Aktivitas Supply Chain Global Diprediksi Semakin Memburuk pada Kuartal Ke-2

Memasuki kuartal ke-2 tahun ini yang dimulai pada bulan ini (April), aktivitas logistik dan supply chain global diprediksi akan semakin memburuk dibanding pada kuartal pertama karena efek covid-19 sudah merambah ke seluruh aktivitas perekonomian dan industri global.

Jika pada kuartal pertama lebih disebabkan karena menurunnya supply baik bahan jadi maupun bahan baku dari China, memasuki kuartal kedua, turunnya aktivitas supply chain dan logistik akan sangat dipengaruhi oleh turunnya demand (permintaan) sebagai dampak dari berhentinya aktivitas industri di sejumlah negara. Sebagai akibatnya, menurut sejumlah analis dan pelaku usaha, dampak terhadap aktivitas supply chain dan logistik akan lebih buruk.

Pada kuartal pertama, negara-negara lain hanya kesulitan melakukan impor bahan baku dari China namun industrinya tetap beroperasi. Memasuki kuartal kedua, banyak negara menghentikan aktivitas industrinya yang derdampak pada menurunnya demand terhadap bahan baku.

Kendatipun aktivitas produksi di China sudah mulai berangsur normal sejak pertengahan Maret lalu, namun, hal ini tidak secara otomatis meningkatkan ekspor dari negara tersebut, karena permintaannya akan menurun.

Sebagaimana dilaporkan, menyusul penyebaran covid-19 di China yang semakin menurun sejak Maret, aktivitas industri dan logistik di negara tersebut berangsur normal. Para pekerja sudah mulai masuk kerja dan pabrik-pabrik sudah mulai dibuka kembali.

Namun saat ini, kegiatan industri dan logistik di negara-negara lain tidak berjalan. Sebagaimana dilaporkan Reuters, para eksporter dan analis mengingatkan permintaan pasar global terhadap produk China akan turun drastis. Akibatnya, volume ekspor China diperkirakan akan jauh lebih rendah dari kuartal pertama.

“Kami prediksi, pada kuartal kedua, aktivitas perdagangan global akan menyentuh titik terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini karena hampir semua negara, termasuk negara industri besar, melakukan karantina yang berdampak pada ketiadaan aktivitas industry dan perdagangan,” kata Rahul Kapoor, Vice President IHS Markit, sebagaimana ditulis Reuters.

Sebagaimana dilaporkan indoshippinggazette.com sebelumnya, pada Januari-Februari, kumulatif container throughput pelabuhan-pelabuhan di turun sebesar 10,6% dibanding periode yang sama pada tahun lalu, sementara volume ekspor turun 17,2%.

Kendati volume produksi barang di China kembali naik pada Maret menyusul mulai beroperasinya kembali pabrik dan aktivitas logistik, namun para eksporter memperkirakan volume shipment dari China akan semakin menurun dalam beberapa bulan ke depan.

“Ada kecemasan pada operator pelabuhan dan pelayaran bahwa dengan semakin meluasnya penyebaran covid-19 pada negara-negara di luar China, akan berdampak pada berhentinya aktivitas industri dan permintaan akan terus menurun. Secara otomatis, permintaan impor dari China juga turun. Ketika permintaan turun ekspor dan produksi di China juga tentu akan kena imbas,” kata Ding Li, General Secretary, Asosiasi Pelabuhan Dunia IAPH.

Hal yang sama diungkapkan Julian Evans-Pritchard, Capital Economics senior China economist. Menurutnya, ekspor China akan terus turun pada tahun 2020 dan diperkirakan turun hingga 30% pada kuartal ke-2.

Trend penurunan ekspor China juga terlihat pada tingkat utilitas kapal-kapal yang berangkat dari China baik ke Eropa maupun Amerika. Juga tercermin pada freight rate yang semakin turun.

Pada aktivitas minggu lalu, menurut Shanghai Shipping Exchange, utilisasi kapal kontener dari China ke Ameika dan Eropa hanya mencapai 85%, turun 10 poin dari tingkat utilisasi pada minggu sebelumnya.

Freight rate juga demikin. Pada perdagangan minggu lalu yang berakhir 27 Maret, freight rate pada rute China-Eropa turun 3,1%, menjadi US$764/TEU, dan untuk rute China-Amerika turun 2,2%, menjadi $1.515/TEU.

Ding memang mengakui masih butuh waktu untuk menyimpulkan sejauh mana efek dan penurunan perdagangan pada kuartal ke-2, namun situasi saat ini telah menciptakan kepanikan dalam kegiatan pengiriman.

Sejumlah pelabuhan di China pada minggu lalu misalnya mempercepat proses pengiriman ke sejumlah negara sebelum adanya kebijakan yang mungkin saja menghalangi pengiriman dari China ke negara-negara tersebut. Volume pengiriman di Pelabuhan Shanghai pada minggu lalu misalnya, naik cukup signifikan, hingga mencapai level 90% dari angka sebelum merebaknya covid-19.

“Ada upaya untuk mempercepat proses pengiriman sebelum adanya kebijakan penutupan di pelabuhan tujuan,” kata Ding.

Permintaan global terhadap komoditas dari China sudah mulai menurun. Sejumlah pabrik tekstil dan pakaian di China sudah mulai merasakan penurunan permintaan global.

“Sudah banyak eksporter di China yang mendapatkan permintaan dari klien-nya untuk membatalkan dan menunda pesanan hingga dua bulan ke depan. Ini tentu akan sangat menggangu aktivitas supply cahin dan logistic,” kata Asosiasi Tekstil China ‘the China National Textile and Apparel Council (CNTAC)’ dalam statement-nya.

Menurut hasil survey CNTAC, dari total 242 eksporter tekstil di China, terdapat 37% sudah mendapatkan permintaan untuk pembatalan atau penundaan selama dua bulan. Sementara, sekitar 26.4% mengalami penurunan order hingga pada level 50% di banding sebelum merebaknya covid-19.

Sementara itu, asosiasi pelabuhan di China memprediksi container throughput di Pelabuhan China akan kembali turun 5-10% pada kuartal ke-dua, dibanding tahun lalu. Sementara impor untuk kebutuhan industri China seperti batu bara dan biji besi akan kembali turun menyusul menurunnya aktivitas produksi dalam negeri.

(Diolah dari sejumlah sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *