Hasil negosiasi AS-Tiongkok yang menunda penerapan tarif timbal balik (reciprocal tariff) memicu kenaikan tariff shipping (spot rate) pada rute-rute utama perdagangan global. Keputusan tersebut juga mendorong sejumlah pelayaran mengaktifkan kembali pelayaran yang sempat dihentikan.
Indeks Pengangkutan Peti Kemas Shanghai (Shanghai Containerized Freight Index/SCFI) untuk pekan yang berakhir pada 30 Mei tercatat naik 30% menjadi USD 2.072,71 per FEU (forty-foot equivalent unit), melonjak 486,5 poin dibandingkan minggu sebelumnya.
Kenaikan ini terjadi setelah AS dan Tiongkok menyepakati penangguhan tarif impor hingga 145% menjadi hanya 30% selama masa negosiasi ulang hubungan dagang bilateral.
Kesepakatan tersebut diberlakukan selama 90 hari terhitung sejak 14 Mei 2025.
Sebagai respons cepat, sejumlah operator besar mencabut penangguhan layanan pelayaran antara Tiongkok dan AS. Menurut data Alphaliner, Zim mengaktifkan kembali layanan China Central Express, sementara MSC membuka kembali rute ‘Orient’ dari Tiongkok ke Pantai Barat AS, yang sebelumnya tidak beroperasi sejak 3 Mei.
Tak hanya operator besar, sejumlah pelayaran menengah seperti KMTC, Heung-A, dan CULines juga mulai kembali meramaikan jalur Trans-Pasifik.
Analis dari Linerlytica memproyeksikan peningkatan kapasitas sebesar 50% dalam empat minggu ke depan di jalur perdagangan Trans-Pasifik. Volume pengiriman diperkirakan naik dari 377.000 TEU pada awal Mei menjadi rata-rata 560.000 TEU per minggu.
Sementara itu, World Container Index/WCI versi Drewry mencatat kenaikan yang lebih moderat namun tetap signifikan, yakni sebesar 10% dibanding pekan sebelumnya. WCI kini berada di level US$2.508 per FEU (forty-foot equivalent unit), naik 21% dalam tiga minggu terakhir.
Khusus jalur utama, tarif shipping dari Shanghai ke Los Angeles melonjak 17% menjadi US$3.738 per FEU, sedangkan tarif Shanghai – New York naik 14% ke angka US$5.172 per FEU.
“Penguatan tiba-tiba dan bersifat jangka pendek dalam keseimbangan permintaan dan pasokan peti kemas global telah membalikkan tren penurunan tarif yang mulai terjadi sejak Januari,” kata Drewry dalam laporannya.

