Pelabuhan Teluk Tapang dan Efisiensi Distribusi CPO Sumbar

Menurut data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementrian Pertanian, Propinsi Sumatera Barat merupakan propinsi dengan kontribusi produksi kelapa sawit dan Crude Palm Oil (CPO) tertinggi dibanding propinsi lain di Indonesia. Pada periode tahun 2015-2019, pertumbuhan produk CPO di propinsi ini naik sebesar 10,13%.

Hal senada juga disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut data BPS nilai ekspor kumulatif CPO dari Sumbar pada Januari-Mei 2019 mencapai 505,00 juta dolar. Nilai ini turun sebesar 24,04 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sebenarnya, produksi CPO di Sumatra Barat tidak mengalami penurunan, tetapi sebagian produksi CPO dialihkan ke daerah lain untuk konsumsi di dalam negeri. Pengalihan tersebut untuk kebutuhan bahan pembuatan B20, yaitu pencampuran 20 persen biodiesel dengan 80 persen bahan bakar minyak solar. Kebijakan B20 yang dikeluarkan pemerintah bertujuan untuk mengurangi emisi GRK (gas rumah kaca) sebesar 29% dari BAU (business as usual) pada 2030, stabilisasi harga CPO, meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi industri kelapa sawit, mengurangi konsumsi dan impor BBM dan memperbaiki defisit neraca perdagangan.

Pelabuhan Teluk Bayur sebagai pelabuhan utama di Provinsi Sumatra Barat dapat berperan sebagai sentra dari pendistribusian CPO baik untuk ekspor maupun untuk pasokan dalam negeri untuk bahan pembuatan B20 di wilayah Sumatra Barat.

Rencana pelabuhan Teluk Bayur meningkatkan volume ekspor CPO dari 3 juta ton per tahun menjadi 5 juta ton dengan menambah kapasitas tangki timbun adalah langkah strategis yang sangat bagus, selain nantinya pelabuhan Teluk Bayur menjadi sentra dari pendistribusian CPO baik untuk komoditas ekspor maupun untuk komoditas pasokan dalam negeri di wilayah Sumatra Barat juga dapat bersaing dengan Pelabuhan Dumai (Propinsi Riau) dan Belawan (Propinsi Sumatera Utara) yang saat ini menjadi market leader ekspor CPO di Indonesia.

Tahun 2019 Pelabuhan Dumai mampu mengekspor CPO sebanyak 4,7 juta ton dan Pelabuhan Belawan 3,2 juta ton. Kedua pelabuhan ini memiliki fasilitas curah cair yang cukup lengkap dan memadai antara lain pipa terpadu di dermaga yang menghubungkan dengan ratusan tanki timbun CPO dengan 84 jalur pipa, 6 loading point tanki CPO kapastitas 3.000 metrik ton dengan loading point mampu memompa 500 ton per jam.

Terkait dengan rencana Pelabuhan Teluk Bayur meningkatkan volume ekspor CPO, keberadaan Pelabuhan Teluk Tapang dinilai efektif untuk dapat menopang pelabuhan Teluk Bayur dalam mewujudkan rencana tersebut. Dimana hasil bumi dari Pasaman Barat seperti CPO (crude palm oil) dapat langsung dibawa melalui pelabuhan tersebut. Karena selama ini CPO dibawa dari Pasaman ke pelabuhan Teluk Bayur menggunakan truck besar dengan jarak tempuh lebih dari 140 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 5 jam dengan biaya Rp.200 ribu per ton, sedangkan jika menggunakan pelabuhan Teluk Tapang maka biaya transportasi menjadi lebih murah yaitu Rp.100 ribu per ton atau berkurang 50 persen.

Penghematan biaya pengangkutan tersebut akan merangsang dunia usaha CPO untuk lebih meningkatkan produksinya karena selain murah dan cepat juga keuntungan dari pengusaha CPO lebih besar lagi. Selain dari pada itu, dengan beralihnya moda transportasi pengangkutan tersebut akan mengurangi beban jalan yang selama ini terbebani oleh truck-truck besar pengangkut CPO dan tentunya akan memperpendek usia dan ketahanan kondisi jalan.

Dengan beroperasinya pelabuhan Teluk Tapang ini selain nantinya akan membuat arus barang khususnya CPO akan lebih lancar tanpa membebani arus kendaraan melalui jalan raya sehingga pemerintah akan lebih hemat didalam pemeliharaan dan perawatan jalan juga biaya logistik akan lebih efisien.

Kabupaten Pasaman Barat memiliki potensi dibidang perkebunan kelapa sawit dengan luas tanam 101.402 hektare, sekitar 77.000 hektare merupakan perkebunan inti dan plasma sedangkan sisanya adalah perkebunan rakyat, dengan kapasitas berproduksi 330.881 ton pertahun.

Dari 102.000 hektare kebun sawit di Pasaman Barat, 62% berada di Kecamatan Pasaman. Produksi kelapa sawit dapat dipanen hingga sebulan dua kali diolah menjadi minyak sawit mentah (CPO) oleh pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas produksi 200 hingga 400 ton CPO per jam dari 5 PKS (pabrik kelapa sawit). Setelah diolah setengah jadi menjadi CPO, hasilnya dibawa ke Kota Padang untuk diolah menjadi minyak goreng dan sebagiannya diekspor.

Dalam kaitannya dengan itu, berdasarkan potensi industri CPO serta untuk menumbuhkan minat investasi di Provinsi Sumatera Barat, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi berencana membangun aksesibilitas dan konektivitasnya yakni berupa pembukaan jalan ke Pelabuhan Teluk Tapang – Bunga Tanjung serta melaksanakan percepatan pembangunan dan operasionalisasi pelabuhan pengumpan regional Teluk Tapang.

Pembangunan kedua infrastruktur ini yakni jalan akses dan pelabuhan sudah masuk dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) tahun 2020-2024. Pembangunan akses jalan pelabuhan Teluk Tapang – Bunga Tanjung ditargetkan selesai dalam waktu 4 tahun termasuk pembangunan fasilitas pelabuhan seperti kantor dan lainnya.

Harijanto
Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *