Dampak Coronavirus: Freight Rate Terus Melemah, Turun 6-12%

Pelabuhan Shanghai, pelabuhan terbesar di dunia, gerbang utama perdagangan China

Tarif pelayaran (freight rate) terus melemah dalam beberapa minggu terakhir. Kendati supply (ruang kapal) terus berkurang menyusul pembatalan sejumlah pelayaran ke China sejak perayaran Tahun Baru China (Imlek) hingga merebaknya insiden virus corona, hal tersebut tidak membantu menjaga stabilitas harga (freight rate).

Sejumlah lembaga riset yang terus memantau perkembangan tersebut menyimpulkan efek psikologis karena ketidakpastian kapan aktivitas ekonomi dan industry di China akan normal kembali turut menekan stabilitas freight rate.

Menurut data Shanghai Containerised Freight Index per 14 Februari, freight rate untuk rute Asia-Europe turun sebesar 12% dari tarif sebelum liburan tahun baru China. Hal yang sama juga terjadi pada rute Transpasifik yang mengalami penurunan sebesar 6-8%.

Penurunan yang hampir sama juga terlihat dari data yang dikeluarkan World Container Index (WCI).

Menurut Sea-Intelligence, penurunan tersebut lebih disebabkan karena trend penurunan volume ekspor dari China yang terus menurun pasca berhenti beroperasinya sejumlah pabrik di negara tersebut.

“Pengurangan dari sisi supply (kunjungan kapal) sama sekali tidak membantu menjaga stabilitas harga. Efek psikologis dari penurunan volume ekspor lebih menentukan pergerakan freight rate,” demikian analisis Sea-Intelligence.

Sea-Intelligence melaporkan sejak perayaan hari Imlek hingga merebaknya Virus Corona sudah lebih dari 100 jadwal kunjungan kapal yang terpaksa dibatalkan. Pada minggu kedua bulan February misalnya, tercatat ada 25 jadwal kunjungan kapal yang dibatalkan, meningkat dari minggu awal Februari yang berjumlah 21 pembatalan. Jika dihitung dengan pembatalan sejak perayaan hari Imlek pada Januari yang berjumlah 61 pembatalan, maka totalnya sudah mencapai lebih dari 100 pembatalan.

Pembatalan atau pemberhentian layanan juga akan terus berlanjut menyusul ketidakpastian tersebut. Pada akhir minggu lalu (Jumat, 14 Februari), OOCL (Orient Overseas Container Line) mengumumkan menghentikan 2 (dua) layanannya pada rute transpasifik.

Jadi menurut sejumlah analis, industri pelayaran banyak kehilangan potensi pendapatan baik karena pembatalan layanannya maupun karena turunnya freight rate.

Dengan lebih dari 100 pembatalan, menurut logika bisnis, seharusnya bisa membantu menaikkan tarif atau paling tidak menjaga stabilitas harga. Tetapi menurut Sea-Intelligence, ketidakpastian akan kapan aktivitas ekonomi China kembali normal menjadi faktor utama turunnya freight rate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *