Demand Masih Rendah, Pengurangan Kapasitas Berlanjut untuk Jaga Stabilitas Tariff

Memasuki semester kedua tahun ini (H2 2020), permintaan (demand) perdagangan container diperkirakan belum pulih. Volume perdagangan masih lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu (H2 2019).

Menyikapi hal tersebut, menurut analis Maritime Strategies International (MSI) sebagaimana ditulis Lloyd’s Loading List, perusahaan pelayaran akan melanjutkan strategi blank sailing (penangguhan sejumlah jadwal pelayaran). Di samping karena volume yang belum memadai, strategi ini diperdiksi bisa menjaga stabilitas tariff angkut (freight rate) agar tetap tinggi.

Dalam situasi menurunnya volume sebagaimana yang terjadi sejak kuartal pertama tahun ini (Q1 2020), kinerja keuangan perusahaan pelayaran tetap terjaga karena freight rate yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya (2019).

Sebagimana diberitakan sebelumnya, hampir semua perusahaan pelayaran global mengalami penurunan volume selama Q12020, namun revenue dan net profit mengalami peningkatan.

Apalagi, menurut MSI, startegi menurunkan freight rate tidak terbukti bisa menaikkan market share, setidakanya hal tersebut terjadi selama Q1. “Tidak ada fakta pada Q1 yang membuktikan penurunan freight rate dapat meningkatkan market share,” kata MSI dalam pernyataanya.

“Memasuki semester kedua nanti, kami prediksi tidak ada pelayaran yang akan melakukan strategi menurunkan freight rate untuk meningkatkan market share. Dan sebagaimana yang terjadi pada semester pertama (H1 2020), freight rate pada semua jalur utama akan tetap terjaga, lebih tinggi dari freight rate tahun lalu,” kata MSI.

MSI mengakui, strategy blank sailing bukan merupakan satu-satunya faktor yang mendorong tingginya freight rate tahun ini. Sebelum penerapan blank sailing, sejak awal tahun, freight rate sebenarnya sudah naik, menyusul kebijakan IMO soal penggunaan bahan bakar rendah sulfur yang harganya lebih tinggi. Hal ini memicu pelayaran menaikkan tariff untuk meng-cover biaya bunker.

Tetapi dengan meurunnya harga bunker (bahan bakar) sebagai dampak dari harga minyak yang merosot, apakah pelayaran akan melakukan penyesuaian tariff? “Sejauh ini belum terlihat ada kebijakan penurunan freight rate sebagai implikasi harga bunker yang terus turun,” tegas MSI.

Kesuksesan industri pelayaran dalam menjaga stabilitas tariff dapat terlihat pada data-data yang di-release oleh sejumlah lembaga. Data World Container Index yang di-release Drewry misalnya menunjukkan tarif minggu lalu yang jauh lebih tinggi dari tahun lalu.

Indeks tarif minggu lalu pada delapan rute utama antara Asia, Eropa, dan Amerika, menurut Drewry, tercatat sebesar $1,576/FEU (container 40ft). Kendati mengalami penurunan sebesar 1,1% dari indeks minggu sebelumnya, namun dibanding minggu yang sama tahun lalu, indeks tersebut naik 22%. Demikian pun untuk rute Shanghai-Rotterdam. Indeks harga rute ini pada perdagangan minggu lalu tercatat sebesar $1,694/FEU, turun 2% dari perdagangan minggu sebelumnya, namun naik 16% dibandingkan tahun lalu.

Data Freightos juga menunjukkan trend yang sama. Menurut, Freightos, indeks harga China-US West Coast pada minggu lalu tercatat sebesar $1,636/FEU, turun 2% dari minggu sebelumnya, namun naik 32% dari tahun lalu.

Bahkan, sejumlah analis mengingatkan pengguna jasa termasuk pemilik barang atau consignee (forwarders), bahwa kebijakan pengurangan kapasitas melalui strategy blank sailing yang diambil pelayaran akan memicu kenaikan harga yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *