Di tengah tekanan berat yang melanda industri pelayaran kontainer sepanjang 2025, perusahaan pelayaran asal Korea Selatan, HMM, mencatatkan kinerja yang relatif tangguh. Saat tarif angkutan global terperosok dan sejumlah operator besar membukukan kerugian, HMM masih mampu mempertahankan profitabilitas dengan margin operasi 13,4 persen.
HMM membukukan pendapatan tahunan sebesar KRW 10.891 miliar atau sekitar 8,38 miliar dollar AS pada 2025. Laba operasi tercatat KRW 1.461 miliar (1,12 miliar dollar AS), sedangkan laba bersih mencapai KRW 1.879 miliar (1,45 miliar dollar AS).
Meski demikian, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan 2024, laba operasi turun 58,4 persen dan laba bersih menyusut 50,3 persen.
Penurunan itu mencerminkan kondisi pasar yang tak bersahabat. Sepanjang 2025, pasar peti kemas global berada dalam tekanan berkepanjangan. Shanghai Containerized Freight Index rata-rata berada di level 1.581 poin, anjlok 37 persen dari rerata 2.506 poin pada 2024. Tarif spot di berbagai rute utama ikut merosot tajam: ke Pantai Barat Amerika Serikat turun 49 persen, Pantai Timur AS turun 42 persen, dan rute Eropa terpangkas 49 persen.
Tekanan serupa dialami para pemain global. A.P. Moller-Maersk, misalnya, melaporkan kerugian 153 juta dollar AS pada divisi Ocean di kuartal keempat. Padahal, volume angkutan mereka meningkat 8 persen. Kelebihan kapasitas armada menjadi faktor utama yang menekan harga.
Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, juga mencatat penurunan kinerja. EBITDA sepanjang tahun turun menjadi 3,6 miliar dollar AS dari 5,0 miliar dollar AS pada 2024. EBIT merosot ke 1,1 miliar dollar AS dari sebelumnya 2,8 miliar dollar AS. Perusahaan menyebut lonjakan biaya akibat pengalihan rute melalui Tanjung Harapan serta beban awal kemitraan Gemini Network bersama Maersk sebagai penyebab tambahan tekanan.
Sementara itu, Ocean Network Express membukukan kerugian bersih 88 juta dollar AS pada periode Oktober–Desember, dengan pendapatan 4,07 miliar dollar AS. CEO Jeremy Nixon menyebut lingkungan operasi yang menantang—dipicu oleh gelombang pengiriman kapal baru—telah membuat pasokan melampaui permintaan.
Di tengah lanskap tersebut, kinerja kuartalan HMM memberi sinyal awal stabilisasi. Laba operasi kuartal keempat meningkat 6,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara laba bersih naik 19,7 persen. Pendapatan relatif stagnan di level KRW 2.708 miliar (2,08 miliar dollar AS).
Namun, prospek ke depan masih dibayangi risiko. Gelombang pengiriman kapal kontainer baru diperkirakan terus menambah tekanan pada keseimbangan pasokan-permintaan, terutama di tengah pertumbuhan permintaan yang melambat.
Untuk merespons situasi itu, HMM berencana memperluas jaringan hub-and-spoke, memperkuat layanan rendah emisi, serta meningkatkan efisiensi biaya melalui optimalisasi operasi pengumpan. Perusahaan juga mengkaji diversifikasi portofolio kargo curah guna membuka sumber pendapatan baru.
Di luar faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik turut membentuk dinamika industri. Serangan kelompok Houthi di Laut Merah memaksa banyak perusahaan pelayaran memutar haluan melalui Tanjung Harapan, alih-alih melintasi Terusan Suez. Hingga pertengahan Januari 2026, hanya sekitar 26 kapal kontainer per pekan yang melintas di terusan tersebut, jauh di bawah sekitar 80 transit mingguan sebelum eskalasi keamanan pada akhir 2023.
Pada Februari, Maersk dan Hapag-Lloyd menyatakan akan secara bertahap melanjutkan pelayaran melalui Laut Merah untuk sejumlah layanan tertentu, dimulai dari rute ME11 dalam kerja sama Gemini. Namun, apakah langkah itu menandai normalisasi yang berkelanjutan atau sekadar manuver terukur di tengah risiko yang masih tinggi, akan sangat bergantung pada stabilitas keamanan di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.
Di tengah badai tarif dan ketidakpastian geopolitik, kinerja HMM menunjukkan bahwa ketahanan operasional dan strategi adaptif tetap menjadi penentu dalam industri pelayaran yang kian kompetitif.

