau tempat bongkar muat barang. Terminal telah berkembang menjadi penyedia jasa yang dituntut terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif.
Perjalanan TTL menunjukkan bahwa konsistensi layanan dan pendekatan komersial yang tepat dapat mengimbangi, bahkan melampaui, keunggulan struktural yang dimiliki pemain lama. Pada saat yang sama, dinamika ini juga menjadi pengingat bahwa kompetisi di sektor pelabuhan tidak hanya ditentukan oleh investasi infrastruktur, melainkan juga oleh kualitas manajemen operasional dan kemampuan sumber daya manusia dalam merespons perubahan.
Pada akhirnya, kepercayaan shipping line dibangun melalui detail-detail kecil yang berlangsung setiap hari: bagaimana terminal menangani satu call kapal, bagaimana gangguan operasional direspons, dan bagaimana komunikasi dijaga tetap terbuka ketika masalah muncul.
Karena itu, persaingan sesungguhnya tidak berlangsung di atas kertas kapasitas atau pada peta lokasi terminal. Kompetisi paling menentukan justru terjadi dalam kualitas interaksi operasional dan komersial antara terminal dengan para mitra pelayarannya.
Pergeseran keseimbangan antara TPS dan TTL di Surabaya memberi pelajaran penting bagi ekosistem pelabuhan nasional: keunggulan struktural tidak akan cukup apabila kualitas layanan tertinggal. Pada akhirnya, terminal yang mampu menjaga kepastian dan keandalan layanan akan tetap menjadi pilihan utama armada internasional.
(Bambang Sabekti adalah mantan Kepala Cabang American President Lines (APL) Surabaya periode 1994–2001, dengan pengalaman langsung dalam dinamika operasional dan komersial pelabuhan Surabaya sebelum era kompetisi multi-terminal).

