Pelajaran dari Terminal Teluk Lamong dalam Bangun Green Port

Saat ini pelabuhan multipurpose manakah yang terbaik diseluruh Indonesia. Terbayang dipikiran kita dan secara spontan akan mengatakan “Pelabuhan Tanjung Priok .. Pelabuhan Tanjung Perak”. Ternyata jawaban semuanya itu salah .. loh kok bisa?

Kemenko bidang Kemaritiman menilai tata kelola Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta masih tertinggal dengan Terminal Teluk Lamong di Jawa Timur. Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agung Kuswandono menyatakan model bisnis dan teknologi informasi (IT) di pelabuhan terbesar di Indonesia masih ketinggalan ketimbang Teluk lamong. (Supply Chain Indonesia 24/11/2016)

Lanjutnya, “Kalau mau jujur model bisnis dan IT di Pelabuhan Priok ini masih jauh tertinggal ketimbang di Teluk Lamong,” ujarnya saat membuka Rapat Umum Anggota (RUA) III & Seminar Nasional Kepelabuhan Dewan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta. Agung juga menilai layanan kepelabuhan di Teluk Lamong sudah menggunakan teknologi tercanggih sehingga tidak memerlukan banyak SDM yang terlibat.

Senada dengan itu, Staf Ahli Menteri Bidang Logistik, Multimoda dan Keselamatan Perhubungan Kementerian Perhubungan Cris Kuntadi mengatakan bahwa Teluk Lamong dapat menjadi acuan karena PT Terminal Teluk Lamong mengelola dampak lingkungan secara efektif melalui upaya pencegahan pencemaran, konservasi air, konservasi energi dan berkontribusi dalam konservasi keanekaragaman hayati.  Pelabuhan Teluk Lamong di Surabaya dinilai bisa menjadi contoh pembangunan pelabuhan hijau di Indonesia karena memiliki konsep ramah lingkungan dan berteknologi semiotomatis pertama di Indonesia. (Bisnis.com 03/09/2019)

Perlu diketahui, TTL dibangun pada akhir tahun 2010. Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 2014. TTL merupakan terminal berkonsep ramah lingkungan dan berteknologi semi-otomatis pertama di Indonesia. TTL memiliki 2 dermaga yaitu dermaga petikemas sepanjang 500 meter dan dermaga curah kering sepanjang 250 meter. TTL memiliki 4 (empat) tahap pembangunan dan pada tahun 2017 sedang berada pada tahap kedua. Dermaga curah kering yang kini mulai dioperasikan memiliki panjang 250 meter dan lebar 80 meter. Luasan tersebut akan diperpanjang menjadi 500 meter pada pembangunan tahap berikutnya. Kedalaman dermaga curah kering Terminal Teluk Lamong mencapai -14 LWS (14 meter) sehingga dapat menampung kapal berjenis Panamax berkapasitas 50.000-80.000 DWT (Dead Weight Ton).

TTL tampil sebagai terminal ramah lingkungan karena seluruh kegiatan pelayanan di Terminal menggunakan energi ramah lingkungan. Peralatan yang digunakan di TTL berbahan bakar listrik dan gas, antara lain :
1. Truk berbahan bakar CNG (Compressed Natrium Gas)
2. Automated Stacking Crane (ASC), kelebihan alat ASC ini antara lain zero accident dan tidak ada lagi pungli.
3. Ship to Shore (STS). TTL memiliki 10 STS di dermaga untuk melayani kapal domestik dan internasional. Kemampuan angkat STS adalah 35 box/jam, dan berkemampuan twin lift (mampu mengangkat 2×20 feet sekaligus ). STS TTL bertenaga listrik sehingga mendukung TTL untuk melakukan kegiatan ramah lingkungan.
4. Combined Terminal Tractor (CTT) dan Docking System. CTT merupakan truk otomasi yang digunakan untuk mengangkut petikemas dari dan ke kapal. CTT memiliki sensor yang dapat menangkap sinyal secara cepat tanpa pengemudi. Chasis truk CTT bersifat hidrolis sehingga mudah untuk meletakkan petikemas di docking system. Docking system merupakan fasilitas baru dipelabuhan dan TTL adalah satu-satunya terminal di dunia yang memiliki alat tersebut. Fasilitas docking mempermudah dan mempercepat peletakan petikemas ke lapangan penumpukan. Alat penumpukan atau Crane di CY (Container Yard) bertenaga listrik dan semi-otomatis. ASC memiliki kecepatan 2,7 x lebih cepat dari Rubber Tyred Gantry (RTG) di terminal konvensional. Pada pergerakan di CY, ASC bergerak dan melakukan lift on dan lift off secara sistem. Tanpa dioperasikan oleh manusia. Sedangkan pada area receiving & delivery, ASC digerakkan oleh operator yang berada di atas tower menggunakan komputer dan stick penggerak berdasarkan layar monitor. Kecepatan dan ketepatan pelayanan dapat dilakukan karena ASC dapat melakukan perpindahan petikemas secara otomatis melalui sistem.

5. Grab Ship Unloader (GSU). TTL memiliki 2 unit GSU yang digunakan untuk melakukan bongkar curah kering. Pada pelayanan curah kering, TTL sebagai terminal ramah lingkungan hanya melayani komoditi food dan feed grain. GSU berkapasitas 2000 ton/ jam dan menggunakan tenaga listrik.

6. Conveyor. Conveyor mempermudah kecepatan dan ketepatan pelayanan curah kering TTL. Conveyor akan membawa dan melakukan penumpukan curah kering secara otomatis dari kapal ke gudang. Setelah melalui conveyor, muatan yang dibongkar akan langsung menuju cylo atau gudang penyimpanan. Kapasitas gudang penyimpanan di lahan curah kering Terminal Teluk Lamong yaitu 120.000 ton, sedangkan cylo berkapasitas 80.000 ton sehingga kapasitas gudang penumpukan adalah 200.000 ton.

7. PLTMG. Pada tahun 2016, TTL mendirikan anak perusahaan pertama bernama PT Lamong Energi Indonesia (LEI) bergerak dibidang Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG). PT LEI dibangun untuk memenuhi pasokan listrik TTL. Saat ini TTL memiliki 2 mesin PLTMG dengan kapasitas masing-masing 3,3 MW dan akan diperbesar seiring dengan perkembangan bisnis TTL.

PT Terminal Teluk Lamong adalah Terminal operator yang mengedepankan pelayanan dengan fasilitas yang berteknologi tinggi dengan mengu­sung konsep “The First Green Port in Indonesia”. Setidaknya dibutuhkan waktu 17 tahun untuk memba­ngun pelabuhan yang bertaraf internasional tersebut. Sete­lah melalui proses perencanaan terukur dan kajian, akhirnya pembangunan tahap pertama sejak 1997 dapat rampungkan. Pada 22 Mei 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan Terminal Teluk Lamong sekaligus meninjau penyelesaian proyek revitalisasi APBS (Alur Pelayaran Barat Surabaya).

Presiden Jokowi menegaskan bahwa terminal multipurpose yang bergerak dalam bidang jasa peti kemas dan curah kering itu merupakan bagian dari tol laut. Didukung revitalisasi APBS, peluang masuknya kapal-kapal niaga 80 ribu DWT menjadilebih besar. Apalagi, alur setempat sudah didukung kedalam­an -14 mlws dan lebar 150 meter. Pengelolaan pelabuhan terus dikembangkan dan terintegrasi dengan kawasan industri. Alur pelayaran yang berkonsep ramah lingkungan tersebut diyakini menekan biaya logistik menjadi lebih efisien. Sekarang dibuka akses pelayaran langsung ke berbagai negara. Dengan begitu, distribusi barang ekspor-impor menjadi semakin lancar, cepat, dan aman. Keuntungannya, produk-produk di dalam negeri lebih kompetitif dan terjangkau masyarakat. Iklim investasi pun mendorong pemerataan pertumbuhan di seluruh wilayah tanah air.

Hadirnya dan beroperasinya Terminal Teluk Lamong sebagai terminal operator yang mengusung teknologi tinggi dan ramah lingkungan memberikan banyak kemajuan terhadap pengelolaan pelabuhan di Indonesia.
Terminal Teluk Lamong yang dirancang selama 17 tahun dan kini hadir sebagai pelabuhan dengan peralatan semi otomatis dan ramah lingkungan dengan menerapkan konsep green port adalah pelabuhan yang pertama di Indonesia menyusul pelabuhan lainnya didunia antara lain Belanda (Rotterdam), USA (Los Angeles), Jerman (Hamburg), Malaysia dan Singapura dalam penerapan green port.

 

Harijanto – Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *