Skip to content

Pelayaran Besar di Korea Selatan Menjalin Aliansi Mengembangkan Kapal Bertenaga Nuklir

  • by

Shipping Line utama Korea Selatan termasuk HMM, Sinokor dan H-Line Shipping telah bermitra untuk bergerak maju dengan rencana mengembangkan kapal dagang bertenaga nuklir. 

Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani Jumat, 10 Februari 2023 waktu setempat oleh perwakilan dari kota Gyeongju, Provinsi Gyeongbuk, Institut Penelitian Energi Atom Korea, Institut Penelitian Teknik Kapal & Kelautan Korea (KRISO), Korean Register, Wooyang Shipping Co, Sinokor, H-Line, dan HMM.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Berdasarkan perjanjian tersebut, para mitra bertujuan untuk mengembangkan dan mendemonstrasikan bagaimana reaktor nuklir modular kecil dapat digunakan untuk menggerakkan kapal. Proyek ini juga akan meneliti pengembangan sistem kelautan antarmuka  yang relevan dan teknologi propulsi serta produksi hidrogen menggunakan reaktor garam cair (molten salt reactors-MSR).

“Saat ini, kemitraan kolaboratif dengan berbagai pelaku industri sangat penting untuk mempelajari bahan bakar alternatif di masa depan sehingga MoU ini dapat mewakili langkah maju yang berarti dalam perjalanan menuju dekarbonisasi industri perkapalan,” kata Juru Bicara HMM, dilansir dari Offshore Energy.

“HMM sedang mengeksplorasi berbagai bahan bakar bersih atau teknologi dengan emisi karbon rendah atau nol, dan teknologi Small Modular Reactor (SMR) adalah salah satunya.”

Para pihak juga sepakat untuk mempromosikan keselamatan operasi sistem tenaga nuklir maritim, serta mengembangkan infrastruktur industri, melatih para ahli dalam operasi tenaga nuklir maritim, dan merancang kerangka peraturan terkait.

Propulsi nuklir mendapatkan minat dari dunia maritim dengan latar belakang tantangan yang berkembang sehubungan dengan peningkatan produksi amonia hijau, e-metanol, dan hidrogen yang diyakini memegang kunci dekarbonisasi pelayaran.

Beberapa manfaat utama yang dibawa oleh teknologi ini adalah kemandiriannya dari harga bahan bakar yang tidak stabil serta fakta bahwa menggunakan nuklir akan memungkinkan kapal untuk meningkatkan efisiensi kapal dengan berlayar lebih cepat dengan tanpa menghasilkan emisi.

MSR adalah reaktor fisi nuklir di mana pendingin reaktor nuklir primer dan/atau bahan bakarnya adalah campuran garam. Reaktor telah dirancang agar aman secara inheren, dengan berbagai fitur keselamatan pasif yang terpasang di dalamnya. Selain itu, bentuknya lebih kecil dari banyak jenis reaktor nuklir lainnya, yang berarti dapat digunakan di kapal dengan ruang terbatas. MSR juga relatif mudah dioperasikan, karena hanya memerlukan beberapa kontrol dan dapat beroperasi pada berbagai temperatur.

MSR juga menghasilkan lebih banyak energi daripada reaktor berbahan bakar padat tradisional dan lebih efisien dalam mengubah uranium menjadi energi. Selain itu, dapat menghasilkan lebih sedikit limbah radioaktif daripada reaktor tradisional, membuatnya jauh lebih aman bagi lingkungan.

Sejak 21 Januari 1954, lebih dari 700 reaktor nuklir dibangun dan dioperasikan di seluruh dunia. Sekitar setengahnya telah dioperasikan di laut.

Di seluruh dunia, sekarang ada banyak proyek pengapalan nuklir yang sedang berjalan. Pembuat kapal Korea Selatan pun sudah mengerjakan pengembangan teknologinya.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Samsung Heavy Industries, misalnya, telah bermitra dengan KAERI dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir terapung berbasis teknologi MSR. Bulan lalu, Samsung Heavy Industries mengumumkan telah menyelesaikan desain konseptual untuk CMSR Power Barge – pembangkit listrik tenaga nuklir terapung berdasarkan reaktor garam cair kompak – dan memperoleh sertifikasi dasar desain dari American Bureau of Shipping. Perusahaan berencana untuk mengkomersialkan CMSR Power Barge pada tahun 2028 setelah desain detail dari semua fasilitas pembangkit listrik pabrik telah selesai.