Soft launching pengoperasian Pelabuhan Patimban direncanakan pada medio November 2020 mendatang. Pelabuhan yang diarsiteki oleh Konsorsium Penta-Rinkai-TOA-PP-WIKA hampir merampungkan proyek pekerjaan untuk di tahap awal. Di samping fasilitas dan infrastruktur pelabuhan yang modern, akses di sisi darat yakni jalan tol dan jalur kereta api akan terkoneksi langsung.
Infrstruktur dan fasilitas-fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadikan kawasan Pelabuhan Patimban ini menjadi kawasan logistik besar. Bahkan, seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi), Patimban akan menjadi “Hub” Besar Produksi Otomotif dan menjadi Pelabuhan terbesar di Indonesia tahun 2027.
Pembangunan Pelabuhan Patimban sendiri dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama, Pelabuhan Patimban direncanakan akan dapat melayani 3.75 juta TEUS peti kemas (TEUS). Kemudian, pada tahap kedua, kapasitas pelayanan akan meningkat menjadi 5.5 Juta TEUS dan pada tahap ketiga akan meningkat kembali hingga 7 juta TEUS (ultimate).
Pelabuhan Patimban akan melayani jenis muatan peti kemas dan kendaraan bermotor alias car terminal yang diangkut menggunakan kapal-kapal berukuran besar. Car Terminal ini nantinya memiliki kapasitas tampung hingga 600 ribu kendaraan per tahun apabila pembangunan sudah selesai hingga di tahap ketiga.

Dengan pengalamannya saat ini, IKT, anak usaha IPC, juga sedang lirik Patimban
Pelabuhan ini diharapkan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas khususnya untuk ekspor-impor produk kendaraan di Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini, kendaraan berat termasuk angkutan ekspor-impor kendaraan menyumbang pada kemacetan lalu lintas khususnya ruas antara Bekasi dan Tanjung Priok.
Beberapa pekerjaan masih dalam tahap finalisasi. Mulai dari ramp on dan ramp off dari jalan akses, penetapan alur pelayaran, perairan pandu dan pemilihan operator.
Pelabuhan Patimban memberikan peluang besar bagi IPC Group (PT.IKT, PT.JAI dan PT.IPC TPK) untuk bermitra sebagai operator disana.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan kemungkinan Astra dan Mitsubishi untuk bermitra dengan PT Pelindo II mengelola Pelabuhan Patimban. “Nanti ada apakah Astra atau Mitsubishi,” katanya.

Astra, salah satu peminat serius
Astra dan Mitsubishi memiliki kesempatan paling besar terpilih menjadi mitra PT Pelindo II, mengingat Pelabuhan Patimban dibangun dengan dana pinjaman dari Jepang (gaikindo.or.id, 2016).
IPC Group memiliki keunggulan komparatif dibanding operator lainnya dari peralatan, soft skill, experience dan corporate culture. IPC Group juga selama ini telah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan Jepang mengelola pelabuhan, termasuk PT New Priok Container Terminal One (NPCT1). Dalam pengelolaan NPCT1 di Tanjung Priok, IPC bermitra dengan Mitsui Co Ltd dan Nippon Yusen Kabushiki Kaisa ( NYK Line), selain dengan PSA International, Singapura.

Dengan pengalamannya di Palaran Kalimantan, Samudera Indonesia menjadi Calon potensial
Operator lainnya yang juga akan meramaikan tender operator yaitu PT. Samudera Indonesia, Astra dan Mitsubishi. Kita tunggu gadis cantik bernama Patimban itu jatuh ketangan pria mana, IPC Groupkah, Samudera Indonesia, Astra atau Mitsubihi.

Harijanto, Penulis merupakan Direktur Eksekutif HMPM

