Program Direct Call Perlu Dievaluasi Ulang

Lima tahun sudah Direct Call dirintis oleh Pelindo IV. Dan sampai saat ini direct call masih menjadi angin segar, baik oleh Pelindo IV dan para eksportir disana. Bahwa dengan direct call pengangkutan komoditi ekpor dari daerah Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku dan Papua dapat langsung ke negara tujuan. Dan dengan direct call dapat mempersingkat waktu pengiriman.

Kita semua tahu bahwa tiga pelabuhan besar di Indonesia seperti Pelabuhan II, Pelabuhan III dan Pelabuhan I telah memulai dan menjalankan kegiatan ekpor impor sudah cukup lama, sedangkan Pelabuhan IV yang letak geografisnya di timur Indonesia sampai saat ini belum dapat melaksanakan kegiatan ekpor impor seperti ketiga pelabuhan besar tersebut.

Keinginan membangun kawasan Indonesia Timur agar dapat sejajar dengan pelabuhan besar lainnya dalam kegiatan ekpor impor adalah merupakan tekad dari Pelabuhan IV untuk dapat mewujudkannya. Putra daerah asal Sulawesi Selatan pun turun tangan untuk men-support rencana tersebut. Di awal kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dimana Yusuf Kalla sebagai Wakil Presiden, menyempatkan waktu untuk mengumpulkan seluruh pengusaha dan pelaku bisnis di Makasar agar mendukung program direct call tersebut.

Pada Desember 2015, Pelabuhan IV secara resmi membuka jalur pelayaran langsung internasional (direct call) dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ada dua rute yang menjadi pioneer yakni Makassar – Hongkong dan Makassar – Dilli (Timor Leste). Bekerja sama dengan perusahaan pelayaran internasional asal Hong Kong, SITC Container Lines Co.Ltd, sejumlah produk dari Makassar dan sekitarnya bisa diekspor langsung ke berbagai negara di Asia, seperti China, Korea, Thailand, dan Jepang.

Dan Makassar menjadi hub bagi barang-barang yang dikapalkan melalui Pelabuhan Bitung, Balikpapan, Ambon, dan Jayapura. Baru satu tahun berjalan, call dari Pelabuhan Bitung Sulawesi Utara ditutup. Padahal Pelabuhan Bitung pelabuhan peti kemas dan dijadikannya sebagai gerbang timur pelabuhan internasional Indonesia. Dan bahkan direct call Pelabuhan Makassar terancam ditutup tahun 2016. Faktor penyebabnya adalah biaya pengiriman yang tergolong mahal, proses administrasi perizinan sulit, pemeriksaan barang dan ketentuan ekspor lainnya juga disebut menyulitkan pengusaha logistik, itu kesulitan dari sisi pengusaha.

Dari sisi perusahaan pelayaran, masalah yang paling mendasar adalah ketersediaan muatan di pelabuhan Makasar dan muatan balik ke pelabuhan Makasar. Kedua sisi masalah tersebut yang membuat program direct call berjalan tidak sesuai harapan.

Perlu diketahui bahwa Direct Call dalam bisnis pelayaran adalah dimana kapal membawa muatan dari satu tempat ke tempat tujuan muatan tersebut secara langsung, tanpa singgah di pelabuan lain.

Sementara direct call yang dilaksanakan Pelabuhan IV tidak sepenuhnya langsung ke pelabuhan destinasi melainkan singgah terlebih dahulu di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta serta sejumlah pelabuhan lainnya di Asia Tenggara, sehingga durasi pengiriman komoditas ekspor relatif tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan sebelumnya.

Dengan kondisi direct call yang demikian, para pengusaha logistik di Sulawesi Selatan lebih memilih mengekspor barangnya melalui pelabuhan lain, seperti Jakarta dan Surabaya.

Tidak semua pelabuhan dapat melaksanakan direct call karena hal ini terkait dengan ketersediaan muatan terutama muatan balik. Di Eropa hanya ada beberapa pelabuhan yang menjadi pusat ekpor impor antara lain Pelabuhan Rotterdam, Antwerp dan Hamburg. Jadi apabila negara di eropa lainnya ingin melakukan ekpor impor, mereka akan menggunakan pelabuhan-pelabuhan tersebut.

Pelabuhan Tanjung Priok pernah mencoba direct call di tahun 2017 dengan menghadirkan kapal-kapal milik perusahaan pelayaran Perancis, Compagnie Maritime d’Affretement – Compagnie Generali Maritime (CMA-CGM), seperti MV CMA-CGM Tancredi kapasitas 8.721 TEUs dan MV CMA-CGM Titus dengan kapasitas muatan 8.500 teus serta MV CMA CGM Otello kapasitas muatan 1.551 TEUs, juga tidak berhasil.

Pelabuhan II melalui PT. JICT bahkan sudah bekerjasama dengan CMA-CGM dengan membuka layanan baru, yakni dengan nama Java South East Asia Express Services/ Java SEA Express Services/ JAX Services. Service dengan jadwal satu kali setiap minggu ini akan melayani rute Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat. Rute ini yang sejatinya adalah rute langsung dari Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast juga pada kenyataannya mampir dulu di Pelabuhan Laem Chabang, Thailand.

Program Direct call Pelabuhan Tanjung Priok ke West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat hanya berjalan dan bertahan sampai tiga kali muatan, selanjutnya program direct call ini tak terdengar lagi dan hilang begitu saja, dikarenakan ketersediaan muatan dan muatan balik yang memang tidak memadai.

Volume Rendah, Feeder lebih Efisien

Program direct call di Pelabuhan IV dapat berjalan dengan baik bilamana adanya relokasi industri ke wilayah Infonesia Timur karena tanpa relokasi industri, program direct call tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Sebagaimana diketahui bahwa wilayah-wilayah Indonesia timur berlimpah komoditi bahan baku yang mana untuk memenuhi kriteria ekspor, bahan baku tersebut harus diolah menjadi barang setengah jadi (ketentuan ekspor Indonesia). Pengolahan barang setengah jadi tersebut dilakukan oleh industri dan industri pengolahan tersebut adanya di Surabaya atau Jakarta.

Program direct call yang saat ini terus digalakkan oleh Pelabuhan IV dengan pelayaran asing sebaiknya dikaji kembali. Masih lebih baik apabila pengiriman ekspor dengan memanfaatkan kapal pengumpan atau feeder milik operator domestik (berbendera merah putih) akan lebih mampu mengatrol performa dan efesiensi logistik dalam pengiriman muatan ke Tanjung Perak atau Tanjung Priok untuk kemudian langsung dikirim ke negara tujuan, dibandingkan dengan skim direct call seperti saat ini.

Skim direct call yang multi-port seperti yang dilakukan oleh SITC, akan mematahkan semangat industri pelayaran nasional yang sedang giat dengan program beyond cabotage. Perlahan namun pasti, pelayaran nasional akan mati ditelan startegi bisnis perusahaan pelayaran asing bilamana program direct call terus digalakkan di Indonesia.

Harijanto, Direktur Eksekutif HMPM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *