Layanan Kereta Kontener Asia-Eropa Lagi Naik Daun

Pengiriman barang (kontener) lewat kereta api Asia-Eropa (Trans-EuroAsian Rail Freight Services) saat ini lagi naik daun. Layanan ini menjadi pilihan setelah pengirman lewat laut serta lewat udara mengalami banyak kendala pasca merebaknya coronavirus (covid-19).

Bagi pemilik barang, layanan ini menjadi pilihan. Hal ini disebabkan karena sejumlah faktor, seperti layanan angkutana laut yang tidak menentu serta menurunnya ketersediaan ruang kargo udara yang berdampak pada melonjaknya tarif kargo udara hingga berlipat-lipat.

Sebagaimana diberitakan, menyusul merebaknya wabah coronavirus (covid-19), perusahaan pelayaran banyak melakukan penangguhan layanan. Pada moda udara, menyusul pengurangan bahkan berhentinya penerbangan pesawat penumpang, ruang pengiriman kargo udara juga berkurang drastis. Jikapun ada, tarif-nya sangat mahal, bahkan sampai tiga kali lipat. Transit time lewat udara juga jauh lebih lama dibanding biasanya.

Hal-hal tersebut di atas, sembagaimana dilaporkan Forbes, membuat banyak pemilik barang untuk memanfaatkan layanan kereta api.

Layanan kereta api yang menghubungkan Asia Tengah (China) dengan Eropa saat ini menjadi primadona. Jaringan kereta yang berkembang pesat di bawah program jalur sutera belt and road initiative China ini menjadi solusi terhadap mahalnya biaya angkutan udara pada satu sisi dan serta menawarkan transit time yang lebih cepat dibanding angkutan laut pada sisi lainnya.

Memang pengiriman kargo lewat udara saat ini sangat sulit. Frekwesni penerbangan pesawat penumpang yang sekaligus menyediakan ruang untuk pengiriman kargo berkurang secara drastis selama merebaknya pandemi covid-19. Menurut Forbes, pengurangan frelwensi penerbangan China-Eropa menyebabkan kapasitas ruang cargo angkuitan udara turun 60%, semenara kapasitas untuk rute China-AS berkurang 80%. Padahal, jumlah pesawat khusus cargo (freighter) tidak cukup memadai untuk mengatasi hal tersebut.

Forbes juga melaporkan tarif kargo udara naik sangat tajam, naik dua sampai tiga kali dari tariff tahun lalu. Transit time juga jauh lebih lama, hingga tiga kali lipat dibanding tahun lalu.

Pada sisi lain, menyusul banyak pabrik di China tutup pada awal merebaknya covid-19, pengiriman dari China turun sangat drastis. Hal ini mendorong perusahaan pelayaran menangguhkan sejumlah pelayaran. Pelayaran mengurangi kapasitasnya.

“Dan dengan masifnya pengurangan penerbangan, situasinya semakin serius. Ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya,” kata David Smrkovsky, mantan General Manager HP dan Foxconn.

“Situasi saat ini sangat tidak balanced, tidak menentu. Industri pelayaran kontener benar-benar dalam situasi hancur berantakan,” lanjut David.

Dan ketika saat ini China sudah mulai berangsur normal dengan mulai beroperasi kembalinya pabrik-pabrik di negara tersebut, masalah gelombang kedua terjadi lebih dasyat. Negara-negara Amerika, Eropa, dan negara-negara lain di belahan bumi ini melakukan kebijakan lockdown. Efeknya adalah permintaan produk-produk dari China turun drastis. Penerbangan antara negara ditutup. Perusahaan pelayaran melakukan penangguhan pelayaran (blank sailing) lebih masif lagi.

General Manager Timex Industrial Investment Carlos Santana memprediksi dalam beberapa bulan ke depan, pelabuhan-pelabuhan di Eropa akan beroperasi dengan kapasitas yang sangat rendah, berkisar antara 20-30%. Ini tentu mematikan layanan kapal-kapal kontener besar.

Pandemi covid-19 juga mematikan usaha truking. Dengan pengetatan pemeriksaan terhadap sopir-sopir truk, terutsama pada lintas batas negara-negara di Eropa, aktivitas bisnis truk sangat jauh berkurang, kalaua tidak mau dibilang berhenti total.

Moda transportasi barang yang hingga saat ini masih berjalan normal adalah angkutan kereta api. Dari awal merebaknya virus corona hingga saat ini, layanan kereta kontener Europa-China, termasuk yang dari Wuhan, masih berjalan normal. Bagi pemilik barang, ini tentu menjadi solusi. Di samping harganya yang jauh lebih murah dari kargo udara serta transit time yang lebih singkat dibanding lewat laut, tingkat kepastiannya juga jauh lebih baik.

Pada situasi normal saja, biaya pengiriman lewat jaringan kereta Asia-Eropa ini depalan kali lebih murah dibanding tariff lewat udara, padahal dari sisi waktu hanya lebih lama satu minggu.

Dalam situasi seperti ini, menurut para pengamat, sangatlah masuk akal jika layanan kereta api yang menghubungkan Asia dan Eropa lagi naik daun, lagi menjadi primadona dan pilihan pemilik barang dalam mengirimkan kargonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *