Throughput Pelabuhan pada H1 Variatif, Bagaimana Target Pelindo pada H2?

Terminal Peti Kemas Belawan

Kinerja pelabuhan-pelabuhan di Indonesia selama semester pertama yakni periode Januari-Juni (H1) 2020 cukup bervariasi. Dalam laporan kinerja semsetr 1, empat operator pelabuhan di Indonesia (Pelindo I- IV) mengalami pertumbuhan yang berbeda. Pelindo I dan IV tetap mengalami pertumbuhan throughput (bongkar muat container) positif, sementara Pelindo II (IPC) dan Pelindo III mengalami penurunan, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kinerja semester I diperkirakan akan menjadi gambaran produktivitas keseluruhan selama tahun 2020. Angka ini juga menjadi basis target bagi keempat operator pelabuhan tersebut dalam memprediksi volume yang akan ditangani baik pada semester kedua yakni periode Juli-Desember (H2) maupun untuk keseluruhan tahun 2020. Pelindo I dan IV tetap optimis akan mengalami pertumbuhan yang positif hingga akhir tahun. Sementara Pelindo II dan III lebih realistis dalam memberikan prediksi kinerja tahun ini. Pelindo II memperkirakan throughput kumulatif pada pelabuhan-pelabuhan yang dioperasikannya akan terkoreksi hingga 10% (turun 10%), sementara Pelindo III memprediksi akan turun antara 6-9%.

Apa yang membuat keempat operator tersebut memiliki kinerja yang berbeda?

Pelindo I Tetap Tumbuh

Selama kurun waktu sampai dengan Semester I – 2020, Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 melayani kunjungan kapal sebanyak 435 call, dengan kunjungan kapal di terminal internasional sebanyak 256 call dan di terminal domestik sebanyak 179 call (Kontan.co.id, 28/07/2020).

Bongkar muat peti kemas di TPK Belawan sampai dengan Semester I – 2020 ini sebanyak 424.899 box, naik 6,13 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019 yang sebanyak 400.368 box. Untuk bongkar muat peti kemas di terminal internasional sampai dengan semester I tahun 2020 sebanyak 209.335 box dan untuk terminal domestik sebanyak 215.564 box.

Angka tersebut sama dengan bongkar muat peti kemas di TPK Belawan sebanyak 531.551 TEUs, naik 5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 sebanyak 506.475 TEUs. Terminal internasional melayani bongkar muat peti kemas sebanyak 267.511 TEUs dan terminal domestik sebanyak 264.040 TEUs.

“Trafik bongkar muat peti kemas di TPK Belawan semester I tahun ini tumbuh meningkat walapun pada masa pandemi Covid-19, terutama didominasi bongkar muat peti kemas domestik atau antar pulau.

Kami berharap stabilitas dan pertumbuhan perekonomian pada tahun ini dapat terus tumbuh sehingga trafik bongkar muat peti kemas di TPK Belawan tahun 2020 dapat terus meningkat,” terang General Manager TPK Belawan, Indra Pamulihan.

Bongkar muat peti kemas di terminal internasional sebanyak 3.334.462 Ton dengan komoditi dominan untuk impor yakni: pupuk, makanan ternak, dan chemical serta komoditi dominan ekspornya meliputi: palm oil, chemical, dan minyak.

Sementara itu, bongkar muat peti kemas di terminal domestik sebanyak 3.150.594 Ton dengan komoditi dominan untuk kegiatan bongkar di terminal ini yakni: kertas, semen, dan gula sedangkan untuk komoditi dominan untuk kegiatan muatnya adalah: pecah belah, alat tulis kantor, dan besi ulir.

Selain itu, kinerja operasional TPK Belawan sampai dengan semester I tahun 2020 di terminal internasional mencapai 54,92 B/S/H (Box/Ship/Hour) dan di terminal domestik mencapai 47,66 B/S/H. Produktivitas di kedua terminal tersebut berada di atas standar kinerja bongkar muat peti kemas yang ditetapkan Kementerian Perhubungan yang sebesar 32 B/S/H.

“Kami akan terus memastikan layanan di TPK Belawan selama 24 jam dalam 7 hari untuk menjaga kelancaran logistik dan kami terus optimis trafik bongkar muat peti kemas di TPK Belawan akan tumbuh meningkat karena aktivitas perekonomian sudah dimulai kembali di masa adaptasi kebiasaan baru,” jelas Indra Pamulihan.

Sejak Januari 2020, manajemen Pelindo 1 melakukan penggabungan dua terminal peti kemas yang beroperasi di kota Medan yakni Belawan International Container Terminal (BICT)  dan Terminal Peti Kemas Domestik Belawan (TPKDB) menjadi TPK Belawan untuk upaya strategi korporasi dalam memberikan pelayanan yang lebih baik, handal, dan efisien.

Arus Peti Kemas IPC Semester I Turun 7,7 Persen

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC mencatat hingga semester I/2020, arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok tercatat 2,99 juta TEUs atau 7,7 persen lebih rendah dibandingkan dengan semester I/2019 yang mencapai 3,24 juta TEUs.

Direktur Utama IPC Arif Suhartono mengatakan kendati penurunan arus peti kemas akibat pandemi Covid-19 masih terasa tetapi tidak setajam periode Januari-Mei 2020 yang secara year-on-year (tahunan) turun hingga 10,4 persen. Penurunan pada akhir tahun ini diprediksi bisa mencapai 10 persen jika melihat data periode awal terjadinya pandemi pada bulan sebelumnya (Bisnis.com 17/07/2020).

“Penurunan trafik peti kemas pada akhir tahun 2020 paling tidak di kisaran 10 persen. Perkiraan ini dengan memperhatikan tren pada bulan-bulan sebelumnya,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (17/7/2020).

Arif menjelaskan, aktivitas di pelabuhan memang sangat dipengaruhi oleh aktivitas perekonomian secara umum. Pemerintah sendiri telah membuat beberapa skenario terkait pandemi dan dampaknya bagi perekonomian, salah satunya adalah wabah Corona baru akan reda pada kuartal I/2021.

“Untuk itu saat ini kami tetap bersyukur karena aktivitas di pelabuhan tetap berjalan dengan baik,” tekannya.

Sebelumnya, pada Mei 2020, IPC juga mencatat dampak pandemi menurunkan aktivitas dan produktivitas (throughput) peti kemas hingga 10,4 persen tetap tidak sedalam sektor lainnya seperti minyak dan gas bumi, transportasi serta pariwisata.

Walaupun ada penurunan secara umum, IPC melihat adanya potensi pertumbuhan pada masa normal baru ini seperti kenaikan volume penggunaan pergudangan atau warehouse di sejumlah pelabuhan, termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok.

Saat ini, kata Arief, dia masih mengkonsolidasikan data pertumbuhan okupansi pergudangan di pelabuhan, sebagai bagian dari bahan kajian untuk melihat kembali target perseroan pada 2020.

Menurutnya, melambatnya aktivitas ekspor dan impor juga terjadi di hampir semua negara. China yang sempat menggeliat pada April, kembali terkoreksi pada Mei kemarin. Selain dipengaruhi pandemi Covid-19, juga merupakan imbas dari melambatnya aktivitas ekspor-impor, seminggu menjelang dan setelah Hari Raya Idulfitri.

Pelindo III Prediksi Turun 6%-9% Hingga Akhir Tahun

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III menuturkan arus kapal dan barang mengalami penurunan drastis pada Juni 2020 akibat pandemi virus Covid-19, diproyeksikan terjadi penurunan tipis 6-9 persen hingga akhir 2020.

Direktur Utama Pelindo III Saefudin Noer mengatakan transportasi di era pandemi, proses pergerakan orang dan barang di pelabuhan, di era pandemi ada pola-pola yang berubah dan berdampak ke kinerja pelabuhan. Selain itu, aktivitas internasional pun terjadi penurunan (Bisnis.com 22/07/2020).

“Di laut yang besar itu barang, dari trafik kapal peti kemas internasional, barang kemudian penumpang dan peti kemas domestik dan internasional seluruhnya mengalami penurunan,” jelasnya, Rabu (22/7/2020).

Dia mencatat terjadi penurunan 8 persen pada Juni 2020 dibandingkan dengan 2019 menjadi 32.443 unit. Dengan demikian, dia memproyeksi memasuki masa adaptasi kebiasaan baru trafik kapal dapat mencapai 73.576 unit atau turun 6 persen dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 78.267 unit.

Secara perinci, dia menyebut trafik peti kemas internasional diproyeksikan turun 4 persen hingga akhir 2020, menjadi 2.193 TEUs dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 2.296 TEUs. Adapun hingga Juni 2020 dibandingkan dengan Juni 2019 turun tipis 2 persen menjadi 1.076 TEUs.

Sementara arus peti kemas domestik diproyeksikan turun 4 persen menjadi 2.996 juta TEUs dari 2019 yang dapat mencapai 3.132 juta TEUs. Adapun hingga Juni 2020 terjadi penurunan tipis 3 persen dibandingkan dengan 2019 yakni 1.399 juta TEUs.

Sementara itu, arus barang hingga akhir 2020 diperkirakan mencapai 71.108 ton/M3 turun 9 persen dibandingkan dengan 2019 yang mencapai 78.338 ton/M3. Adapun hingga semester I/2020 terjadi penurunan 10 persen dibandingkan dengan 2019 menjadi 35.094 ton/M3.

“Artinya pergerakan ini perlu dicermati, penumpang dilihat, terjadi penurunan karena kami ada kebijakan bulan lalu tidak ada mudik, sehingga betul-betul penumpang turun sampai 38 persen, sementara kapal cruise dibatalkan sebanyak 117 call hingga Juni 2020,” katanya.

Pihaknya memperkirakan penumpang luar negeri tidak akan bertambah hingga akhir 2020 yakni hanya sebanyak 62.036 orang atau turun 75 persen dari penumpang pada 2019, dan terjadi pembatalan perjalanan kapal cruise 169 call.

Sementara penumpang dalam negeri diprediksi terkoreksi 65 persen dibandingkan dengan 2019 yakni menjadi 1,2 juta penumpang dari sebelumnya yang mencapai 3,4 juta penumpang.

Masih Tumbuh, Pelindo IV Fokus Kiriman Domestik

PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) atau Pelindo IV mengungkapkan pihaknya masih memperkirakan pertumbuhan arus barang di pelabuhan kelolaannya. Pasalnya, mayoritas pengirimannya domestik ke wilayah Indonesia Timur.

Direktur Utama Pelindo IV Prasetyadi mengatakan saat ini barang yang dikelolanya hanya mengelola 3 persen aktivitas lalu lintas barang internasional, sehingga tidak terlalu terdampak pandemi virus corona dan resesi global (Bisnis.com 27/07/2020).

“Jadi di timur ini perdagangan internasionalnya hanya 3 persen, lebih kuatnya di timur konsumsi dan komoditas, konsumsi orang butuh makan, ditambah obat-obatan bantuan Covid-19 banyak ke timur juga menyebabkan kenaikan sedikit,” paparnya kepada Bisnis, Senin (27/7/2020).

Lebih lanjut dengan mayoritas aktivitas pengiriman domestik, dia memperkirakan hingga akhir 2020 trafik kapal yang dikelola Pelindo IV mencapai 66.099 unit atau tumbuh 3 persen dibandingkan dengan 2019 sebesar 65.932 unit.

Dari sisi arus kapal mencapai 489,92 juta Gross Tonnage (GT), tumbuh 15 persen dibandingkan dengan 2020 yang mencapai 407,59 GT.

Namun, dari sisi peti kemas dia memprediksi akan terjadi perlambatan menjadi 2,065 juta TEUs dari 2019 yang mencapai 2,21 juta TEUs. Dari sisi jumlah peti kemas pun turun menjadi 1,82 juta box dari 2019 yang mencapai 1,95 juta box.

“Peti kemas ini, dari Semester I/2020 ke Semester II/2020 kecenderungan naik 3,5 persen tetapi jika dibandingkan dengan tahun lalu turun 5 persen [akibat dari pandemi],” jelasnya.
Menurutnya, penurunan ini tidak terlalu dalam karena aktivitas pengiriman logistik laut domestik kembali tumbuh lebih baik pada Semester II/2020 setelah adanya adaptasi kenormalan baru.

Harijanto, Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *